jump to navigation

Teknokrat Penggebrak, Pengawal Ekonomi Orde Baru Juli 26, 2013

Posted by Dadi Krismatono in Buku.
Tags: , , ,
trackback

JBSumarlinCOVER

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Judul:  J.B. Sumarlin: Cabe Rawit yang Lahir di Sawah

Penulis: Bondan Winarno

Penerbit: Penerbit Buku Kompas

Terbit: Januari, 2013 (ISBN: 978-979-709-681-6)

Halaman: 346 (termasuk Indeks) + xiii

 

Johannes Baptista (J.B.) Sumarlin adalah salah satu pilar penyangga Orde Baru. Berawal dari karyawan yang kuliah sore, Sumarlin menapaki karir akademis di Universitas Indonesia hingga ke jenjang tertingginya sebagai guru besar. Bersama sejumlah dosen UI yang kuliah di California atas biaya Ford Foundation pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an, ia ditabalkan sebagai “mafia Berkeley”. Cukup berani menyenggol isu sensitif “Trio Kristen” di seputar Pak Harto, sayang buku ini tak mengelaborasi kontestasi politik teknokrat vs. teknolog pada era 1990-an.   

Buku ini dibuka dengan paparan setting yang cermat namun tetap enak dibaca. Sumarlin lahir dengan nama Katoebin, singkatan akad-akad metu ning sabin yang artinya hari Ahad lahir di sawah. Katoebin bayi tak sabar mbrojol ketika ibunya masih bekerja di sawah. Karena sakit-sakitan, kakeknya yang kejawen mengubah namanya menjadi Sumarlin. Mengapa Sumarlin? Karena kakak lelakinya bernama Soemarlan.

Persitwa Sumarlin memeluk iman Katolik digambarkan dengan jernih. Selama sembilan tahun Sumarlin tinggal bersama pamannya yang Katolik. Dalam budaya Jawa, ikut pada kerabat yang lebih mapan secara ekonomi disebut ngenger. Namun keadaan itu tidak membuatnya tertarik pada agama tersebut. Baru ketika di Jogjakarta, ketika Sumarlin ikut bergerilya bersama Tentara Pelajar dan mengalami beberapa kali “penyelamatan”, barulah ia merenungi jalan hidup yang membawanya pada kemantapan untuk dipermandikan dan menerima nama baptis Johannes Baptista.

Buku ini ditulis oleh Bondan Winarno, wartawan kawakan yang kini, dalam bahasanya sendiri, tersesat di jalan kuliner. Kedekatan Bondan dengan Sumarlin diawali pada persiapan partisipasi Indonesia di Expo 1986 di Vancouver, BC, Canada. Lewat buku ini pula kita bisa tahu bahwa perjalanan perahu tradisional Phinisi Nusantara yang mengharu-biru bangsa waktu itu, adalah sebuah public relations stunt yang dengan ciamik dirancang oleh keduanya.

Gaya jurnalisme dan pilihan kata Bondan yang efektif menghindarkan buku ini menjadi buku biografi “motivasi” dan “inspirasi” yang kini membanjiri pasar. Bahkan buku ini berhasil mengajak pembacanya melihat kembali kebijakan Orde Baru—seperti devaluasi, dibubarkannya IGGI hingga deregulasi sektor perbankan—serta jalin-kelindan masalah di balik kebijakan itu.

 

Teknokrat vs. Teknolog?

Hidup Sumarlin memang diabdikan untuk Indonesia. Dalam konteks yang lebih sempit, untuk berjalannya kebijakan Orde Baru. Sejak meneteskan air mata ketika diminta Presiden Soeharto menjadi menteri pendayagunaan aparatur negara pada Maret 1973, namanya identik dengan “gebrakan” kebijakan yang berani mengguncang status quo. Sumarlin bahkan berani mengusik Ibnu Soetowo yang waktu itu dianggap setengah dewa karena kedekatannya dengan Pak Harto.

Walau cukup berani menyentil isu sensitif, seperti sinyalemen “Trio Kristen” di sekeliling Pak Harto, namun buku ini tidak membahas pergesekan dan kontestasi politik teknokrat vs teknolog yang mewarnai politik 1990-an. Hanya ada satu pernyataan, yaitu ketika Sumarlin tidak diangkat sebagai menteri koordinator ekonomi, keuangan dan industri (menko ekuin) setelah menjabat sebagai menteri keuangan saat penyusunan Kabinet Pembangunan V pada Maret 1993. Keterputusan ini tidak lazim karena paling tidak telah tiga kali berturut-turut, menteri keuangan selalu dipromosi menjadi menko ekuin, yaitu Widjojo Nitisastro, Ali Wadrhana dan Radius Prawiro. Sumarlin menyatakan bahwa Pak Harto sudah berubah dan berbagai tekanan politis dari kubu tertentu ikut mempengaruhi perubahan sikap dan cara berpikir Pak Harto.

Jika saja Sumarlin, atau Bondan, mau dan berani mengelaborasi perang politik teknokrat vs. teknolog pada waktu itu, pembaca akan mendapat pengayaan perspektif dalam melihat sepenggal sejarah Indonesia. Sebagai murid Widjojo, Sumarlin perlu menjawab tantangan yang diajukan kepada “Widjojonomics” oleh para pendukung “Habibenomics”. Bukan untuk menjadikan buku ini sebagai ajang vendetta, namun catatan berimbang akan bermanfaat bagi generasi berikutnya untuk mengkaji pilihan-pilihan paradigma dan kebijakan ekonomi yang pernah diambil bangsa ini.

* * *

Pembahasan beberapa kasus bisnis, seperti Bank Summa, Golden Key Group yang memopulerkan Edy Tansil, hingga Bank Bali, sangat membantu pembaca dalam memahami perjalanan kebijakan Orde Baru. Ada satu ketidakakuratan yang menggangu mengenai Bank Bali. Dalam buku ini disebutkan bahwa bersama sembilan bank rekapitalisasi lainnya, Bank Bali digabung menjadi Bank Danamon (h. 312). Yang benar, Bank Bali bersama empat bank lainnya melakukan merger dan kemudian berubah nama menjadi Bank Permata.

Dengan jumlah halaman yang relatif ringkas untuk sebuah biografi, buku ini cukup komprehensif menggambarkan perjalanan seorang Sumarlin.

Penutup buku ini terasa agak berbunga-bunga namun menjadi wajar karena buku yang semula ditulis tanpa tenggat ini akhirnya dijadikan hadiah ulang tahun Sumarlin ke-80. Selain sebagai biografi yang jernih, buku ini juga dapat digunakan untuk menilik kembali konteks dari berbagai pilihan kebijakan Orde Baru. Diskusi di kelas sejarah ekonomi Indonesia, misalnya, dapat menjadi lebih bernas dengan merujuk buku ini.

Komentar»

1. Nugroho Setiatmadji - Juli 26, 2013

Menarik. Terima kasih untuk berbagi informasi bersejarah ini


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: