jump to navigation

Membaca Dunia Obama Maret 11, 2013

Posted by Dadi Krismatono in Buku.
Tags: , , , ,
trackback

(Ini adalah resensi saya yang dimuat di Media Indonesia, Minggu, 10 Maret 2013).

MediaObamaMIDRES3

Figur Presiden AS ini seperti tak habis untuk dikupas. Dia memang agak berbeda dari para pendahulunya dalam menangani berbagai permasalahan dunia di tengah-tengah kekhawatiran kemerosotan Amerika.

Dunia berubah cepat. Ada yang memprediksi kepemimpinan global Amerika Serikat (AS), jika tidak dikelola dengan baik, akan berpindah tangan. Jika ramalan itu benar, posisi AS baik secara politik maupun ekonomi akan terancam.

Ditengah-tengah dinamisasi dunia yang serbacapat itu, rakyat AS telah menentukan pilihan kepemimpinan negara kepada Barack Hussein Obama untuk melanjutkan periode jabatan kedua, setelah melewati kampanye yang sengit dan perebutan suara yang ketat.

Pemilihan presiden AS yang baru lalu merupakan ujian besar bagi narasi besar bernama ‘Impian Amerika’. Benarkan posisi Obama sebagai orang nomor satu di AS saat ini sudah ditekadkan sejak lama?

Inilah sebuah buku yang mencoba membedah sisi kepemimpinan Obama. Meski terbit pada awal 2012, urgensi buku ini masih sangat terasa mengingat AS saat ini memang sedang menghadapi masa-masa sulit, sekaligus sebagai ujian bagi komitmen Obama mewujudkan American dream tadi.

Waktu buku ini dicetak pertama kali, tak sedikit suara menuduh sebagai kampanye terselubung, paling tidak ekspresi dukungan David Maraniss—penulis—kepada Obama.

Sebelumnya Maraniss menulis biografi Bill Clinton yang mengundang banyak pujian. Kali ini, dua datang dengan sebuah biografi generasional yang ambisius, merentang jauh ke masa sebelum Obama lahir dengan tekad menjelaskan dunia macam apa yang menciptakan Obama seperti dirinya yang sekarang.

‘Impian Amerika’ adalah narasi yang selalu hidup dalam imajinasi sosiologis  Amerika sebagai ‘bangsa’. Pada 2008, Obama berhasil mentransformasi dirinya menjadi contoh hidup impian Amerika. Lewat Obama, Amerika sebagai tanah harapan, tempat keberhasilan dapat dicapai oleh siapa saja yang bekerja keras, mewujud nyata.

Pada Obama, keyakinan bahwa “semua orang dicpitakan sama” seperti tercantum dalam Deklarasi Kemerdekaan menjadi bernyawa. Sebab, dialah presiden pertama AS yang berkulit hitam.

Dalam konteks sosio-politik itulah buku ini hadir. Penulisnyayang juga redaktur The Washington Post dan anggota Society of American Historians mencoba menelisik sisi-sisi Obama secara objektif dibalut semangat ‘impian Amerika’ itu.

Dalam buku ini Maraniss mencoba berjarak dengan fenomena Obama hari ini dan memilih untuk menjelaskan faktor-faktor ruang dan waktu yang menciptakan Obama, jauh sebelum presiden AS keturunan salas satu suku di Kenya, Afrika, itu lahir.

Maraniss melukis di kanvas besar suatu galaksi kaotis, betapa hidup ialah jalin-kelindan sejumlah insiden, kesempatan dan kegigihan tekad. Maraniss berusaha keras menemukan dan mengurai, dalam beberapa kesempatan membuktikan serta menjustifikasi, keterhubungan orang, peristiwa dan situasi dengan perjalanan hidup dan cara Obama menyikapi dunianya.

Cerita dan Justifikasi

Buku ini menyajikan keluasan riset yang mengagumkan. Maraniss mencari pertautan peristiwa sejak 1920-an, baik dari sisi Amerika maupun sisi Afrika pendahulu Obama.

Pada bagian awal, bab mengenai Amerika dan Afrika silih berganti menjelaskan berbagai situasi lokal dan dunia yang—menurut penulisnya—dapat menjadi penjelas dari peristiwa atau pemikiran yang muncul berikutnya. Tidak dapat dipungkiri pada beberapa bagian Maraniss berusaha keras menggali unsur naratif dan membangun drama dari kehidupan keseharian Obama.

Pilihan Maraniss untuk berpanjang-panjang menceritakan kisah cinta muram antara Obama dan Genevieve Cook yang berjalan seiring dengan kegelisahan pencarian jati diri Obama menyeret alur buku ini menjadi limbung.

Berbeda dengan bagian pasca-Perang Dunia II yang dituturkan Maraniss dengan cekatan. Buku ini berakhir ketika Obama akan berangkat ke Harvard tanpa penjelasan mengapa Maraniss mengakhirinya sampai di situ.

Pada episode kehidupan di New York, Maraniss berhasil menggali fakta baru. Dalam suatu obrolan dengan temannya, Obama pernah mencetuskan pertanyaan, “Apakah aku bisa menjadi presiden AS?”

Mir Mahboob Mahmood dari Pakistan ingat betul peristiwa tersebut. Kala itu Mahmood menjawab, “Ketika Amerika siap menerima presiden berkulit hitam, kau pasti bisa.”

Episode Indonesia

Bagi pembaca Indonesia, penggal kehidupan Obama di Indonesia selalu menggelitik. Maraniss dibantu oleh jurnalis dan biografer Fenty Effendy dalam melakukan riset berhasil menggali beberapa nukilan cerita baru. Misalnya, tentang kisah Obama ketika bersekolah di SD Fransiskus Asisi, Tebet, yang selama ini seolah tenggelam dibanding cerita tentang Obama bersekolah di SD Menteng.

Penggalian tentang kiprah Ann Dunham selama di Indonesia memperkaya buku ini. Pergulatannya dengan status sebagai ekspat dan ‘bule’ digambarkan secara menggelitik justru berhasil menggambarkan situasi Indonesia waktu itu.

Maraniss membuka salah satu bab tentang Indonesia dengan nukilan puisi Amir Hamzah. Inspirasi ini didapatnya ketika mendatangi rumah Obama dan menemukan ada Taman Amir Hamzah yang sebelumnya adalah tanah lapang tempat Obama bermain.

Buku Barack Obama: The Story bisa menjadi bahan diskusi tentang kehidupan privat dan publik. Kapankah hidup privat seseorang, sekalipun itu seorang presiden, dapat ditulis sebagai sejarah publik? Dalam buku ini Maraniss juga  memverifikasi memoar Dreams from My Father yang mengantar kita pada pertanyaan berikutnya, apakah memoar bisa diverifikasi?

Memoar adalah cara seseorang mengingat hidupnya sendiri. Berbeda dengan otobiografi yang berakar pada fakta sejarah, memoar memberi bingkai subyektif dengan cara membatasi dan menentukan apa yang dimasukkan dalam narasi.

Terlepas dari ketepatan metodologisnya, langkah Maraniss memperbincangkan memoar Obama menegaskan bahwa sejarah bukan milik seseorang. Sejarah ada dan hidup karena kita membicarakannya. Sehingga, penulisan sejarah dapat mencapai tujuannya, yaitu agar kita memahami diri lebih baik lagi.

Judul : Barack Obama: The Story

Penulis : David Maraniss

Penerbit : Simon & Schuster (New York), 2012

Halaman : 641 (termasuk indeks) + xxiii

BarackObamaCover

 

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: