jump to navigation

Kata Sakti Tapi Bukan Jampi-jampi April 10, 2012

Posted by Dadi Krismatono in Buku, PR.
Tags: , , ,
trackback

Judul: POWERLINES: Words That Sell Brand, Grip Fans and Sometimes Change History

Penulis: Steve Cone

Penerbit: Bloomberg (NY), 2008

Halaman: 251 + xviii (termasuk Indeks)

Terus terang saya membeli buku ini karena teronggok di keranjang buku diskon pameran buku tahun lalu. Well, Rp 50 ribu untuk buku bisnis? Mengapa tidak? (Terasa ‘kan anehnya terjemahan langsung dari: “Five bucks for a business book? Why not?”).

Lalu, di awal tahun ini saya membuat satu rencana prestisius, yaitu membaca semua buku yang sudah dibeli, sebelum membeli buku lain. Tentu saya membuat reserve, kecuali ada buku yang harus dibeli dan dibaca untuk pekerjaan. Itulah alasan mengapa saya belum membaca biografi Steve Jobs sampai sekarang. Dalam perjalanan ke Hong Kong bulan lalu, saya membawa dua novel, tapi saya cuma berhasil menamatkan “The Other Hand” karya Chris Cleave. Sebuah novel yang kaya dan mengagumkan. Mudah-mudahan saya sempat menulis resensinya lain waktu.

Kembali ke buku Powerlines. Berbeda dengan buku lain yang biasanya diawali dengan penjelasan suatu konsep dan diiringi serentetan contoh untuk menjustifikasi konsep tersebut, Cone memulainya dengan serentetan contoh yang begitu masuk akal. Ketika dia memaparkan beberapa konsep kunci mengapa sebuah kata bisa menjadi powerlines, pembaca sudah mafhum dan menerima.

Powerlines adalah kata-kata bertenaga yang diingat orang jauh setelah kata tersebut terdengar. Powerlines begitu indah dan menggugah. Ada beberapa yang menjadi ikon sejarah. Kekuatan powerlines ada pada kemampuannya memisahkan diri dari jejalan kata dan pesan yang memenuhi ruang komunikasi.

Dalam pemasaran, powerlines adalah “signature” brand yang unik karena brand dan janji yang dikandungnya tak terlupakan. Cone berulang kali menegaskan bahwa brand adalah janji.

Saya mencoba menggambarkan hirarki brand sebagai janji:

Brand = Promise

Good brand = Promise. Delivered.

Great brand = Promise. Delivered. With personality.

Berbeda dengan buku lain tentang “tagline”, “ key messages” atau “brand” sejenis, Cone memberi perhatian pada medium suara (dan bunyi) sebagai elemen penting dalam membuat suatu konsep menancap di pikiran khalayak. Dia juga mengelaborasi kekuatan medium audio-visual (dalam hal ini televisi) sebagai instrumen penting menciptakan powerlines yang hidup.

Cone memaparkan contoh yang luas, yang merefleksikan kedalaman riset yang dilakukannya, mulai dari pepatah, tagline komersial, slogan politik, motto suatu kota (Ngomong-ngomong motto Jakarta apa ya? Bukan motto calon gubernur lho!), hingga jingle iklan. Satu hal yang mungkin agak berat bagi saya orang Indonesia, adalah cukup banyak contoh-contoh tersebut yang “Amerika banget” dan diambil dari Amerika jaman dulu sehingga kita sulit membayangkannya. Namun, sisi positifnya adalah kita bisa memahami konteks sosiologis masyarakat ketika iklan atau produk komunikasi tersebut berkembang, seperti iklan rokok atau promosi rekrutmen tentara Amerika.

Buku ini patut dibaca oleh praktisi periklanan, public relations, dan politisi.

O ya, penasaran powelines apa paling kuat di dunia? Menurut Cone: “I love you”. Universally meaningful. Stands by itself. Creates emotion. Cannot be ignored. Saya tambahkan: life changing. It’s a real powerlines.

Komentar»

2. Iba Nurrachman - Mei 22, 2012

saya gak thu tentang dunia periklanan..cuma klo dinget2..beberapa slogan/iklan yg msh sering terngiang dan melekat seperti: pria punya selera,…bukan basa basi…kita bisa…btw : yg paling sy ingat adalah KOIN adalah CINTA…

Dadi Krismatono - Mei 22, 2012

Hahaha… Tanggal 7 Juni pada pentas tuh di LIP.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: