jump to navigation

In Memoriam: Manthous Maret 9, 2012

Posted by Dadi Krismatono in Uncategorized.
Tags: , , , ,
trackback

Kebetulan hari ini adalah Hari Musik Nasional, yang diambil dari hari lahir penulis lagu kebangsaan Indonesia Raya, W.R. Soepratman. Pada hari ini juga kita mendengar berita duka bahwa maestro campursari Manthous meninggal dunia di Tangerang.

Manthous, yang nama aslinya Anto Sugiarto, telah merubah peta musik Indonesia dengan gamelan campur sari yang diusungnya dari Gunung Kidul, Jogjakarta, sejak  1993.

Manthous memasukan bunyi elektronik (keyboard), khususnya bunyi mirip flute dan organ yang khas, ke dalam lagu Jawa. Jadilah campursari: gamelan dengan distorsi bunyi elektronik. Campursari ini menghasilkan racikan yang berbeda dengan “pop Jawa” yang pernah diusung Mus Mulyadi atau Is Haryanto misalnya.

Belakangan campursari juga memasukan drums sehingga ada struktur birama di dalam musik gamelan. Inilah inti percampuran (crossover) campursari.

Drums, khususnya bass drum, juga masuk ke gamelan wayang kulit. Khususnya untuk memberi efek ketika ada adegan tarung.

Lagu campur sari yang pertama meraih audiens luas adalah “Gethuk” yg dinyanyikan Nur Afni Octavia pada akhir 1980-an karena sering diputar di TVRI.

Tipping point campur sari adalah Didi Kempot. Musik Didi berunsur keroncong dan dangdut dengan struktur yang ngepop. Kerap mengangkat tema cengeng yangg membumi.

Tema lagu-lagu Didi Kempot sangat relevan dengan orang Jawa yg berurbanisasi: kekasih berpisah di terminal, stasiun, pelabuhan yg ikonik, seperti Stasiun Balapan, Terminal Tirtonadi, atau pelabuhan Tanjung Mas.  Konon lagu Terminal Tritonadi lahir dari permintaan “warga” terminal itu, karena tidak mau kalah dengan Stasiun Balapan yang sukses. Yang pasti, tidak ada bandara yang menjadi setting lagu-lagu Didi Kempot.

Puncak masifikasi campursari adalah “Cucakrowo” yang sebenarnya adalah folk song. Waktu saya kecil saya sudah pernah mendengar tentara menyanyikan lagu ini waktu latihan lari bersama.

Malah belok ke Didi Kempot ya? Kembali ke Manthous, jagad musik Indonesia telah berubah karena sumbangsih almarhum. Karena Manthous, lagu gamelan Jawa jadi enak buat anak muda, sedikit rancak, mudah dinyanyikan dengan organ tunggal, bisa buat goyang.

Matur sembah nuwun, Pak Manthous. Sugeng tindak.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: