jump to navigation

Memahami Diri sebagai “Homo Communicator” Februari 28, 2012

Posted by Dadi Krismatono in Buku, PR.
Tags: , , , ,
trackback

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Judul : A History of Communications: Media and Society from the Evolution of Speech to the Internet

Penulis : Marshall T. Poe

Penerbit : Cambridge University Press, 2011

Hal. : xi + 337 (termasuk indeks)

Menderasnya peran Internet memicu munculnya nyanyian kematian pada sejumlah entitas. Eulogi “the dead of newspapers” dan “the dead of books” berulang kali terdengar seiring menderasnya peran Internet dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika e-commerce pertama merebak, seorang penulis pernah membayangkan toko-toko yang sepi dan pasar yang mati sementara di jalan berseliweran mobil-mobil pengantar barang yang dipesan konsumen lewat situs Internet.

Seiring waktu berjalan dan euporia mereda, kita menyaksikan yang sebaliknya. Memang di Amerika ada 105 surat kabar harian yang tutup pada 2009. Namun, tidak ada yang berani menuding bahwa Internet adalah satu-satunya faktor bangkrutnya koran-koran tersebut. Begitu juga dengan buku. Toko buku dan bisnis penerbitan buku tak juga mati, walau ada e-book dan buku digital lainnya.

Ini juga yang dicatat oleh Marshall T. Poe dalam buku ini. Menurut Poe, seperti evolusi dalam aspek-aspek lain, evolusi komunikasi manusia bersifat akumulatif. Pencapaian pada tahap yang baru tidak serta-merta menihilkan apa yang dicapai sebelumnya.

Poe adalah profesor sejarah ekonomi di University of Iowa, AS. Sebelumnya ia banyak menulis sejarah ekonomi Rusia. Dalam menulis sejarah komunikasi ini, Poe melontarkan kritik yang menarik terhadap Marshall McLuhan, mazhab Frankfurt, dan pemikir posmodern yang diledeknya sebagai “Matrixist”, olok-olok yang diambilnya dari film The Matrix.

McLuhan dianggap sebagai dewa kajian media (media studies). Ucapannya “the medium is the messages” telah memicu diskusi di seluruh dunia. Poe mengritik McLuhan karena tidak tuntas menjelaskan premisnya bahwa “media mengakibatkan sesuatu kepada masyarakat dan kehadiran media membawa konsekuensi personal dan sosial”. Poe mempertanyakan apa akibat dan konsekuensi itu, dan tak kunjung mendapat jawaban dari karya-karya McLuhan. Kecenderungan untuk menjelaskan efek media terhadap pikiran dan kehidupan sosial manusia juga dikritik Poe telah menghinggapi mazhab Frankfurt dan posmodernis tanpa memberikan jawaban yang utuh.

Sebagai sejarawan Poe membangun argumentasi empiris yang kuat. Berseberangan dengan McLuhan yang mengatakan bahwa media “mendorong” sesuatu masyarakat, Poe meminjam sejarawan Harold Innis yang mengatakan bahwa media “ditarik” untuk hadir di masyarakat karena permintaan masyarakat itu. Dalam komunikasi, khususnya media, permintaan hadir duluan, baru ada penawaran. Poe juga memperluas pernyataan Inis yang mengatakan bahwa media “mendorong” masyarakat dan ide-ide ke arah yang baru dengan suatu model bahwa Artibut Media mempengaruhi Atribut Jejaringnya dan akhirnya mempengaruhi Praktik Sosial dan Nilai Budaya suatu masyarakat. Dengan model inilah, Poe membedah evolusi komunikasi, mulai dari bicara, tulis, cetak, audio-visual, hingga Internet.

Penjabaran sejarah dimulai dengan pertanyaan: mengapa manusia bicara? Berbeda dengan media yang lain, bicara bukanlah penemuan. Kemampuan bicara tumbuh seiring evolusi manusia, seperti kemampuan memegang dengan tangan atau berjalan dengan kaki. Pertanyaan lainnya adalah: mengapa kita, manusia, satu-satunya makhluk yang mengembangkan kemampuan untuk bicara?

Kajian sejarah menjelaskan bahwa manusia bicara untuk bertahan hidup, membagi informasi tentang adanya makanan atau bahaya sejak jutaan tahun lalu. Berbicara memiliki risiko, posisi kita diketahui sehingga bisa diserang tapi bicara juga menujukan bahwa orang itu memiliki keberanian. Dari konteks yang sederhana, yaitu berburu makanan di jaman purba, hingga politik negara, bicara akan menentukan apakah seseorang akan menjadi sekutu atau seteru.

Perkembangan selanjutnya adalah menulis, yang berakar dari tindakan menyimbolkan. Menulis hadir ke masyarakat akibat terciptanya hirarki sosial dalam puak-puak purba yang harus dicatat. Faktor lain adalah meningkatnya perniagaan. Butuh sekitar 175.000 tahun sebelum kebutuhan akan tulisan muncul. Walaupun demikian, kemampuan baca-tulis tidak menyebar dengan cepat. Alih-alih, melek-huruf menjadi alat kekuasaan elite.

Kedua media di atas  memiliki atribut berbeda sehingga menghasilkan praktik sosial dan nilai budaya yang berbeda. Bicara adalah media yang mudah diakses, cepat menyebar, dialogis, dengan volume kecil, sehinga menghasilkan praktik sosial yang setara, terbuka, demokratis yang bermuara pada nilai sosial egalitarianisme, idealisme dan deliberativisme. Berbeda dengan menulis yang memiliki atribut monologis, terkonsentrasi dan simbolik sehingga menghasilkan praktik sosial tertutup dan hirarkis.

Dengan tekun Poe mengembangkan model tersebut untuk menganalisis evolusi kemanusiaan hingga pada era audio-visual dan Internet. Di era Internet, kemudahan akses, privasi, tingginya volume dan velositas telah menghasilkan nilai budaya sensualisme dan hedonisme dalam arti pemanjaan indra dan kelimpahan informasi.

Buku ini adalah buku sejarah yang ditulis dengan sangat menarik. Buku ini cukup ambisius mendedahkan sebuah teori baru yang akan memperkaya perspektif kita melihat fenomena Internet. Apakah Internet sesuatu yang benar-benar baru dan revolusioner? Memang, rentang waktu yang panjang membuat buku ini terasa terengah-engah di beberapa bagian. Tidak hanya untuk kalangan akademisi, buku ini perlu dibaca oleh para praktisi komunikasi, karena sebagai buku sejarah, buku ini mencapai tujuannya, yaitu untuk memahami diri kita sendiri lebih baik.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: