jump to navigation

Tasting Notes, December 6, 2008 Desember 9, 2008

Posted by Dadi Krismatono in Kuliner.
trackback

Sabtu sore itu jalanan agak sepi. Agaknya hujan deras berangin-badai yang baru saja lewat membuat sebagian orang enggan keluar rumah. Saya suka sekali suasana senja yang basah seperti ini; ketika langit belum lagi hitam, mobil-mobil menyalakan lampu dan cahayanya terpantul pada aspal. Hmm.. ada suasana yang dalam di sana.

Pada sore hingga malam yang indah itu saya sempat mencicipi beberapa wine. Karena sudah ada yang pernah saya tulis, saya hanya ceritakan yang baru.

Pallazo Comunale Brunello di Montalcino, Cantina di Montalcino, 2002 (Montalcino, Italia). Montalcino adalah daerah penting penghasil wine di Italia sejak abad ke-15. Namun, pada waktu itu wine yang banyak dibuat adalah white wine manis yang dari buah Moscadelle. Red wine yang dibuat selalu berasal dari campuran (blend) Sangiovese, Canaiolo, Ciliegiolo dan sejumlah kecil varietas lainnya sebagai “bumbu”. Hasilnya adalah wine yang segar dan wangi untuk dikonsumsi segera. Baru pada akhir abad ke-19 terjadi perubahan radikal dengan diperkenalkannya wine yang berasal dari varietas tunggal, yaitu dari Sangiovese yang dipilih dengan penuh kecermatan. Struktur wine-nya pun berubah, menjadi wine yang punya aging potential, yang ditandai dengan citarasa yang tegas, bertenaga, dan ber-body. Brunello adalah nama lokal untuk Sangiovesse yang konon berasal dari warna wine ini setelah difermentasi dan di-aging.

Cantina di Montalcino berdiri pada tahun 1975. Brunello dari winery ini disimpan paling tidak selama dua tahun di dalam tong (cask) oak Slovenia sebelum dimasukkan dalam botol. Warnanya ungu yang cantik dan intens. Aroma buah-buahan yang wangi menciptakan parfum pembuka yang enak, tipis membelai penciuman. Ada cherry yang menyembul di permukaan. Di mulut, perpaduan antara body yang cukup “sterek” dengan belaiannya yang silky membuatnya terasa kaya, apalagi acidity-nya cukup balance.

Moss Wood Chardonnay, 2006 (Margaret River, Australia). Margaret River juga daerah penghasil wine premium di Australia barat. Chardonnay yang kekar ini sangat cocok untuk mematahkan mitos bahwa white wine identik dengan kelembutan dan femininitas; bahwa white wine hanya cocok untuk perempuan. Well, good men drink good white wine as well!

Intensitas aroma yang langsung memenuhi indra penciuman adalah awal dari keperkasaannya. Warnanya yang cenderung pucat bisa jadi mengecoh. Pear, melon, dan buah-buahan asam (seperti grapefruit) langsung menyergap palate diiringi dengan layer vanilla dan aroma kacang-kacangan (nutty).

Karena aroma nutty yang cukup intens membayangi itu kami bereksperimen dengan roasted almond dan pine nut. Jadi lebih sedap keduanya hangat baru keluar dari oven. Roasted almond dicium aromanya, dicoba segigit dan wine sesesap.. hmmm… ternyata ada aroma buttery yang begitu kuat menyerbak setelahnya. Menciptakan suatu lingering finish yang tidak biasa. Begitu juga dengan pine nut yang lebih tajam ketimbang almond. Keduanya menjadi lebih intens ketika bertemu dengan wine. Ini yang disebut mirroring dalam wine pairing. O ya, finish-nya yang betah juga menjadi bukti kekekaran wine ini.

Perjalanan saya malam itu yang dimulai dari Italia ternyata juga berakhir di Italia. Tidak tanggung-tanggung, yang menutupnya adalah “king of wines, and wine of kings” dari Piedmont. Ya, Barolo. Tepatnya: Azelia Barolo, 1998 (Italia). Wine ini lahir dari kecintaan keluarga Scavino dalam meproduksi wine berkualitas sejak tahun 1920. Salah seorang anggota keluarga ini, Paolo Scavino, dikenang berjasa dalam memunculkan Barolo yang bermutu hingga diakui di seluruh dunia.

Barolo dibuat dari buah anggur Nebbiolo yang punya karakter “moody” yang sama dengan Pinot Noir. Nebbiolo sangat sensitif terhadap lingkungan dan bisa menghasilkan panenan yang berbeda-beda, walaupun hanya ada sedikit perbedaan geografis. Kulit buahnya tipis, mirip Pinot Noir.

Walau begitu Barolo yang saya cicipi memang layak disebut “king of wines”. Warnanya “broken” seperti ekspresi seorang yang “vulnerable”. Aroma bunga violet, cherry dan stone fruit langsung menyergap dengan bingkai aroma leather yang anggun. Hmm.. Finish-nya yang panjang menyerbakkan lagi aroma vanilla yang tadi sempat sekelebat lewat.

Hujan sudah lama berhenti.

Tempat Kejadian Perkara: Decanter, Plaza Kuningan, Jl. Rasuna Said, Jakarta.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: