jump to navigation

Mendadak Sastra (5) – SELESAI November 10, 2008

Posted by Dadi Krismatono in Perjalanan.
trackback

Workshop “Writing for Young Readers” jadi acara pertama  hari ini. Pembicaranya Jean Bennet dari NZ. Terus terang, waktu menerima program saya membayangkan workshop ini akan membahas seputar fenomena seperti Harry Potter, chick lit, atau early adolescence novel yang witty dan bersemangat. Ternyata maksudnya lain. Bennet adalah penulis buku edukasi anak-anak. Banyak bukunya yang diterbitkan oleh National Geographic, khususnya dalam bentuk buku ilmiah atau sejarah yang diberi tokoh dan kisah fiktif untuk menghidupkan dan membangkitan minat baca. Sebenarnya ini workshop yang cukup bagus, tapi bukan yang saya cari.

Selesai workshop di Taman Indrakila, saya bergeser ke Indus, karena ada diskusi menghadirkan Pak Bondan Winarno. Bersama Lucy Malouf dari Australia, Pak Bondan dan peserta membahas tentang “food and story”. Soal food and story, menarik sekali membahas betapa bahasa punya keterbatasan untuk mengekspresikan citarasa yang dihadirkan makanan. Apalagi kalau lintas bahasa. Bagaimana kita menerjemahkan al dente, flaky dan earthy? Selain itu ada pertanyaan yang menggelitik, apakah para pecinta makanan pernah berpikir tentang orang-orang yang kelaparan di dunia ini?

Sebelum workshop saya bertemu Emelia yang membawa titipan fruit wine dari buah naga buatan Mbak Catalia, JSer Bali yang memang fokus dalam produksi makanan organik dan vegetarian. Adanya larik rasa gula merah dalam minuman itu. Namun, dari segi cita rasa, masih perlu banyak langkah sehingga apa yang diinginkan keluar, bukan hanya membiarkan fermentasi bekerja. Good experiment, anyway.

Lalu makan siang di Casa Luna. Saya mencoba “Balinese paella” yang ternyata nasi kuning (ya, that nasi kuning hehehe… ) dengan potongan aneka seafood yang dimasak dengan bumbu asam segar khas paella. Ada dedaunan, kalau tidak salah dill, yang memperkaya aroma. Nasi yang lebih tanak membuat perut kampung saya ini lebih bisa menerimanya, tidak perlu pakai reserve seperti kalau mau makan paella beneran.

Sorenya kembali ke Casa Luna untuk mengikuti wine tasting. Judulnya seru: In Praise of Wine and Woman. Pembawa acaranya Yohan Handoyo, figur yang sangat tepat. Soal wine tentu Yohan jagonya. Soal woman? Aduh… mendingan nggak komentar deh daripada dijitak! Wine yang dihadirkan cukup beragam: Australia, Italia, Chile, Amerika bahkan Hungaria. Saya mencicipi “Italian Chardonnay” yang lumayan cakep. Sayang acaranya tidak bisa dibilang pairing, baik dari segi makanan maupun performance. Jadi, ya, jalan sendiri-sendiri. Winenya, makanannya dan puisinya. Sayang banget. Memang ada beberapa terobosan yang cukup unik seperti tempe goreng dengan sambal dan guacamole atau ayam yang di-gill kemudian dibumbui sambal matah. Bahkan Yohan sampai meminta lampu dimatikan dan peserta meminum Tabali Pinot Noir dari Chile (maaf, vintage-nya lupa) dengan mata terpejam sambil mendengarkan puisi untuk memaksimalkan suasana.

Selesai dari Casa Luna kami menuju ke Jl. Goutama, berharap Street Carnival masih ada. Sisa-sisa keriaan sih masih terasa di udara tapi pertunjukannya tinggal joged bumbung di jalan. Menyenangkan sekali menonton tari Bali di tempat “aslinya”, bukan di gedung pertunjukan atau hotel tapi di desa dengan warga yang turut menari. Memang gerakan dan interaksi dari penari perempuan dan para lelaki dari penonton yang turun ke lantai dansa bernuansa erotis. Namun, konteks tempat tari tersebut hidup membuatnya bersahaja, jenaka, dan gayut dengan lingkungannya; tidak perlu ditera dengan ukuran UU Pornografi yang dogmatis dan paranoid itu.

Hari Terakhir

Dengan menyesal saya tidak ikut penutupan di Museum Antonio Blanco malam nanti. Dengan mobil sewaan menyempatkan diri turun gunung sebelum pulang. Tujuan pertama: Mak Beng di Sanur, untuk late lunch. Warung ini hanya punya satu jenis menu = ikan goreng + sop ikan + nasi putih + sambal, dan bertahan sejak tahun 1941. Sayang sekali sop ikan kuning kental khasnya habis. Plan B-nya, mereka menyiapkan sayur sop sayuran biasa, dengan wortel, buncis dan seledri. Kami coba saja. Sambelnya masih konsisten, seperti terakhir tahun lalu saya ke sana.

Selesai makan  lihat-lihat di factory outlet baju-baju surfing, seperti Rip Curl dll. Ada beberapa tempat dan harganya lumayan value for money. Kalau mau mbongkar-mbongkar bak di bagian sale, lumayan tuh dapat kaos atau celana pendek keren dengan harga bersahabat.

Lewat Kuta, wah lagi ada Kuta Festival. Ramai dan sedikit macet. Sambil menikmati keramaian  terus menuju Seminyak dan mendarat di Ku De Ta. Karena ingin menyisakan ruang di perut untuk makan malam di Warung Italia di Jl. Kunti, saya memesan cemilan dari buah zaitun untuk menemani mojito dan jeng jeng jeng… datanglah sepiring besar buah zaitun dengan kue garing panjang-panjang seperti cheese stick. Nah lo. Buahnya kecil-kecil dan buanyak banget. Sampai matahari tenggelam dan langit gelap, dan bibir rada tebal terkena vinegar, itu zaitun belum habis tuh…

Ku De Ta sudah selesai renovasi dan makin hip. Ada lantai atas yang memberi view yang lebih luas. Di bagian depan ada toko yang menjual merchandise dan CD. Harganya premium.

Bergerak dari Ku De Ta ke Warung Italia. Jangan-jangan supir mobil rental itu membatin, ini tamu kok kerjanya makan melulu? Warung Italia juga sekarang sudah lebih luas. Melebar ke samping. Ada tungku pizza yang cukup atraktif. Spot utamanya tetap di display makanan a la warung dimana pengunjung tinggal memilih apa yang diinginkan, dipanaskan sebentar dan sampailah di meja. Saya mencoba crespelle (Italian crepes) yang enak. Isinya mungkin keju gorgonzola karena rasanya yang manis legit. Selain itu kami mencoba kaki octopus dengan cipratan sedikit pesto, lasagna dan ravioli bayam. Selesai makan, cap-cus ke bandara dan pulang ke Jakarta.

Jika tahun depan ikut lagi…

Mudah-mudahan ada keluangan waktu, saya bisa ikut lagi tahun depan. Saya akan:

– Menunggu informasi acara sampai semua tersampaikan dengan baik. Risikonya mungkin harus spend waktu lebih, kehabisan kursi di workshop atau beli ticket pesawat dalam waktu yang lebih pendek.

– Menimbang-nimbang lagi partisipasi sebagai Friends of Festival. Benefitnya biasa aja tuh..

– Pikir-pikir lagi jika mau ikut event (seperti upacara pembukaan). Workshop UWRF bagus-bagus, tapi event-event-nya kurang terkelola dengan baik.

– Menginap di hotel yang ada AC-nya. Walaupun valley breeze Ubud sungguh membuai, cuacanya kok panas dan pengap ya?

Salut buat tim kerja dan relawan Ubud Writers and Readers Festival 2008. Mudah-mudahan jumpa lagi tahun depan.

SELESAI

Komentar»

1. Makanan Organik - November 14, 2008

artikel yang menarik dan banyak memberikan manfaat


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: