jump to navigation

Mendadak Sastra (4) November 6, 2008

Posted by Dadi Krismatono in Perjalanan.
trackback

Catatan dari Ubud Writers and Readers Festival 2008Hari ini akan diisi dengan workshop sehari penuh. Judulnya provokatif: “Exploring Your Personal Odyssey” yang dibawakan oleh Paul Sochaczewski (yes, I was struggling with the pronunciation too). Tempatnya di Ananda Cottage. Lagi-lagi soal detail. Karena minimnya penanda, jadilah kami melakukan odyssey ke bagian belakang Ananda melewati sawah, jembatan gantung, sungai. Ketika kami sampai, Paul mengucapkan syukur. Ternyata bukan kami saja yang kesasar.

Paul mulai dengan membacakan satu personal essay yang menarik. Tentang suatu hari PMS seorang perempuan urban di London. Witty dan humanis. Dalam workshop, Paul banyak menggunakan tulisan-tulisan yang sudah ada sebagai contoh. Paul menekankan aspek scenes dalam personal essay karena pembaca butuh merasa, atau memvisualkan suatu lokasi tempat cerita terjadi. Dialog juga penting, terutama karena dalam dialoglah karakter masing-masing tokoh dapat terbangun. Bagaimana tokoh (“aku”, dalam hal ini) bereaksi terhadap “yang lain” (the other). Selain itu, detail, deskripsi dan struktur juga menjadi aspek yang dielaborasi oleh kelas.Masing-masing peserta diminta menceritakan odyssey dan idea apa yang ingin ditulis. Pada awalnya saya kurang memahami pertanyaan ini sehingga saya tidak menjawab dengan baik. Peristiwa dalam hidup kita adalah sumber cerita, baik yang dramatis maupun yang kesannya remeh namun menyimpan sesuatu yang dalam di baliknya. Kematian, penyakit yang diderita oleh orang dekat, pengalaman mengadopsi anak, tersesat di hutan tanpa peralatan dan makanan, melihat ayah yang sekarat namun tetap terborgol karena sang ayah adalah narapidana, pengalaman hari pertama mengajar seorang guru atau bagaimana seorang Italia mencari pizza yang enak di Bali adalah cerita yang dibawa oleh para peserta.

Kemudian Paul memperkenalkan metode “Zen speed writing”. Intinya kita diminta membiarkan music masuk ke pikiran kita dan “membimbing” kita menulis. Paul mengucapkan satu kalimat pemancing lalu menyetel musik. Klasik, oriental, mellow. Saya mengalami betapa jenis musik yang digunakan mempengaruhi hasil tulisan. Saya suka sekali musik spa bercorak India yang disetel. Yang lucu, bahkan ada saat dimana seolah-olah kita bisa menulis tanpa henti. Begitu saja mengalir degngan intens. Seperti avalanche. Paul dan kelas juga mengelaborasi betapa tulisan yang baik seperti memiliki musik di dalamnya. Ada elegance, progresi, phasing dan variasi panjang pendeknya kalimat.

Workshop diselingi makan siang. Di HSBC lounge di sebelah Indus ada kantin dadakan di sana. Saya mencoba vegetarian burger dengan isi terung dan keju feta. Mmm… sebenarnya sih bisa lebih enak, apalagi kalau segar. Kayaknya udah kelamaan didisplay, jadi masuk angin.

Kembali ke workshop, Paul meminta kelas untuk menulis suatu cerita dengan tiga opening yang berbeda. Opening menggunakan sesuatu yang terjadi, menggunakan dialog dan menggunakan direct statement. Saya sedang mencoba mengumpulkan coretan-coretan saya selama workshop dalam tulisan terpisah. Mudah-mudahan. Di akhir, Paul meminta peserta untuk memilih satu dari tiga opening itu dan menyelesaikannya menjadi sebuah cerita. Masing-masing peserta membacakan di penutup acara.

Selesai workshop saya mengunjungi acara peluncuran buku puisi di Gaya Fusion, Sayan. Ternyata jaraknya lumayan jauh. Saya sempet kebat-kebit juga kok tidak sampai-sampai. Gaya Fusion adalah sebuah gallery dengan tambahan restoran, villa dan spa. Bangunannya bergaya minimalis namun berhasil berdialog dengan lingkungan sekitar yang hijau. Lukisan yang dipamerkan kebanyakan bergaya modern-minimalis. Terus terang tidak semua saya mengerti. Saya akan menyempatkan ngopi sore di sini kalau ada kesempatan ke Ubud lagi. Villanya cantik dan bikin betah.

Buku yang diluncurkan adalah antologi puisi dari Anya Rompas dan Mikael Johani. Kebetulan pemimpin dari penerbit bukut ini, Waraney Rawung, pernah menjadi teman sekantor dan saya menyukai beberapa puisi Ney. Saya belum membaca buku Anya dan Mikael, hanya melihat penampilan mereka di acara itu. Secara umum, puisi-puisi mereka merefleksikan citarasa urban penulisnya. Tentang kota, sinar lampu. Puisi-puisi tersebut juga iconic, artinya menggunakan ikon-ikon sosial atau gaya hidup yang sudah ada. Jadi persepsi yang melekat pada ikon itu akan mempengaruhi pembaca atau sebaliknya, penulisnya ingin menggunakan atau bermain-main dengan pesepsi yang sudah melekat pada ikon tersebut dalam “delivery” puisinya. Ada Starbucks, atau Hermes. Saya masih mencari bagaimana mengapresiasi sebuah puisi yang judulnya sama (atau mengambil?) dari judul sebuah buku.

Perjalanan dari Gaya Fusion menuju Bebek Bengil juga jauh. Suasanya AKAP (antar-kota-antar-propinsi) hehehe… Rumah-rumah mulai jarang, jalanan lengang, sawah membentang, langit berbintang dan aku menerawang. Di Bebek Bali ada  perlombaan baca puisi. Menarik melihat begitu banyak ragam pembacaan puisi. Ada yang seperti rap. Ada yang mengalun melodius. Ada yang bergaya striptease (ngelesot di atas meja segala..). Kami ngobrol dengan ibu-ibu Australia yang semeja dengan kami. Salah satu di antaranya sedang menulis disertasi psikologi: Mengapa perempuan Australia begitu mencintai Bali.

BERSAMBUNG

Komentar»

1. bagus - November 26, 2008

dad, gue add alamat blog loe di blogroll gue ye.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: