jump to navigation

Mendadak Sastra (3) November 4, 2008

Posted by Dadi Krismatono in Perjalanan.
trackback

Catatan dari Ubud Writers and Readers Festival 2008

Hari ketiga, workshopnya pagi. Sarapan telur dadar yang rasanya agak aneh karena dicampur bawang putih dan sawi putih. O ya, kebetulan sudah dua hari ini workshop kami bertempat di Taman Indrakila, Jl. Sanggingan. Kayaknya, kalau tidak dipakai sebagi kelas, ruang terbuka yang menghadap ke lembah ini dijadikan coffee shop. Desir anginnya nikmat sekali.

Hari ini topiknya “Dramatic Ideas” dari Tee O’Neill. Dia adalah penulis lakon drama di New York University. Orangnya sangat menyenangkan.  Semuanya ringan dan mengalir. Seperti fasilitator sebelumnya, pada awal sesi Tee bertanya buku apa yang paling memberi inspirasi dan bahkan kita baca lagi untuk ke sekian kali. Kali ini saya memilih puisi, khususnya soneta, dari Pablo Neruda. (Bukan, bukan Rhoma Irama). Pablo Neruda adalah pujangga Chile yang pernah tinggal di Batavia tahun 1930-an. Puisinya penuh berisi peryaan hidup. Hal-hal yang tampak sepele dan remeh-temeh dirayakan dengan penuh keagungan. Siapa sih yang mau bikin puji-pujian dalam bentuk ode kepada ikan asin, tomat atau wine? Selain pujangga, Neruda adalah politisi sosialis dan kolaborator Presiden Salvador Allende. Ketika Augusto Pinochet melakukan kudeta, Neruda terpaksa bersembunyi dan melarikan diri hingga ke Argentina. Neruda meninggal di Chile tahun 1973 dan walaupun rejim Pinochet melarang pemakaman Neruda menjadi keramaian publik, ribuan warga Chile turun ke jalan untuk menyatakan belasungkawa dan menyatakan protes untuk pertama kalinya terhadap  rejim otoriter. Neruda dianugerahi Hadiah Nobel bidang sastra tahun 1971.

Setelah itu Tee bertanya tentang nama kita dan kira-kira apa arti atau inspirasi di baliknya. Mmm… Nenek saya pernah bercerita bahwa kakek sayalah yang memberi nama. Beliau seorang penulis dan produser siaran radio untuk RRI sejak masa pendirian, kemerdekaan hingga akhir hayatnya. Katanya nama saya berasal dari tiga kata: dadi, keris dan maton. Dadi = jadi, keris = senjata tradisional di Jawa dan beberapa daerah nusantara, dan maton adalah adalah ekspresi kualitas sebuah keris. Maton kira-kira artinya wajar, proporsional; tidak terlalu grandioso tapi juga bukan remeh.

Setelah itu kami mulai masuk ke materi dramatic ideas. Tee memadukan berbagai teknik teater dan meditasi untuk memicu ide dan mengalirnya tulisan. Ada gerakan tangan yang dipercaya mengaktifkan otak kanan maupun otak kiri, gerakan yang diambil dari yoga untuk mengalirkan darah ke otak hingga teknik meditasi dan menggunakan kenangan kita untuk memunculkan ide dramatis untuk menulis.

Tee meminta peserta memilih satu peristiwa terindah dan satu peristiwa terburuk yang mempengaruhi hidup kita. Lalu kami menuliskannya. Yang menarik, Tee kemudian meminta kami untuk menulis seperti apa hidup kita sendainya peristiwa-peristiwa itu tidak terjadi. Nampaknya sederhana tapi saya merasakan penjelajahan batin yang luar biasa. Bagiamana ya seandainya peristiwa itu tidak terjadi? Would I be a better person? 

Tee menggunakan ketakutan (fear) sebagi sumber ide. Kelas sepakat untuk membagi dua kategori: public fear dan personal fear. Public fear mulai dari kemiskinan, terorisme, wabah penyakit dll, semntara personal fear yang paling sering disebut adalah menjalani hidup yang tak bermakna (living a meaningless life). Ya, tentu. Lalu kami diminta untuk membuat tulisan dari ide-ide tersebut, lebih baik lagi jika tulisan itu merupakan pertautan dari dua ketakutan tadi. Saya membuat coretan tentang seorang pialang Wall Street yang tengah terpekur sambil menonton YouTube berisi orasi penuh kemarahan seorang anggota Al Qaeda.

Cara lain yang digunakan Tee adalah dengan menggunakan foto. Kami diminta berkeliling dan memilih salah satu foto dan membuat cerita tokoh yang ada di foto itu. Saya memilih foto seorang lelaki tua dengan jas dan dasi yang kelihatan mahal. Wajahnya tampak letih. Saya membuat sketsa tentang seorang boss mafia yang marah karena anak perempuannya dibunuh seminggu sebelum pesta pernikahan sang anak.  Dalam bagian ini Tee mengenalkan teknik “dislocator” dimana ada kata-kata atau statement yang digunakan ketika kita mentok atau jika dengan sengaja kata itu digunakan, dia menjadi titik belok cerita ke arah yang tak terduga.  Tee berhasil membuat workshop yang dalam dan berat ini mengalir lancar, terutama karena ia tidak pernah memaksakan gagasannya.

Selesai workshop beringsut ke Pasar Ubud, makan siang dan kembali ke hotel untuk bersiap-siap karena nanti sore diajak Pak Bondan Winarno jalan-jalan sore dan makan malam.

Walau bagian depannya sarat penjual kerjainan, lukisan atau cinderamata lainnya saya mengira masih ada bagian dari Pasar Ubud yang merupakan “pasar becek” tempat warga sekitar berbelanja kebutuhan dapur. Jam 10 ke atas Pasar Ubud menjadi pasar barang kerjainan, persis seperti Pasar Sukowati. Mungkin pasar yang saya ada di bagian lain dari Ubud tapi karena panas yang mendera saya hentikan keinginan untuk mblusuk-mblusuk pasar siang itu.

Makan siang di Biah-biah yang cantik di Jl. Goutama. Ciri khas warung ini adalah keberaniannya mencampur bahan-bahan dalam hidangan dan penyajian dalam ukuran kecil dan cantik. Saya mencoba lawar yang dicampur dengan kocokan telur, pepes tuna yang cakep, plecing kangkung dan ayam yang dimasak pedas. Masing-masing hidangan diletakkan dalam wadah yang dibuat dari daun pisang. Empat macam dengan ukuran yang pas untuk dua orang.

Jam empat sore kami berkumpul di depan Warung Ibu Oka. Sudah ada Pak Bondan dan Bu Yvonne, Yohan Handoyo dan Lidia Tanod. Tujuan: sunsest di Pantai Padang-Padang dan dinner  di Jimbaran. Lengkap. Ide dan susunan cara dari Pak Bondan. Kami tinggal ikut (Terima kasih ya, Pak).

Pantai Padang-Padang terletak di daerah Pecatu. Dari GWK itu teruuss aja (maaf tidak menolong ya keterangannya). Bahkan pak supir yang membawa kita sempat kelewatan sedikit. Pantai ini lebih tepat disebut ceruk yang sangat indah. Amazing! Untuk masuk ke kawasan pantainya, kita harus melewati tangga yang terletak di bawah dua bungkah batu karang  yang besar. Seperti melewati lorong gua yang sempit dan ..byar!.. berujung pada pemandangan spektakuler di ujung sana. Pantai yang landai, pasir yang bersih, air yang jernih dan karang yang memperkuat dramatisasi pemandangan. Di salah satu bukit karang yang menemboki  pantai ini ada villa mewah yang rada-rada out of place dari suasana alam sekitarnya. Kebetulan ada seorang pemusik yang memainkan alat seperti wajan melengkapi suasana. Katanya tempat ini sering dibuat rave party, tapi saya lebih suka suasana sore yang tenang dan laid-back seperti ini.

Lidia sempat membeli kue tradisional “lak-lak” dari penjual di tempat parkir. Bentuknya seperi kue kelepon yg dicabik-cabik tapi gula cair merahnya dituang seperti dressing, ditambah  taburan parutan kelapa. Ada aroma gosong yang mirip kue carabikang di Pekalongan.

Makan malam di “Manega”, Jimbaran. Bertemu dengan Grace, Benny dan teman-teman lainnya. Pak BW memilihkan udang galah yang ternyata adalah udang sungai. Wah.. rasanya manis dan teksturnya lebih ciamik dari rock lobster yang banyak ditawarkan. Pas dengan bumbu dan gosongan gaya Jimbaran.

Puas makan kami pun pulang ke Ubud. Sepanjang jalan mendengarkan cerita-cerita Pak Bondan yang jenaka dan memperkaya batin.

BERSAMBUNG

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: