jump to navigation

Mendadak Sastra (2) Oktober 28, 2008

Posted by Dadi Krismatono in Perjalanan.
trackback

Catatan dari Ubud Writers and Readers Festival 2008

Hari kedua diawali dengan makan siang di Nasi Ayam Ibu Mangku di Jl. Kadewatan. Nasi campur ayam betutu yang aduhai. Bisa dibayangkan, nasi hangat bergulat dengan sayuran berbumbu dan  ayam betutu yang moist dan berempah lalu ditingkahi kriuk-kriuk gorengan kulit dan usus ayam. Festive! Belakangan saya mendapat info bahwa di Jl. Kadewatan ada dua lagi warung nasi ayam. Kalau mau studi banding, bukan ke luar negeri seperti anggota DPR, patut dicoba tuh.

Saya mengikuti workshop mengenai editing, khususnya untuk tulisan fiksi. Judul workshopnya menarik: “Kindest Cut of All” yang kira-kira terjemahannya: kalau mau memotong tulisan, potonglah dengan cinta (halah!). Fasilitatornya Shelley Kenigsberg dari Australia. Pada sesi ini ada pengalaman menarik. Shelley meminta para peserta menyebutkan satu buku yang sangat digemari, memorable  atau bahkan menginspirasi . Saya berpikir sebentar. Rasanya yang paling cocok adalah “Para Priyayi” dari Umar Kayam. Saya membacanya sekitar sepuluh kali pada saat nganggur menunggu pengumuman penerimaan universitas selepas lulus SMA.  Hampir selalu dengan gairah dan kekaguman yang sama. Lalu saya mendengar bahwa buku yang dibicarakan adalah novel-novel yang terbit dalam lingkup internasional. Atau gampangnya, berbahasa Inggris. Setiap ada yang menyebut satu judul, peserta yang menimpali, “Yea, I know that book.” Atau, “It’s excellent!” atau komentar yang sejenisnya. Lalu saya berpikir, kalau begitu yang cocok adalah “Unbearable Lightness of Being”-nya Milan Kundera.  Tapi kok jadul ya? Jangan-jangan peserta lain bilang “Lha iya lah, masa’ lha iya dong? Kundera geto lohhh…” Sampai hampir tiba giliran saya, saya belum tahu buku apa yang akan saya sebutkan.

Tiba-tiba saja ketika giliran saya sampai, saya ingat dan menyebut buku “History of Love” karya Nicole Krauss. Begitu saja tercetus dan terucap. Kemudian saya menjelaskan bahwa buku ini menarik dari sisi ide dan bentuk. Buku ini bercerita tentang sebuah buku yang bercerita tentang sebuah buku berjudul History of Love. Selain banyaknya kejutan dan alur yang memikat, saya suka sekali cara Krauss bermain-main dengan ruang, dia bahkan menggunakan halaman kosong atau halaman hanya dengan satu kata atau satu kalimat, untuk membangun rhythm dan pace cerita. Stunning!

 Dalam workshop ini kami belajar hal-hal dasar dalam membangun cerita dan kemudian bagaimana men-deliver-nya secara efisien dan memikat. Plot dan karakter sangat ditekankan. Bahkan dibahas bahwa Anda tidak perlu menyukai karakter yang Anda bangun. Bahkan bukan tidak mungkin seorang penulis begitu sukses melukiskan sisi gelap sesosok tokoh hinga ia membencinya! Selain itu hal-hal seperti power dynamics, ide-ide yang bertabrakan (juxtaposed ideas), believable transition in plot serta bentuk yang bervariasi. Mengenai bentuk, saya baru tahu bahwa ada saran untuk memperhatikan panjang-pendek paragraph serta tek-toknya dialog. Terakhir, kami belajar membuat closing, supaya cerita kami tidak melulu ditutup dengan closing: and they live happily ever after.

Selesai sesi saya bergegas ke acara pembukaan di Puri Ubud. Memang jadwalnya agak bertabrakan. Kami terlambat sekitar 30 menit by design. Ternyata upacara pembukannya hambar. It’s a total loss! Pidato-pidato yang dangkal dan formalistik, serta tarian simbolik yang mengingatkan kita pada tari-tari dalam upacara Orde Baru. Padahal, tempatnya sangat menarik: istana raja, pelataran,  pepohonan. Melihat harga ticket yang dikenakan, it’s not value for money at all! Ada sedikit pengobat kekecewaan, ketika kami diijinkan untuk masuk dan melihat-lihat bagian luar dari kompleks istana raja Ubud. Sebagian besar adalah teras tempat menerima tamu. Seperti yang saya lihat di berbagai istana atau keraton, cinderamata dari negara atau kerajaan lain menambah kekuatan suasananya. Ada guci dari Cina yang tinggi diletakan di tengah semacam pendopo yang ditata anggun.  Ada teras yang paling besar. Mungkin itu singgasananya, apalagi dilihat dari warna keemasan yang medominasi. Terasa betul suasana majestic dari ruang itu.

Selesai melihat-lihat Puri Ubud yang sedikit mengobati kekecewaan, saya berangkat menuju Pura Dalem. Ada bagian pendopo yang digunakan untuk acara non-peribadatan yang digunakan. Acara pertama di tempat ini adalah “A Tribute to Sutan Takdiir Alisjahbana”.  Memang orang besar seperti Takdir patut mendapat penghormatan dari bangsa ini. Dengan caranya Takdir mencerdaskan bangsa ini terutama dengan kegigihannya membangun filsafat rasionalisme dan modernisme. Dulu belum ada istilah guru bangsa, tapi saya yakin Takdir patut disebut dengan sebutan itu.

Selain pidato dari keluarga dan kolega, capaian terpenting dari program ini adalah penerjemahan ke bahasa Inggris dan pembuatan komik  roman “Kalah dan Menang” Sungguh satu inovasi yang patut dipuji karena memungkinkan buku bagus ini menjangkau khalayak yang lebih luas. Selain itu ada cerita menarik tentang pendirian Toyabungka Art Center di tepi Danau Batur. Syahdan pada suatu hari Takdir menumpang pesawat ke Eropa dan mengalami kecelakaan. Pesawat itu terbakar hebat dan untungnya Takdir selamat. Maskapai penerbangan itu memberi ganti rugi dan asuransi yang begitu besar hingga Takdir berpikir: untuk apa uang sebanyak ini? Uang itulah yang dijadikan modal awal untuk membangun Toyabungka Art Center. Namun dalam acara ini ada satu warisan Takdir yang tidak dibahas: Universitas Nasional di Jakarta. Mungkin karena acara ini lebih menyoroti warisan literer STA.

Acara berikutnya adalah pertunjukan yang diberi judul “A Midsummer Night’s Dream”. Ya, plesetannya Shakespeare. Gak apa-apa deh. Ada pembacaan puisi, ada musikalisasi puisi dari sebuah sanggar teater SMA di Denpasar yang katanya mempraktikkan teknik vocal tradisional Bali. Puncaknya adalah pementasan teater dari sebuah sanggar yang berasal dari Bali utara. Pemainnya bukan aktor professional, ada pegawai negeri, buruh, mahasiswa bahkan petani. Mereka mementaskan kegamangan orang Bali menghadapi gencarnya pembangunan fisik dan turisme, menggunakan air dan subak sebagai inti masalah. Pementasan dilangsungkan dalam bahasa Bali namun seperti disampaikan oleh MC, great show needs no translation. 

Malam masih panas. Kira-kira jam setengah sebelas malam dan kami celingukan. Perut mulai memanggil namun jalan raya sepi. Kafe dan resto sudah tutup. Ada beberapa yang buka namun hanya melayani minum. Duh! Saya lupa untuk mengarah ke Jl. Goutama atau Monkey Forest. Biasanya di situ agak ramai, khususnya karena ada festival ini. Akhirnya terdampar di Ryoshi, restoran Jepang yang punya beberapa outlet di Bali. Makan ramen dan tempura yang rasanya seperti ramen dan tempura pada umumnya.  

BERSAMBUNG

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: