jump to navigation

Semriwing 1001 Juli 7, 2008

Posted by Dadi Krismatono in Kuliner.
trackback

Saya membuat kesalahan ketika memasuki Maroush yang ada di Hotel Crowne Plaza , Jakarta . Saya langsung mengidentikkan suasana restoran itu dengan kisah seribu satu malam. Padahal, Maroush adalah restoran Maroko, yang nota bene berada Afrika, sementara kisah seribu satu malam berakar pada sejarah Persia yang ada di jazirah Arab sana . Duh.. mudah-mudahan guru geografi dan guru sejarah saya di SMA tidak membaca postingan ini…

Tapi bener loh.. *ngotot mode on* begitu masuk kita disambut dengan pintu logam yang khas dan lorong berkanopi pepohonan (imitasi sih…) yang mengingatkan saya akan deskripsi kebun mawar Gulistan karya penyair Persia Syeikh Mushlihuddin Sa’di yang belakangan juga dituturkan oleh sastrawan kontroversial Salman Rushdie.  

Warna merah marun, biru tua, serta ambiens yang tercipta dari ornamen kuningan dan tembaga memang membawa saya ke setting kisah seribu satu malam, yang menyelamatkan Putri Scheherazade dari kekejaman Raja Syahriar di Persia. Ceritanya, Raja Syahriar sakit hati banget karena istri pertamanya selingkuh, sehingga setelah menghukum mati sang istri, ia mengawini gadis-gadis di negerinya hanya untuk membunuh mereka, sehari setelah dinikahi. Sampai-sampai negeri itu kehabisan perempuan lajang. Nah, anak gadis dari salah satu penasihat Raja Syahriar menawarkan diri untuk dikawini oleh sang raja. Walaupun ayahnya enggan, akhirnya pernikahan itu terjadi juga. Pada malam pesta perkawinan (dan biasanya besoknya para istri yang malang itu dibunuh), Scheherazade menuturkan dongeng yang begitu memikat sampai malam usai. Saking terpikatnya, Raja minta diceritakan satu cerita lagi, lagi, lagi… dan seterusnya hingga 1001 malam dan sang putri terbebas dari tajamnya si mata pedang. 

Tentu tidak ada mata pedang di Maroush malam itu. Hanya mata para sahabat yang berbinar cerah, melepaskan kangen karena sudah lama tidak bersua. Ya, malam itu adalah acara wine dinner Klubwine bulan Juni yang lalu. Sebagai pembuka dihidangkan De la Chapelle Viognier 2006 yang bodynya medium, dry, dengan aroma buah kering menggelitik penciuman. Hmm.. Konsentrasinya yang cukup kuat menjadi sparring partner yang asyik dari kelembutan “zeytinyajli hummus” alias semacam selai yang dibuat dari chikpeas yang digiling halus dengan tahini (alias pasta wijen), lemon, bawang putih dan minyak zaitun. Hummus ini menjadi cocolan dari roti khas Maroko yang namanya “lavas ekmegi” yang mirip-mirip ciabata tapi lebih kering dan solid. Balance yang asyik didapat dari semacam salad yang disebut “chakchouka” yang dibuat dari paprika aneka warna yang dipanggang dan tomat kecil-kecil yang ditumis sebentar dalam minyak zaitun. Sejak suapan pertama saya merasa da semriwing-semriwing yang begitu khas dan masih sulit dikatakan. Yah, kira-kira, semriwing Maroko-lah namanya…  

Yang juga bikin seru adalah sensasi pairing yang terasa di hidung! Biasanya pairing terasa pada palate, tapi dengan semriwing dari masakan Maroko bertemu dengan aroma viognier yang sedikit “bold” menghasilkan perpaduan yang asyik.

White wine kedua adalah sauvignon blanc yang ciamik punya dari Bordeaux, Ch. St. Florin Bordeaux Blanc 2007. Warnanya pucat dan cantik. Selain aroma jeruk nipis dan ornamen fruity lainnya, ada sesuatu yang manis dan dalam, seperti parfum bapak-bapak. Di label memang ditulis ada sekilas sensasi musk. Mungkin itu ya? Asyik juga, mencicipi wine yang ada sensasi musknya.. Yang menarik adalah wine ini aromanya biasanya saja ketiga di-sniff dari gelas tapi terasa eksplosif di mulut. Finishnya yang bersih dan dry seolah menuntaskan fase pertama makan dan menyiapkan palate untuk ronde selanjutnya.

Untuk hidangan utama tersedia dua pilihan, ikan atau kambing. Kalau di Jogja atau Jawa Tengah bisa digabung menjadi “iwak wedhus”! hahaha… Buat orang Jawa artinya memang bukan “ikan kambing”, tapi lauk kambing. Saya memilih hidangan kambing yang namanya “inckli hunkar begendi”. Hidangan ini dibuat dari paha kambing yang katanya di panggang pada oven kayu bakar selama dua belas jam! Wow! Di Kafe Warisan, Seminyak, saya pernah mencicipi masakan Maroko “seven hour lamb mechoui” yang katanya disiapkan selama tujuh jam. Maroush gak mau kalah. Dua belas jam! Mungkin besok akan ada restoran Maroko baru yang bilang bahwa dagingnya dipanggang selama 24 jam!

Hasilnya memang tidak main-main. Lamb shank panggang yang cantik dan kering sempurna. Potongannya pun ciamik. Tidak ada lagi tendon atau potongan yang tidak sealur sehingga bikin dagingnya melawan. Ada semacam sasus kental yang unik yang dibuat dari tomat dan terung. Nyam..

Konsentrasi yang bagus dari Ch. Cissac Haut Medoc 2003 menambah intens rasa semriwing yang saya rasakan. Saya pernah membaca sekilas bahwa masakan Maroko kerap memasukkan buah-buahan sehingga menimbulkan citarasa yang cenderung manis dan, itu tadi, semriwing.  

Ch. Cissac Haut Medoc 2003 ini bisa jadi contoh tentang merlot yang kompleks. Fruity, ada tannic sedikit dengan segrakan yang ”stringent”. Finishnya balance banget.  

 

Sebagai hidangan penutup hadirlah ”pastilla b’ilhalib”, yaitu lapisan pastry yang renyah dengan ”selai” dari almond dan bunga jeruk. Bunga jeruknya menambahkan aroma  ditengah-tengah antara sitrus yang tajam dengan rose water yang lembut. Manisnya  memang diatas rata-rata untuk lidah saya. Untung aroma bunga jeruknya mengimbangi.

Sebagai penutup juga dituang Ch. St Romain Loupiac 2003 yang beraroma kismis, madu dan irisan kulit jeruk. Rasa manisnya yang intens membuatnya enak dicecap-cecap di ujung lidah. Warnanya… apa ya… merah kekuningan khas dessert wine. Cantik. Harusnya dituang di gelas flute yang langsing agar aroamnya terkumpul dan dapat langsung dihirup. Mungkin rasa manisnya yang membuat wine ini terasa lembut tapi tidak kemanisan. Pas. Apalagi ditambah selarik aroma vanilla pada penghujung sesapan…

Setelah sebagian hadirin pulang, beberapa eksponen Klubwine yang bertaham di situ memutuskan untuk membuka 2004 Robert Mondavi Pinot Noir Reserve yang tersedia di cellarnya Maroush. Mungkin untuk mengenang The Godfather of Californian Wine itu,  yang baru saja berpulang pada akhir Mei yang lalu. Warnanya anggun khas pinot noir. Wine terasa padat di mulut, terutama karena tanninnya hampir menyerupai rasa minuman cola. Di ambang gelas menari-nari aroma cherry, berry (saya belum tahu berry apa) dan bahkan pala. Seolah mengajak kita untuk mengenang Almarhum Mondavi, wine ini membuat saya sempat terpekur, menikmati gremet-gremet di mulut yang diakhiri dengan finish selembut sutra yang sensasional.

Mari angkat gelas. Untuk Mondavi; untuk kita!

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: