jump to navigation

Makan Telur di Pantai Juni 17, 2008

Posted by Dadi Krismatono in Kuliner.
trackback

Sneak out sebentar dari pengapnya Jakarta dan padatnya kerjaan rasanya sudah waktunya dimasukkan kedalam piagam hak asasi manusia. Luckily I just had it. Just take a short break, sneak out from the hassle, spend time with the loved one, and a wonderful breakfast by the beach. Who could ask for more? (well.. be back to Jakarta right after that is the sad part).

Sudah lama saya kepincut dengan La Lucciola, restoran Italia dengan sentuhan mediterania di Seminyak, Bali. Bangunan utama yang bergaya natural dengan rumbia dan tiang-tiang kayu kelapa. Saya pernah sekedar minum aperitif berteman sunset (atau sunset berteman aperitif ya?) dan makan malam bersama teman satu tim dijamu boss saya di tengah suatu project. Semuanya mengesankan. Makanya waktu mendengar bahwa La Lucciola menyajikan breakfast/brunch setiap Sabtu dan Minggu, saya kepingin banget nyicipin.

Apalagi minggu pagi itu pas banget. Langit terang, tidak terlalu panas, angin membelai, dan jalan yang masih relatif sepi. Pas seperti kata Lionel Richie, easy like Sunday morning..

Menu breakfast di La Lucciola dibagi menjadi paket-paket selain ada yang a la carte. Lembar menunya kecil saja. Waktu melihat ada egg benedict dan egg florentine, langsung saja kami minta mengganti hidangan telur yang ada di dalam paket breakfast yang kami ambil. Ada extra charge sedikit. Okelah…

Paket yang kami ambil isinya standar aja: irisan buah, juice, teh atau kopi, roti (bisa dipilih dari varian yang tersedia) dan berbagai variasi sajian telur. Karena kami memesan egg benedict dan egg florentine, maka roti dan telurnya digabung.

Saya memilih egg florentine. Terus terang rada ikut-ikutan. Inget Jim Carrey di film “Fun with Dick and Jane” waktu dia diajak sarapan bossnya di sebuah ranch. Kebetulan film itu sering dijadikan bahan media training ke klien.

Egg florentine dan egg benedict pada intinya sama, telur yang di-poach, dihidangkan di atas roti berserat kasar yang disebut English muffin lalu ditambah saus hollandaise. Bedanya, si benedict itu karnivora karena menggunakan ham sementara si florentine ternyata vegetarian karena mengunakan bayam.

Saya mencoba menelusuri sejarah egg florentine, tetapi banyak yang menempatkannya sebagai varian dari egg benedict. Egg benedict sendiri punya banyak versi sejarah. The New Yorker bilang bahwa menu ini diambil dari nama seorang pensiunan pialang saham Lemuel Benedict yang secara spontan membuat susunan hidangan sarapannya di suatu pagi di tahun 1894 di Hotel Waldorf. Saking terinspirasinya, hotel itu menyisipkan ”karangan” Lemuel itu dalam menu sarapan pagi dan makan siangnya.The New York Times pernah menerbitkan tulisan bahwa resep itu didapat dari seorang bankir yang juga pelaut Commodore E.C Benedict yang meninggal pada tahun 1920. Ada juga yang bilang bahwa telur ceplok yang tidak digoreng itu punya akar jauh sampai ke Perancis, karena dalam nomenklatur provencal cooking Perancis ada hidangan yang namanya œufs bénédictine.

Baiklah, saya sisihkan dulu sejarah dan menikmati apa yang ada di meja. Sehelai English muffin, roti tawar kecoklatan yang di ”kulitnya” biasa ada pecahan bulir jangung, potongan bayam berjajar rapi, dua telur yang menyatu karena di-poach dan lelehan saus hollandaise yang menyiratkan mentega di dalamnya. Teknik poach dalam memasak telur sudah sangat populer di kalangan anak kos. Itu loh, mencemplungkan telur ke dalam air mendidih kalo masak mie instan! Hanya saja, dalam memasak egg benedict atau florentine, airnya dikasih sedikit cuka. Saya tidak merasakan jejak cuka itu di telur tapi yg saya rasakan adalah telur yg bersih dan tidak basah (beda dengan telur di mie instan itu..).

Seni memasak telur adalah tingkat kematangannya. Dulu di warung burjo langganan saya di kampus, ada kategori ”setengah matang” dan tiga perempat matang”. Nggak kalah sama steak. Begitu juga telur ceplok londho ini. Jika terlalu matang akan terasa kering dan hilang kelembutannya, sementara jika terlalu mentah tentu rasanya tidak enak dan bentuknya tidak cantk. Yang pas dari segi rasa dan bentuknya ranum merekah.. ah itu dia…

Saus hollandaise intinya dibuat dari butter dan kuning telur, lalu ditambah bumbu lainnya. Ada sedikit jeruk lemon atau air untuk mencari konsistensi yang pas. Pramusaji menambahkan lada hitam setelah piring diletakkan di meja. Begitu dicicip, memori saya kembali ke warung burjo itu dan berbisik: rasanya merica putih lebih pas.. he he he…

Saya suka sekali perpaduan renyah dan kasarnya English muffin dengan kelembutan telur. Rasa gurih saus hollandaise ternyata berhasil menyelaraskan aroma dan rasa telur. Bayamnya tidak terlalu terasa tapi memperkaya tekstur. Dikunyah perlahan seiriama belaian angin pantai.. halah.. hiperbola…

One thing for sure: I’ll be back for this beautiful Sunday morning…

Komentar»

1. andy - September 9, 2008

nyammmmmmmm….🙂 gaya bahasanya laksana pujangga kuliner nih, klo dihayati bisa bikin air liur netes dech hehehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: