jump to navigation

Late (for) Dinner Maret 31, 2008

Posted by Dadi Krismatono in Kuliner.
trackback

Sehari sebelum libur panjang adalah puncak kemacetan di Jakarta. Itu yang terjadi sehari sebelum loooong weekend yang baru lalu. Jadilah saya terlambat datang ke acara makan malam di Segarra, Ancol. Dilihat dari derajat kemiringan duduk menyandar pada kursi, kayaknya perjalanan udah mendekati akhir nih… Ada Pak Bondan Winarno beserta keluarga, Capt. Gatot yang tetep keren walau malam sudah menjelang dan perut sudah kenyang, Natalia, Devi dan Didit, juga Lorentia. (Maaf kalau ada yang belum kesebut).

Untung tidak disetrap karena terlambat. Tapi belakangan saya tahu bahwa saya nggak kebagian dua red wine yang disajikan Yohan Handoyo malam itu. Gosh! Makanan pembukanya adalah fushion sushi. Salmon yang di-grill sebentar, ada cipratan orange sauce yang berpilin rasa dengan kepyuran furikake alias abon ikan merah jambu khas Jepang dan gari atau jahe merah yang biasa disajikan dalam sushi. Salmon yang gurih karena dibakar sebentar dan kepyur-kepyurannya itu membawa rasa gurih yang sekilas terlalu gurih untuk umpan tekak. Tapi ternyata ada rahasianya, yaitu pairing dengan Otuwhero Sauvignon Blanc 2006 dari Marlborough , Selandia Baru. Otuwhero adalah satu dari sedikit winery yang hanya memproduksi satu varietas, yaitu suavignon blanc. Memang kekayaan alam Selandia baru telah menyediakan terroir buat varietas cantik ini. Elegant dan crisp, dengan perpaduan aksen mineral dan fuity yang ceria. Mmm… terbayang deh angin laut yang dibawa dari Laut Pasifik Selatan ke lembah Awatere.

Otuwhero ini juga menjadi sparing partner yang tangguh untuk Canadian Oyster yang disajikan kemudian. Yohan berpesan agar saya hanya menggunakan perasan lemon, tidak perlu mignonette. Seperti sensasi berubahnya rasa ketika garam bertemu tequilla, itulah yang terasa pada palate ketika oyster berubah menjadi manis tersiram oleh sauvignon blanc di dalam mulut. Wow..

Main coursenya lumayan berat. Ada wagyu steak yang unik sehingga saya sempat mencari-cari, daging jenis apa ini? Bahkan saya sempat mengira ini lidah atau daging yang dimasak gaya scaloppini (digebuk-gebuk biar gepeng). Teksturnya masih cantik, tapi ada yang hilang. Mungkin karena—lagi-lagi—saya terlambat, si wagyu urung tebar pesona yang sempurna. Begitu juga lamb chop-nya. Sebenarnya saya suka sekali lamb chop ”minimalis” seperti yang disajikan malam itu. Namun sayang agak melawan dan kurang juicy ketika dikunyah.

Yang menarik malah side dish-nya. Mashed sweet potato. Warnanya yang ungu membuat saya mengira ini dibuat dari talas. Tapi ternyata seluruh Segarra sudah kompakan. Semua pramusaji menjawab, ”Wah .. itu resep rahasia kami..” Aduh aduh.. Oke deh. Ada rasa ”glutinous” dan kasar khas talas (nah, ya khan?!) tapi juga ada kelembutan dan rasa creamy. Boleh juga nih buat bikin quiz atau blind tasting.

Hidangan karnivora ini dipadukan dengan Casa Lapostolle Cuvee Alexandre Merlot 2006 dari Chile . Ini juga yang disajikan Yohan waktu potluck beberapa waktu yang lalu. Layering rasanya cakep banget dengan tanning yang pas, baik untuk diminum solo maupun di-pair dengan steak. Untung saya masih kebagian Graham’s Late Bottled Vintage Port 2001. Port ini beda dengan tawny atau sherry port yang biasa beredar di Jakarta karena kehalusannya. Tidak ada rasa “crackle” yang sering muncul dalam port. Port jenis ini di-aging selama tiga tahun dalam botol sebelum diririls. Jadi, walau vintage-nya tahun 2001, port ini baru akan rilis paling cepat tahun 2004 di pasar. Harumnya anggun dan terasa velvety pada palate. Hmm…

Acara malam itu ditutup dengan penampilan Yohan “the mixologist”. Pertama, kami mencicipi limonciello, minuman khas Italia yang dibuat dari parutan kulit lemon. Nice aroma, terutama ketika mengembang di dalam mulut Namur masih ada tarikan yang sedikit kasar. Kadar alkoholnya juga terlalu tinggi buat saya. Tapi sebagai eksperimen pertama tentu patut mendapat acungan jempol! Kalau udah ada second batch-nya kabar-kabari ya…

Lalu hazelnut martini yang …. nakal! Ha ha ha… Layering rasanya “jadi”, sehingga pergantian antara gurihnya hazelnut dengan kick dari alkohol muncul bergantian dengan seru. Pertemuan malam itu ditutup dengan Segarra Coffee yang membawa nostalgia sirop coffe cream di botol bertutup prop jaman dulu. Kick dan rasa pahit yang khas dari espresso-nya masih muncul. Itu yang bikin seru. Mungkin gin yang dipakai sehinga tendangan alkoholnya terasa “berwibawa”.. Tapi ingat, kopi ini tidak cocok untuk sarapan pagi.

Aduh, kok metaforanya makin aneh-aneh ya..? Udah deh, waktunya pulang. Thank you buat Yohan, Renee dan Chef Ragil yang menjadi host malam itu.

Moral of the story: jangan terlambat kalau datang ke acara makan.

Komentar»

1. deNna - Juni 13, 2008

mau nanya… makanan di segarra itu harganya berkisar berapa ya? trus kalo dateng malem minggu gitu susah nggak dapet tempat duduknya?
Thanks…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: