jump to navigation

Wine & Sunset Februari 27, 2008

Posted by Dadi Krismatono in Kuliner.
trackback

Jakarta yang terus mendung beberapa hari ini membuat saya ingat senja yang indah di pinggir teluk Jakarta, Januari lalu. Ya, di Jakarta. Bukan di Seminyak atau Uluwatu.

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat undangan, tepatnya “tantangan”, untuk wine potluck dari Yohan Handoyo di Segarra, tempat nongkrong yang segera akan jadi hype di Jakarta. Desainnya mengingatkan pada film seri TV “Miami Vice’ yang dibintangi Don Johnson. Tempatnya di Ancol ujung, setelah melewati kuburan Belanda.  

Timingnya pas banget! It was a lazy afternoon ketika sebagian orang libur, sebagian bekerja (termasuk saya!), karena peraturan cuti bersama pada hari kejepit yang tidak jelas itu. Ketika sampai, matahari masih menyisakan semburat jingga yang asyik. Sebelumnya nggak mimpi deh bisa nemu sunset spot di Jakarta.  Sambil ngobrol mulailah potluck dibuka. Sebagian teman yang tidak sempat mampir ke bottle shop memilih untuk mengambil wine dari list-nya Segarra. Yohan merekomendasikan beberapa nama.  

Yang saya ingat karena rasanya yang ciamik adalah Clos de Los Siete ‘05 dari Mendoza, Argentina. Saya ingat karena Yohan juga pernah mengajak buka botol ini waktu Balisutra. Biasanya saya menghindar dari wine keras kepala seperti ini tapi godaan dari aroma berry, rempah dan kayu, membuat saya mau menunggu satu jam sebelum wine ini bisa dicicip. Kebetulan 2005 adalah big vintage. Clos de Los Siete ini adalah ”eksperimen” seorang mahaguru Bordeaux, Michael Rolland. Ramuannya terdiri dari 45% Malbec, 35% Merlot, 10% Cabernet Sauvignon dan 10% Syrah. Waktu selesai di-decant, mmm… wine yang kaya dengan struktur yang kokoh dan pe-de. 

Casa Lapostolle Cuvee Alexander Merlot ‘05 ada di nomor dua daftar wine yang saya ingat. Wine Chile ini merajut lapis demi lapis aroma buah yang “glossy” dengan vanilla yang “doff” (he he.. maksa..). Tannin-nya lumayan pas sehingga dia bisa jadi quaffable wine (wine yang bisa diminum solo, tidak perlu bersama makanan).  

Yang mendapat pujian dan anggut-anggutan dari semua yang hadir (maksudnya semua pada manggut-manggut ketika menyesap wine ini) pada sore hingga dini malam itu adalah Domenico di Luccio Moscato d’Asti 06 dari Piedmont, Italia. Moscato satu ini sama sekali tidak manis permen, malah manis-manis manja (halahh..). Acidity-nya cukup untuk mem-balance sweetness-nya dan …ini… ending-nya yang aromatic dan membuai…   

Beginilah risikonya potluck. Banyak botolnya, sampai susah bikin reviewnya. But that sunset in Segarra was definitely most beautiful one I had in Jakarta.

Wine and sunset? That’s absolutely a pair made in heaven!

Komentar»

1. puitri hati - April 3, 2008

kadang pulang kerja di solo, sy juga sering melihat sunset yg indah. di waktu cuaca cerah tentu. di barat gunung merbabu dan merapi, tampak bening, dg cahaya merah, karena arah saya ke timur jadi nengok nengok terus ke belakang. eh jadi ingat cerpennya seno gumira yg judulnya senja diatas kaca spion..
eh dad kemarin puisi ku ikut menang di tab nyata lho yg edisi valentine (aku wis crita belum ya, ) td mlm pemenang 1 nya aan mansyur dtg ke wisma seni solo, aku ikut baca puisinya juga smlam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: