jump to navigation

Zinfandel Merah, Zinfandel Putih Januari 7, 2008

Posted by Dadi Krismatono in Kuliner.
trackback

Zinfandel dikenal sebagai wine dari California. Padahal, para ahli wine belum mufakat tentang asal-usul sejarah varietas anggur yang satu ini. Pendapat yang kini secara umum diterima adalah zinfandel ini bersaudara dengan anggur dari kawasan Italia selatan dan keduanya punya akar kekerabatan jauh ke jenis anggur di Kroasia sana. Penelusurannya serius banget, sampai menggunakan teknologi untuk mengurai DNA.

Wine Zinfandel yang punya nickname “zin” paling tidak hadir dalam dua wajah: merah dan rose. Yang rose ini yang disebut “white zinfandel”. Wine ini dijuluki bunglon karena penampilannya yang berubah-ubah: mulai dari anggur merah yang fruity, hangat dan sarat dengan rasa buah berry, hingga rasa tannic, spicy, dan asam. Kadang-kadang Zin juga tampil dengan rona merah yang lembut, manis dan kalem, dibuat menjadi sparkling wine, menjadi dessert atau fortified wine hingga tampil garang dengan kadar alkohol yang tinggi karena memang kadar gula dalam buah anggur ini tinggi dari sononya. Daerah seperti Dry Creek Valley, Napa Valley, Russian River Valley atau Sonoma County dikenal sebagai gudangnya zinfandel. Selain itu, beberapa tempat di Oregon (yang terkenal degan Pinot Noir), Mexico hingga Afrika Selatan juga secara sporadis memproduksi Zin.  

Dalam acara buka botol pertama di tahun 2008, saya dan teman-teman Klubwine mencicipi Zin dalam dua wajahnya: merah dan putih. Yang merah adalah 2006 Woodhaven Zinfandel, sementara yang putih adalah 2006 Delicato White Zinfandel. Dua-duanya California punya.  Zin merah warnanya seperti baru cincin merah delima. Dalam bahasa Inggris disebut “garnet”. Tannic-nya lumayan mengiringi citarasa plum, cherry dan sedikit spicy overtone. Tapi spicy-nya bukan peppery seperti yang sering muncul pada shiraz. Ini lebih “berat” begitu. Mungkin pala (nutmeg). Ada kedalaman (depth) pada palate yang menurut saya akan seiring-sejalan (mirror) jika dipadankan dengan hidangan daging merah “basah” seperti goulash.  

Zin putih dari Delicato tampil cantik dalam balutan warna pink ke arah merah bata. Inilah hasil dari buah zin yang dibiarkan “duduk” selama 5 jam sebelum “dikupas” kulitnya. Sentuhan pertamanya: semangka! Lembut dan seksi di bibir. Baru kemudian beriringan strawberry dan ada sedikit celekit dari kiwi, sehinga wine ini tidak kemanisan. Ringan, crisp, dengan aroma manis yang membuai. Saya pernah mencicipi beberapa rose yang lebih kompleks, dengan aroma yang lebih berat, namun white zin dari Delicato ini rasanya menyenangkan untuk dijadikan aperitif dengan beberapa “finger foods”.  White Zin sering disebut juga sebagai “quaffing wine”, yang artinya bisa diminum sendirian, tanpa perlu di-pair dengan makanan. Tidak heran jika di Amerika, white zin sering hadir di acara piknik, disajikan dengan gelas plastik, on the rock dan diminum dengan sedotan!  

Dua wajah zinfandel tadi rasanya cocok untuk memulai tahun yang baru: ada keseriusan, karena tantangan dan cobaan pasti datang menghadang, tapi ada juga keceriaan dan keriangan karena ada orang-orang yang kita cintai disekeliling kita.  

Selamat Tahun Baru,

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: