jump to navigation

Ming, Sanur Januari 2, 2008

Posted by Dadi Krismatono in Kuliner.
trackback

Konferensi Perubahan Iklim awal Desember lalu membuat Bali hiruk-pikuk dalam suasana yang berbeda. Terutama, karena banyaknya suara nguing-nguing dan jalanan tersendat ketika orang-orang yang sangat penting alias VIP lewat. Nusa Dua yang biasanya tenang terusik oleh pinguin atau beruang kutub yang berdemo minta diselamatkan. Tentu bukan pinguin atau beruang kutub beneran. Itu aksi para aktivis lingkungan yang dengan kreatif menyampaikan pesan kepada delgasi dari sekitar 180 negara yang bernegosiasi tentang masa depan planet bumi kita yang cuma satu ini.

Di sela-sela hiruk-pikuk yang hectic itu saya menyempatkan diri escape ke satu restoran yang sudah lama ada dalam ”toplist” saya: Ming, di Sanur. Jalan Danau Tamblingan seolah tidak terusik oleh keramaian Konferensi yang konon akan juga dihadiri oleh Arnold Scwhazenegger, George Clooney dan Leonardo di Caprio itu. (Sayang saya harus kembali ke Jakarta lebih awal, jadi nggak sempet ngecek apakah mereka beneran dateng). Suasana Sanur selalu tenang, tidak bising dan empet-empetan seperti di Kuta, tapi punya vibe yang selalu bkin rindu.

Ming ada di jalan itu. Konon, sejak lima belas tahu yang lalu. Papan namanya juga tidak terlalu mencolok jadi harus benar-benar diamati. Interiornya terbuka dan eklektik. Perpaduan etnik Bali, nuansa merah Cina dengan lukisan impresionis dari pelukis Walter van Oel. Pelukis Belanda ini merasakan kedekatan dengan gagasan Budhha sehingga tak heran lukisannya selain memberi kesan modern, juga spiritual. Di bagian tengah restoran ada bagian terbuka alias alfresco. Hangat. Meja dan kursinya sedikit lebih lebar dari ukuran rata-rata. Hmm.. sudah disiapkan untuk berlama-lama nih…

Langgam utama hidangan Ming adalah Perancis, dengan lompatan yang nakal ke makanan lokal dan Asia. Tidak perlu dicap ”fusion” supaya tidak menimbulkan ”confusion”.. he he he… Hal itu diakui oleh Pak Ming dalam obrolan selepas makan. Chef sekaligus owner yang selalu ramah dan mengajak tamu berbicang ini mengaku bahwa pada awalnya ia memasak Chinese food namun kemudian jatuh cinta dengan masakan Perancis ketika beliau berkunjung ke negeri Napoleon itu tahun 1970-an. Makanya Pak Ming tidak ragu memasukkan Soto Ayam atau Ayam Bumbu Padang ke dalam menu.

Perpaduan itu juga yang saya temukan dalam hidangan pembuka yang saya pesan malam itu: ”carpaccio de poisson” alias irisan ikan mahi-mahi mentah. Kesegarannya boleh diacungi jempol dan tekstur ikan mahi-mahi yang ditengah-tengah antara “succulent” dan “melted” itu berpagut mesra dengan kucuran jeruk nipis dan mustard. Tapi ada kelokan lain, seperti Kelok Ampek-Ampek alias 44 di dekat Danau Maninjau, Sumbar. Saya amati piring saya. Ternyata ada irisan daun kucai, yang membuatnya cita rasanya berayun-ayun, tidak hanya “straight to the West”.

Saya bingung membuat pairing-nya. Karena haus dan kepanasan saya memesan kir royale. Buih sparkling wine-nya segera membasuh kerongkongan dan wangi creme de cassis terasa enak. Namun Ming juga menyajikan welcome drink yang sangat unik. Dalam gelas bulat kecil, perpaduan jus salak, jeruk, jeruk nipis dan sedikit arak Bali berfungsi sebagai apertitif. Minuman ini membangun intensitas pada palate dan karena itu meningkatkan selera (kok, resmi bener..?). Minuman ini tidak, atau belum, diberi nama. Kepekatan dari jus salak di lidah dengan selarik permukaan yang melayang dari jus jeruk dan jeruk nipis serta sedikit ”kick” dari arak Bali benar-benar pas. Ya sudah, walau tidak bisa disebut wine pairing, dua minuman ini deh yang jadi pairing hidangan pembuka ini.

Ada lagi hidangan unik yang tidak ada namanya. Dalam mangkuk kecil disajikan mashed potato yang telah dikurangi kepadatanya dengan mayonaise dan mustard untuk dioleskan pada roti baquette pangang dengan ornamen gosong-gosong yang ”rumahan”. Perpaduan antara kerenyahan roti dengan tekstur dan kegurihan mahed potato luar bisa. Tambah sesesap kir royale…

The beauty of simplicity dihadirkan Ming dalam hidangan utama “fillet mignon de boeuf au roquerfort”. Hidangan ini adalah tender beef medallion yang di-grilled dengan saus blue cheese. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar menjadi: daging sapi empuk berbentuk medali yang dipanggang dengan saus keju biru.. ha ha ha.. Untuk pairing-nya saya minta dituang William’s Blend Cabernet Shiraz 2006. Yang luar biasa dari hidangan ini adalah kolaborasi antara apeknya blue cheese degan sensasi juicy dan raw dari daging yang memang saya minta dimasak pada kematangan medium rare. Celakanya, cabernet shiraz-nya bermain double agent! Aroma spicy-nya menguatkan citarasa daging sambil tannin-nya mengiris rasa berlemak pada mulut dari saus keju. Fantastis.

Selesai makan, ada satu yang selalu saya tunggu-tunggu dari Ming. Saya sudah tidak kepikiran dessert karena sudah penuh. Tapi itu loh.. ya.. limoncello! Liquor yang dibuat dari irisian kulit lemon yang aslinya berasal dari Italia selatan itu memang selalu jadi pemungkas makan malam di sini. Minuman yang dihidangkan setelah makan disebut ”digestif” sementara”aperitif ” adalah minuman sebelum makan. Limoncello-nya cantik. Wangi dan memberi sensasi bersih pada mulut. Boleh dong segelas lagi. Gelasnya kecil kok…

Bukan hanya soal rasa, pelayanan Ming juga diatas rata-rata. Jika Anda menginap di seputaran Sanur, seperti saya waktu itu, Ming akan dengan senang hati menjemput dan mengantar Anda pulang. Jadilah saya malam itu mendapat kehormatan diantar langsung oleh Pak Bardi, sang manajer restoran. Untung nggak ketiduran ya.. bisa malu-maluin tuh…

Merci beaucoup, Ming. C’est magnifique!

Ming – Jl. Danau Tamblingan 105 Sanur Telp. 0361-281948

Komentar»

1. puitri - Januari 4, 2008

wah spt surga dunia tampaknya ya, hmm.., hmm. tapi banyak bahasa susahnya dalam menu-menu itu ya, dalam bahasa jawa ” ra gaduk”. aku bayangkan bila salak pondoh di TUri utara kota YOgya itu dibikin jus, pasti akan menarik lebih lagi wisatawan di sana kali ya?
jadi ingat temanku yg kmarin juga ke Bali pas ada KTT Itu, cuma dia tdk ikut hanya kebetulan acranya bareng. katanya di Bali ia hanya ingin merasakan babi panggangnya, wow , kebetulan dia boleh makan babi. trus dia bilang gini, “sayang kamu tdk boleh makan ya “, padahal enak lho!. (ah gila..)
slmat jalan2 dad, kamu orang yang sangat beruntung.

2. Hendra - Maret 31, 2008

Menarik sekali tulisan anda. Anda mampu membuat saya membayangkan apa yang tengah anda alami di bali…Bravo, teruslah berkarya, broth


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: