jump to navigation

Bubur Sumpah Pemuda Oktober 29, 2007

Posted by Dadi Krismatono in Kuliner.
trackback

Hari Minggu yang baru lewat adalah Hari Sumpah Pemuda. Banyak acara dibuat untuk meperingatinya. Yang “resmi kenegeraan” diadakan di Museum Sumpah Pemuda. Hayo, dimana? Jangan-jangan banyak yang tidak tahu atau lupa dimana gedung bersejarah itu berada. Saya tidak hadir tapi teman saya cerita betapa dia terkesan dengan penampilan maestro violin Idris Sardi yang memainkan lagu dengan biola yang sama dengan digunakan oleh W.R. Supratman untuk mengumandangkan lagu “Indonesia Raya” pertama kali 79 tahun yang lalu. Setelah itu disambung kolaborasi Idris Sardi dengan diva biola Maylaffayza. Duh… kalau tahu ada Mayla, pasti saya datang… He he he.. nggak patriotik amat sih!

Malamnya saya datang ke acara peringatan momen yang sama namun dengan tajuk yang cukup seksi: “Saatnya Kaum Muda Memimpin!” Tempatnya di Gedung Arsip Nasional yang artistik itu. Acaranya lumayan menghibur. Senang sekali bisa bertemu dengan teman-teman di kampus dan di jalanan, untuk terus menghidupkan semangat. Kami yang hadir tertawa lepas ketika kelompok musisi jalanan “Stadela” (singakatan dari Stasiun Depok Lama) memelesetkan lagu yang sekarang lagi hits menjadi: “O o.. Kamu ketuaan, berkuasa lagi. Kami sudah bosan… dengan dirimu!”

Selesai acara kami mampir ke Bubur Kwong Tung (BKT) di Pecenongan. Kawasan ini memang sudah lama menjadi salah satu hotspot kuliner di Jakarta. Restoran BKT ini tidak terlalu besar. Di bagian depan ada akuarium tempat berbagai jenis ikan dan kerang. Begitu masuk, eh, ada Sari Nila Warsono yang cantik jelita itu. Nggak apa-apa deh, nggak ketemu Mayla tapi sempat berpapasan dengan Sari Nila. Duh… kalau tahu Sari Nila gemar BKT, pasti saya lebih sering datang ke sini… (Ini apa sih!?).

BKT menyajikan hidangan a la Hong Kong yang banyak menggunakan teknik steam. Kami memesan bubur ikan kerapu, bubur kepiting, steam udang bawang putih, steam ikan kerapu, du miauw ca bawang putih dan sebagai kondimen bubur kami memesan cakwe, telor asin, telor pitan dan kacang goreng. Minumnya Chinese tea, tentu saja.

Du miauw-nya datang duluan dan segera kita perlakukan sebagai appetizer. Sayang agak terlalu matang sehingga kerenyahan yang harusnya berpadu elok dengan aroma pungent (tajam) khas sayur ini kurang optimal.

Bubur ikan kerapu dan kepiting segera berdatangan. Teksturnya halus dan polos, tidak terlalu encer. Pas. Di mangkuk bubur kepiting tampak kontras warna oranye telur kepiting yang memperindah rasa dan penampilan. Selain kondimen yang sudah saya sebut di atas, masing-masing kami dipersenjatai dengan sepiring kecil campuran kecap encer dengan irisan jahe dan cabe. Cakwe yang garing saya letakan di dasar mangkuk, guyur dengan bubur, taburi kacang dan campuran kecap. Disisinya, irisan telur asin dan telur pitan siap menemani. Hmm.. perpaduan antara kerenyahan cakwe yang sudah agak basah dan kelembutan bubur, potongan ikan dan irisan jahe, baluran kecap encer, kriuk-kriuk kacang goreng, dipungkasi dengan sentakan dari irisan cabe. Lalu, sesesap Chinese tea yang wangi, yang tannin halusnya membersihkan palate… Komplit!

Steam udang bawang putihnya cakep. Udang dibelah dua, ditaburi cincangan bawang putih dan bumbu. Sisa-sisa juice yang keluar dari proses mengukus menambah kaya aroma. Udangnya manis karena relatif segar, dibalut tendangan bawang putih yang belum layu. Steam ikan kerapunya tidak mau kalah. Malah bumbunya sangat minimalis dan memaksimalkan keleokan tekstur dan kelezatan daging ikannya. Ternyata keputusan saya untuk baru fokus pada steam ikan kerapu setelah menyelesaikan bubur adalah keputusan yang tepat.

Selain di menu tidak ada dessert, rasanya kami pun sudah tidak punya space lagi untuk itu. Selesai melepas rindu kami pun beranjak pulang.

Selamat Hari Sumpah Pemuda.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai kekayaan kulinernya.

Komentar»

1. bumisegoro - Oktober 31, 2007

barangkali ada info, buburnya ada label halalnya ga ya?

btw, plesetan lagunya stadela maut tuch… kalo jaman Eyang ga jamin dech, hehehe

2. dadi krismatono - Oktober 31, 2007

Bubur Kwong Tung mencantumkan label halal. Terima kasih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: