jump to navigation

Red & White Wine Lounge di Kemang Oktober 26, 2007

Posted by Dadi Krismatono in Kuliner.
trackback

Beberapa waktu yang lalu saya, Tatyo dan Fathia menjajal wine lounge baru di bilangan Kemang, namanya Red and White (RW). RW ini berada di “kompleks” seberang Kemang Food Festival yang happening itu. Patokan gampangnya ada di sebelah salon Lu Va Ze. Kalo nggak salah dulu ini Warung Kemang.

Begitu masuk kita disambut dengan suasana yang rumahan banget. Dinding putih bersih, beberapa sofa atau kursi tamu mengelilingi meja. Ada juga yang bergayaa bar stool. It loh, kursi berkaki tinggi (sehingga mejanya juga tinggi dunk!). Nuansa modern mencuat dari TV plasma yang menghiasi dinding. Saya merasa seperti mertamu ke rumah pejabat, diterima oleh pembantunya dan disuruh duduk dengan diiringi pesan standar, “Ditunggu sebentar, Bapak sedang istirahat.”

Soal koleksi saya tidak mau komentar dulu deh, di tengah kemarau wine yang berkepanjangan ini. Tapi sekilas bisa saya catat bahwa koleksi didominasi oleh Australia. Ada Goundrey, Wither Hills, atau Wolf Blass. Ada Chile atau California tapi saya tidak ingat apakah ada Perancis. Cara penyajian lumayan beda, di deretan rak, ada satu wine di-didsplay dan persis di bawahnya dibuat kolom berisi stock dari wine yang “dipejeng” di bagian atas. Selain wine, lounge ini juga menyediakan Alize, liquor Perancis yang dibuat dari cognac dan buah-buahan. Kapan kapan patut dicoba tuh!

2002cabsauv-timber-ridge.jpg

Malam itu kami membuka 2002 Timber Ridge Cabernet Sauvignon. Wine ini berasal Margaret River dari Australia yang merupakan salah satu daerah penting penghasil chardonnay dan cabernet sauvignon di Australia.

Warna merahnya cukup “halus” untuk ukuran cab-sauv. Aroma berry dan kayu putih beriringan. Ternyata kayu putih itu bahasa Inggrisnya eucalyptus ya? He he he… Tatyo langsung menambahkan, “Itu kan makanannya koala…” Dan jadilah kita tiga koala ndelesep di sofa yang empuk dan besar itu.

Samar-samar ada aroma mint. Body-nya sedang-sedang saja, cenderung lembut dan tannin-nya halus dengan finnish yang cukup panjang tapi tetap halus. Namun saya tidak bisa menyembunyikan dugaan bahwa kemungkinan wine ini sudah lelah (tired) atau salah treatment dalam penyimpanan karena semua pesona itu seperti malas-malasan bangkit untuk memenuhi palate.

Pengetahuan dan wawasan para pegarda-depan RW juga perlu ditingkatkan. Setelah berakrobat untuk membuka wine, yang sempat saya khawatirkan akan merusak wine, ketika botol diantar ke meja dan dituang, masak botolnya mau ditutup lagi dengan cork? Biasa nuang Chivas di karaoke ya, Mas? He he he…

Saran saya, kalau mau ker RW, bawa teman-teman yang asyik dan heboh untuk mengimbangi ambiens yang dingin dan plain.

Komentar»

1. benbego - Oktober 28, 2007

mahal nggak?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: