jump to navigation

Berbuka Mesra dengan Kebuli Oktober 23, 2007

Posted by Dadi Krismatono in Kuliner.
trackback

Berbuka puasa bersama bisa menjadi perwujudan kekhusyukan ibadah Ramadhan. Dulu saya mengira ibadah yang khusyuk adalah ibadah yang serius, nyureng, seperti ujian Sipenmaru. Belakangan saya membaca bahwa kata “khusyuk” dalam bahasa Arab mempunyai akar kata yang sama dengan apa yang kemudian diserap oleh bahasa Indonesia menjadi “asyik mahsyuk” yang kurang lebih artinya intim atau mesra, dalam konotasi positif. Jadi, ibadah yang khusyuk adalah ibadah yang menggambarkan hubungan yang mesra dengan Sang Khalik. Alangkah indahnya jika kemesraan itu juga terpancar dalam tingkah laku kepada sesama manusia dan lingkungan alam ciptaan Tuhan.

Pekan terakhir bulan Ramadhan keluarga kami mengadakan buka bersama. Karena acaranya akan didahului dengan pengajian bersama anak yatim piatu maka diputuskan untuk tidak masak sendiri. Pilihan pun jatuh pada nasi kebuli “Puas” yang ada di Condet. Saya pernah mencoba yang di Jatiwaringin dan penasaran, kok bisa permata kuliner seperti ini cuma tampil sekelas warung? Pertanyaan itu terjawab ketika membaca kolom Pak Bondan Winarno yang menyebutkan bahwa “Puas” merupakan metamorfosis dari nasi kebuli di Hotel Sriwijaya yang telah kondang kaloka itu.

Menu yang kami pesan adalah nasi kebuli ayam, roti jala dengan kari ayam dan dessert srikaya. Sengaja kami tidak memilih kambing untuk kesempatan kali ini.  Waktu mengambil pesanan saya salut dengan kerapihan dan ketelitian “Puas” dalam menyiapkan makanan yang di-take away dalam jumlah yang cukup banyak. Untuk nasinya kami memang diminta untuk membawa termos. Ayam goreng dan roti jala dimasukkan ke dalam kotak mika. Kari ayam dimasukkan dalam kantong plastik yang biasa dipakai oleh catering. Acarnya ada dua, acar roti jala dan acar nasi kebuli. Acar roti jala adalah acar biasa dari timun, wortel, bawang merah dipotong kecil-kecil dan cuka yang ditempatkan di plastik sementara acar nasi kebuli terdiri dari timun dan nanas dengan potongan medium, dilengkapi dengan saus yang masih dibungkus dalam plastik. Yang sangat menarik adalah kondimen kismis, cacahan kenari dan bawang merah goreng yang nanti menjadi topping nasi kebuli yang dikemas dengan rapi. Srikayanya sudah dalam mangkuk plastik kecil berbentuk kotak dengan pinggiran gelombang kecil-kecil, seperti yang dipakai abang penjual ager-ager di SD dulu… Setelah mendapat briefing bagaimana cara menyiapkan hidangan kami pun segera kembali ke rumah. Aroma nasi kebuli memenuhi mobil.

Sampai di rumah saya pun mulai beraksi, mengaduk acar nanas dengan saus dari bawang dan cabe gaya Chef Jamie Oliver dengan dua sendok kayu. Halah.. kebanyakan gaya! Saya sempat bingung bagaimana menata topping nasi kebuli karena berada dalam termos yang tinggi, bukan melebar. Akhirnya masih dengan gaya The Naked Chef (tapi saya tidak naked tentunya) saya aduk kismis, kenari dan bawang goreng ke dalam nasi kebuli. Lamat-lamat aroma nasi kebuli yang berubah karena kemasukan unsur baru mulai terasa. Saya tutup termos dan menyiapkan yang lain. Setelah selesai menata meja, saya buka termos nasi dan hmm… aroma spicy kebuli menjadi makin kaya oleh bawang goreng dan kenari serta “a splash of sweetness” dari kismis. Langsung saya merasa betapa jarum jam bergerak sangat lambat…

Adzan Maghrib berkumandang. Alhamdulillah, puji Tuhan, ibadah puasa hari ini dapat dituntaskan. Setelah berbuka dengan es teler Sinar Garut yang segar dan penganan kecil lalu disambung shalat maghrib, mulailah kami menyerbu hidangan utama, yang sedari tadi dilirik.

Kari ayamnya sangar! Itu komentar yang terlontar karena rasa pedas dan panas yang langsung menyergap mulut. Ayamnya empuk dengan bumbu yang meresap baik walau rasanya potongannya terlalu besar. Mungkin karena disiapkan untuk ukuran per porsi. Roti jalanya empuk namun berkarakter, tidak lembek dan hancur terkena kuah. Cocok sebagai pembuka.

Nasi kebulinya tampil memesona. Walaupun tidak menggunakan beras jenis long grain namun bulirannya cantik, tidak hancur dan keringnya pas. Aroma rempah dengan kapulaga dan kayu manis yang sedikit lebih tegas berpadu dengan aroma kismis dan bawang goreng. “Lauk”-nya ayam goreng rumahan dengan bumbu yang sederhana namun renyah dan empuk. Cacahan kenari memberi karakter tersendiri ketika dikunyah, lengkap dengan aromanya yang wangi. Apalagi ketika si kismis genit mencubit!

Dari dulu saya telah tercuri hati oleh acar nanas nasi kebuli. Berbeda dengan acara nanas gaya Pekalongan, dimana bawang merah dan cabe merahnya (sebagian) utuh sehingga bisa dikletus-kletus, “Puas” menggiling halus cabe dan bawang dan menggunakannya sebagai “dressing” dari acar nanasnya. Berbeda tapi tetap tangguh mengimbangi sensasi “heavy” dari rempah nasi kebuli dan menyisakan pedas cabe yang asyik di penghujung suapan.

Pada kesempatan itu saya menemukan saat paling tepat untuk makan srikaya sebagai dessert, yaitu ketika aroma dan sensasi panas rempah masih sedikit tersisa di mulut, langsung di-splash dengan kelembutan dan kegurihan srikaya. Apalagi kalau srikayanya dingin setelah disimpan di lemari es.

Sayang saya tidak punya persediaan kopi rempah Arab untuk menutup malam itu. Satu kesimpulan lain yang kami sepakati malam itu adalah: lain kali harus dicoba kebuli kambingnya! Ha ha ha..

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H. Semoga membawa kedamaian bagi kita semua. Kupat banyune santen, yen wonten lepat nyuwun pangapunten. 

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: