jump to navigation

Wata Kitchen @ Pasaraya Blok M Oktober 9, 2007

Posted by Dadi Krismatono in Kuliner.
trackback

Sudah lama sekali saya tidak ke Pasaraya Blok M. Beberapa tahun yang lalu tempat ini sempat menjadi salah satu shopping center yang “happening” di Jakarta. Namun persaingan bisnis properti komersial telah menempatkannya di pinggir, agak berjarak dari gemerlapnya Senayan City atau Grand Indonesia, misalnya.

Tapi saya kembali ke Pasaraya. Bukan untuk belanja walau Lebaran sudah dekat, namun untuk menjajal Wata Kitchen yang iklannya saya baca di surat kabar. Dalam iklan itu dibilang bahwa sajian di food court itu adalah rekomendasi Pak Bondan Winarno.

Kunjungan pertama saya di hari kerja, sekitar jam 19.00, mengikuti saran Kang Irvan. Wata Kitchen ada di basement Pasaraya. Di basement ini memang dari dulu terkenal dengan food court yang cukup baik. Di situ ada sate padang Mak Syukur yang legendaris, salah satu outlet pertama Rotiboy, ada rujak Aceh Bang Jali dan masih banyak tempat makan yang value for money. Sayang saya lihat Taichan Ramen sudah tutup.

Wata Kitchen menempati area di sudut lantai basement ini. Seingat saya dulu juga ada food court di tempat ini. Duh, namanya saya lupa—menggunakan kata-kata Jakarta atau Betawi gitu. Wata Kitchen ternyata singkatan dari “Wajan-Wajan Tanah Air”. Mungkin terjemahan bebas dari “woks of the country”, ya? Interornya minimalis dengan sudut yang tegas, warna terang dan tata lampu warna putih membangun suasana lapang. Ketegasan itu diperhalus dengan wallpaper motif batik warna biru. Sesekali memang terasa suwung dan dingin, mungkin karena pengunjung belum ramai dan dapur-dapur belum terlihat sibuk.

Display makanan berdasarkan kategori daerah: Jawa Barat, Jakarta, Bali, Sumatera dan seterusnya sampai Indonesia bagian Timur. Yang menarik ada counter “In Between” yang menghadirkan Kambing Bakar Depot Tanjung dan conuter aneka nasi dan bubur. Mungkin nantinya akan dikembangkan menjadi counter masakan pernakan di Indonesia.

Counter-counter itu merupakan replika restoran atau warung yang sudah punya nama di Jakarta. Untuk Jawa Barat berasal dari RM Sambara, Jawa Timur dari RM Ngudi Roso, Manado dari Tinoor, Kalimantan dari Acil Ainun, Bali dari Ajengan hingga masakan Papua dari Yogwa di Kelapa Gading itu dan masih banyak lagi. Melihat koleksi yang ditampilkan saya menangkap “signature” Pak Bondan sebagai kurator.

PR bagi Wata Kitchen adalah floor operation. Pencatatan order dengan barcode lumayan modern namun masih menggunakan daftar manual sehingga kurang efektif. Penanda masing-masing counter juga minim informasi, selain keterangan tentang daerah yang menggunakan huruf akrilik besar. Sangat tidak terasa bahwa masakan yang disajikan merupakan pilihan dari restoran atau warung yang punya nama. Kredibilitas kurator yang dipertaruhkan dalam memilih makanan tidak diimbangi dengan penyampaian informasi kepada pengunjung bahwa yang disajikan di Wata Kitchen ini masuk kategori “bukan bintang biasa”.

Yang perlu segera diperbaiki adalah sistem pengantaran pesanan. Tidak ada penanda pesanan standar dari Wata Kitchen, yang biasanya berbentuk kotak dari plastik dengan nomer itu loh.. Memang ada counter yang berimprovisasi membuat alat penanda pesanan sehinga pramusaji bisa mengantar pesanan ke meja. Ada yang bagus, tapi ada juga yang terlalu sederhana (bahkan ada yang hanya berupa print out dilaminasi lalu dibentuk segi tiga) dan “njomplang” dengan desain interior Wata yang modern minimalis itu.

Kelemahan floor operation ini terbukti pada kunjungan saya kedua di hari minggu sore, ketika terjadi serbuan pengunjung yang ingin berbuka puasa. Yang paling parah adalah pengunjung harus datang lagi ke counter karena pesanan yang tak kunjung datang dan menemukan pesanannya tergelatak pasrah di sana karena tidak ada sistem penanda yang jelas kemana pesanan itu harus diantarkan.

Pada kunjungan saya yang ketiga, saya menemukan tanda reservasi berupa printout di kertas HVS tertulis “RESERVED” dan secuil kertas yang dilipat bentuk segi tiga berisi nama saya ditulis dengan spidol. Walau tulisan tangan saya cakar ayam tapi tulisan di penanda reservasi itu rasanya cukup memprihatinkan. Selesai makan ada teman saya menyulut rokok dan tidak ada pelayan atau manajer yang menegur padahal kami duduk di dekat pilar dengan tanda dilarang merokok (juga dari print out di kertas HVS). Waktu reservasi saya juga sempat menanyakan apakah ada area merokok dan dijawab bahwa di seluruh area tidak boleh merokok. Saya pikir lebih baik dengan tegas memisahkan area merokok dan tidak merokok daripada membuat peraturan tapi tidak ditegakkan secara konsisten (kok jadi mengingatkan pada pemerintahan sebuah negara yang kalau nggak salah bernama Indonesia, ya? Ha ha ha…).

Namun demikian saya optimis dan berharap bahwa semua itu hanya “operational hiccups” mengingat Wata Kitchen baru buka kurang lebih tiga minggu (CMIIW). Tinggal bagaimana pihak manajemen mengantisipasi dan merapkan strategi yang jitu. Pelayannya rata-rata ramah dan cekatan walau masih perlu di-upgrade soal product knowledge agar dapat menjawab pertanyaan pengunjung (selain pengunjung mendatangi counter). Kebersihannya juga patut diacungi jempol. Pada kesempatan ini saya tidak berkomentar soal makanan karena dari yang saya cicipi hampir semua (kecuali tengkleng) tampil prima sebagaimana diharapkan.

Saya sangat mengapresiasi prakarsa Wata Kitchen untuk mendekatkan kekayaan kuliner nusantara kepada masyarakat Jakarta.

Yang saya cicipi di Wata:

– Tengkleng dan sate buntel

– Mi rebus Aceh Pidie 2000

– Kambing bakar madu Depot tanjung

– Pempek dan model gandum Sari Sanjaya

– Nasi peda bakar (orgasmic!)

– Gangan asam Kutai Kertanegara

– Ikan gabus kuah asam Danau Sentani

– Bubur ikan Pontianak

– Lontong kikil Surabaya

Komentar»

1. Julian Sjarif - Juni 11, 2008

Saya baru sekali ke WATA KITCHEN. Kalau saya gak baca tulisan anda ini mungkin saya gak tahu kalau itu kuratornya adalah Pak Bondan. Yg jelas makanan nya memang bikin ketagihan. Saya makan makanan Jawa Barat yaitu Mie Kocok Bandung dan Lotek Bandung. Enaaaak banget, khas Bandung nya terasa. Bahkan lebih istimewa dari yg di Bandung, artinya gak asal bikin atau asal jualan. Jadi saya percaya deh kalau makanan tsb memang rekomendasi Pak Bondan. Sayang porsinya kecil utk ukuran doyan makan kayak saya dan Pak Bondan sendiri hehe…

2. mangmong - September 15, 2008

Hhmmm…
jadi kepengen nyoba nich ke fc pasaraya, terutama ada informasi sate padang mak syukur yang menjadi keinginan istri mencicipi jenis sate padang ini.
saya sich pengen nyoba ikan gabusnya danau sentani, apakah ini yang biasa dihidangkan dengan tepung sagu (pepeda) ?

terima kasih sudah sharing infromasinya.

-heri-

3. Juwita Palgunadi - September 16, 2008

Saya juga pernah kesana, sebelum bulan puasa (tepatnya lupa). Saya pesan makanan khas papua berupa papeda dengan ikan kakap kuah asamnya, sedangkan suami saya pesan kambing bakar madu depot tanjung. Menurut saya kuah asam teman makan papadenya biasa aja, gak ada yang istimewa, cenderung gak berani bumbu. Tapi untuk kambing bakar madunya, mak nyus🙂

Sekian sharing dari saya🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: