jump to navigation

Melihat Sejarah dari Pinggir – Review Film “Bobby” Oktober 5, 2007

Posted by Dadi Krismatono in Film.
trackback

Judul : Bobby
Sutradara : Emilio Estevez
Naskah : Emilio Estevez
Pemeran : William Macy, Christian Slater, Helen Hunt, Demi Moore, Anthony Hopkins,  Aston Kutcher, Elijah Wood, Lindsay Lohan, dll.
P
roduksi : The Weinstein Company, November 2006.

200px-bobby_poster.jpg

Apakah sejarah selalu berisi peristiwa penting dengan orang-orang penting? Lalu, dimana keberadaan orang biasa dalam (peristiwa ber-)sejarah kalau begitu?

Film besutan Emilio Estevez ini membawa penontonnya untuk mengalami sejarah dari pinggir, dari kehidupan orang-orang biasa yang kebetulan dipersatukan oleh ruang yang mewaktu di Hotel Ambassador, Los Angeles, California, sebelum dan pada saat Robert Francis “Bobby” Kennedy ditembak mati.

Bobby Kennedy adalah adik Presiden John F. Kennedy yang menjadi Jaksa Agung Amerika Serikat pada periode 1961-1964. Sebelumnya ia bekerja sebagai advisor kakaknya dan bekerja bahu-membahu pada masa krisis Kuba. Setelah kematian sang kakak pada akhir 1963, ia tetap bekerja sebagai Jaksa Agung dibawah administrasi Lyndon B. Johnson hingga mengundurkan diri tahun 1964 dan kemudian terpilih menjadi Senator mewakili negara bagian New York. Pecah kongsi antara Bobby dan Johnson terutama dipicu oleh Perang Vietnam.

Di awal 1968 Bobby mengumumkan kampanyenya sebagai Presiden dan harus melewati persaingan di Partai Demokrat. Pada malam tragis itu ia baru saja mengumumkan kemenangannya dalam California primary (salah satu tahap dalam pemilihan Presiden AS).

Dalam film yang terlambat hampir setahun masuk ke Indonesia ini paling tidak ada dua puluh tokoh yang perjalanan hidupnya beririsan dengan tragedi pada tanggal 6 Juni 1968 tersebut. Adalah Paul (William Macy), manajer hotel yang beristrikan Miriam (Sharon Stone) yang menjalankan salon kecantikan di hotel itu dan selingkuh dengan seorang operator telepon Angela (Heather Graham), yang tengah menyiapkan kehadiran Bobby. Di salonnya Miriam mendandandani penyanyi alkoholik Virginia Fallon (Demi Moore) yang pada malam itu akan memperkenalkan Senator Bobby pada audiens di ballroom. Virginia bersuamikan Tim (Emilio Estevez) yang juga manajernya, menggambarkan stereotipe suami yang takluk di kaki popularitas sang istri. Pada malam itu Tim bersenggolan bahu di pintu keluar hotel dengan Sirhan Sirhan, orang Palestina berusia 24 tahun yang menembak Bobby, dan seterusnya dan seterusnya… Semua tokoh dan peristiwa yang pada mulanya tidak berhubungan berjalin-kelindan dengan satu simpul ditengahnya: penembakan Bobby.

Penempatan bintang-bintang sebagai “orang biasa” dengan kadar peran yang sama juga menegaskan pola melihat dari pinggir. Tidak ada pemeran utama dalam film ini. Menyenangkan juga menonton film dengan sekian banyak bintang melintas generasi, mulai dari Harry Belafonte, Sir Anthony Hopkins, William Macy, Sharon Stone, Demi Moore, hingga Aston Kutcher, Elijah Wood dan Lindsay Lohan dimana semuanya menjadi “pemeran pembantu”. Tokoh utama Bobby ditampilkan oleh Estevez melalui cuplikan rekaman asli (footage) menciptakan intertekstualitas yang menarik. Memang di beberapa bagian terasa penuh sesak dan bertele-tele, namun secara umum mampu menggambarkan Amerika yang letih oleh perang dan keretakan sosial.

Seingat saya, Indonesia pernah memiliki dua film dengan pola melihat sejarah dari pinggir ini. Keduanya disutradarai oleh almarhum Arifin C. Noer, yaitu Serangan Fajar (1981) dan Pengkhianatan G 30 S PKI (1984). Terlepas dari muatannya yang sarat propaganda Orde Baru, Arifin mengajak penonton menyaksikan peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1948 melalui mata seorang bocah lelaki bernama Temon atau peristiwa G 30 S PKI dari tokoh ibu dan anak yang terpaksa menggelandang di Jakarta karena kemiskinan dan teror yang melanda desanya. Cara pandang ini membangun kedekatan (proximity) penonton dengan “peristiwa besar”.

Proximity itu pula yang berhasil dibangun oleh keberanian Estevez menggunakan footage dan rekaman suara Bobby. Apalagi ketika potongan gambar kampanye Bobby ke daerah miskin Amerika diiringi dengan lagu “The Sound of Silence” dari Simon & Garfunkel yang mengharukan. Begitu pula pada ending. Voice over (suara) Bobby melatari kepanikan di dapur hotel ketika Bobby tertembak dan peluru juga melukai Samantha (Helen Hunt), istri Jack Stevens (Martin Sheen), salah seorang donatur kampanye Bobby. Peluru nyasar juga melukai Timmon (Christian Slater), manajer dapur hotel yang rasis tapi baru saja selesai mengetik pengumuman yang membolehkan karyawan meninggalkan kantor untuk melaksanakan pemungutan suara ketika Pemilu dan dua orang campaign aide muda (Shia LaBeouf dan Brian Geraghty) yang masih “tinggi” gara-gara LSD. Kontras yang dihasilkan dari gambar yang penuh kekalutan dengan suara tenang Bobby menghantarkan klimaks yang dramatis sekaligus manusiawi.

Kematian Bobby diumumkan sebagai hari berkabung nasional dan sejak itu pasukan pengawal khusus (Secret Service) juga ditugaskan untuk mengawal kandidat Presiden AS selama kampanye.

Recommended!

Komentar»

1. emyou - Oktober 9, 2007

Baru nemu ini blog. Hai..

Gw juga uda nonton ini film beberapa hari lalu. B A G U S. Banyak bintang-bintang bertaburan, dan setiap tokoh punya problematika masing-masing. Gw selalu suka film-film dengan model penceritaan macem gini, kayak Amores Perros, Crash… Mencoba melihat sisi lain dari sebuah peristiwa.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: