jump to navigation

Bukan Sahur Biasa September 27, 2007

Posted by Dadi Krismatono in Kuliner.
trackback

RM Ramas Padang @ Margonda, Depok

Alhamdulillah, puji Tuhan, kita diberi usia untuk bertemu kembali dengan Ramadhan pada tahun ini. Selain peribadatan yang khusyuk, tentu tradisi dan budaya yang mewarnai bulan seribu bulan semakin meperkaya kehidupan kita. Sayang sekali, kebisingan acara TV yang sarat dengan lawakan slapstik berselera rendah menodai bulan suci ini.

Sahur tentu jadi romantika tersendiri di bulan puasa. Ketika tubuh lelah, mata mengantuk, dan mulut masih belum berselera, kita harus makan dan minum agar tetap bugar menajalankan puasa. Beruntung sekali Indonesia kaya dengan ragam makanan yang cocok dengan suasana bulan puasa. Salah satunya adalah masakan Padang yang saya temukan di Jl. Margonda, Depok.

Warung ini ada di emper sebuah toko dan bukanya hanya malam hari. Kain tenda warna hijau bertuliskan R.M. Ramas Padang membuatnya mudah dikenali. Kalau dari arah Jakarta, ada di sebelum mal Margo City. Karena baru buka malam, makanannya masih segar, berbeda dengan rata-rata warung Padang yang menyiapkan hidangannya pada pagi hari sehingga “prime time” untuk menyantapnya adalah siang hari.

Malam itu saya membeli beberapa lauk untuk sahur. Saya kaget demi melihat cumi gulenya gendut banget. Apakah ini cumi telor? Tapi, kok, posturnya sudah mendekati obesitas? Ternyata cumi itu diisi dengan kocokan telur dan tahu seperti yang biasa diisikan ke usus sapi “tambusu”. Hmm.. menarik juga. Untuk menemani secara random saya memilih paru goreng garing. Yah bisa diprediksilah rasanya. Paru goreng gitu loh…

Ketika waktu sahur kami sekeluarga menikmati sahur yang tidak biasa. Dari segi penampilan gule cumi gendut ini memang tidak biasa dan cita rasanya luar biasa. Isian tahu telurnya empuk, dengan bumbu yang pas dan seiring dengan kegurihan cumi. Cuminya pun empuk dan cukup segar. Apalagi bermandikan kuah gule kuning yang pas intensitas bumbu dan kekentalannya.

Paru gorengnya membawa kejutan. Kami terbiasa dengan kripik paru goreng gaya Klaten, Solo dan sekitarnya yang gurihnya cenderung manis dengan balutan tepung  yang relatif lebih tebal. Tapi Ramas Padang menghadirkan paru goreng yang renyah. Tepungnya sekedar kepyuran untuk mengikat bentuk waktu digoreng di minyak panas.  Yang luar biasa adalah aksen ketumbar yang cukup “firm” menghiasi. Sejumput sambel  ijo tentu melengkapi sajian.

Jadilah dini hari itu kami sekeluarga menyantap sahur yang istimewa. Walau mata masih berat, tapi lidah menari-nari. Matur nuwun, Gusti Allah.

Eh, ngomong-ngomong, Lebaran berapa hari lagi ya? He he he…

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: