jump to navigation

BB’s revisited September 17, 2007

Posted by Dadi Krismatono in Uncategorized.
trackback

Ulasan ringkas Capt. Gatot tentang BB’s bar di daerah Menteng langsung membuat saya membayangkan suasana bersahaja dari bar musik satu ini. Terletak di Jl. Sidoarjo, sedikit masuk dari Jl. Menteng Raya yang never sleep itu. Terutama di sekitar Pemilu 2004, saya dan beberapa rekan “lebah pekerja” kerap berkumpul melepas lelah sejenak. Biasanya malam minggu karena malam itu disajikan classic rock.

Ya, tempat ini memang cukup rapi mengatur segmen musik dan crowd-nya. Di lantai dasar ada semacam lounge dengan meja billiard yang menyajikan musik top 40 ala akustikan. Di lantai dua ada semacam “ruang serba guna”, yang digunakan untuk pementasan musik insidental, seperti yang pernah saya saksikan di satu malam minggu, tempat itu digunakan oleh suatu komunitas metal di Jakarta. Wiii.. suasananya “ngAmerikani” buanget! He he he…

Sajian utama ada di top floor. Kamis malam ada reggae, Jum’at malam blues dan classic rock yang bikin badan serasa muda kembali sepuluh tahun ada setiap malam minggu. Di sini ada suasana keakraban yang anonim. Nah lo, gimana tuh? Sampai sekarang saya tidak tahu apa nama group band yang tampil. Saya cuma tahu bahwa salah satu vokalisnya bernama Amy Roes yang ikut tampil dalam pentas kolosal “Megalitikum Kuantum”, vokalis satunya lagi adalah Doddy yang pernah gabung di sebuah group yang punya nama dari paruh kedua delapan puluhan hingga awal sembilan puluhan, gitarisnya—kalau nggak salah—namanya Raras, dengan permainannya garang dan berkebalikan dengan gayanya yang males-malesan. Dia pernah tampil di dalam salah satu iklan TV rokok. Tapi semua itu tidak begitu penting. Setiap datang saya selalu merasa seperti datang ke rumah teman lama yang sudah menyiapkan sekedar kopi dan nyamikan dan obrolan yang hangat. Mereka juga tidak tahu nama saya, tapi selalu menyapa, bersalaman dengan hangat ketika ketemu. Kita tidak bicara dengan kata-kata, tapi ngobrol intens dalam setiap lagu.

Pentas dimulai pukul sepuluh. Molor sedikit juga tidak ada yang protes. Mulailah nomor-nomor classic rock menderu satu per satu. Kadang nyelip Bon Jovi atau Guns n Roses yang masih terhitung muda, atau Genesis yang kurang cadas. Yang hampir tidak pernah absen adalah nomor-nomor seperti “Stairway to Heaven” dari Led Zeppelin, “Jump” dari Van Halen atau “When A Blind Man Cries” dari Deep Purple. Pernah satu malam Piyu gitaris Padi datang dan langsung didapuk untuk ber-jam session dan meraunglah satu lagu dari Black Sabbath yang saya lupa judulnya. Tapi saya selalu merasa seperti mendapat bingkisan khusus apabila request saya “July Morning” dari Uriah Heep dinyanyikan dan pertunjukan malam itu ditutup—pada sekitar jam dua dini hari—dengan medley “Hey You” dan “The Wall” dari Pink Floyd.

Sekita bulan Juli yang lalu saya sempat berkunjung ke sana. Kebetulan ada teman dari luar Jakarta yang sudah lama penasaran karena selalu saya ceritakan tentang asyiknya tempat ini. Begitu masuk dia berkomentar, “Ini kayak bar-nya Moo di film Bart Simpson.” He he he…

Setelah cukup lama tak bersua ternyata BB’s masih setia menemui saya. Dengan kerasnya kursi kayu yang sama dan lezatnya long island ice tea yang sama…

Rock never dies!

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: