jump to navigation

Masculine and Feminine Wines Juli 10, 2007

Posted by Dadi Krismatono in Kuliner.
trackback

Pada tanggal 27 Juni 2007 yang lalu diadakan WINExperience dengan tema yang cukup provokatif: Masculine and Feminine Wines. Menurut Yohan judul itu diambil karena wine-wine yang akan disajikan, yaitu RockBare Shiraz 2002 (rating 90something dari Robert Parker Jr) dari Australia punya karakter macho, mantap, nendang dan gak malu-malu, sementara pasangannya, Forrest Estate Pinot Noir 2004 dari New Zealand sangat feminine, strawberryish, vibrant dan kalem.

Malem itu cukup ramai yang datang. Pak Bondan dan Bu Yvonne menyempatkan hadir. Ada Gigi van Kuijk dari Hatten Wines, yang beberapa waktu yang lalu menjadi host yang sangat baik dalam kunjungan Balisutra ke Restoran Pergola dan Hatten winery. Yohan bikin peraturan yang cukup lucu: couple yang dateng nggak boleh duduk deketan. Tanya kenapa?

Sebelum sampai ke acara inti membandingkan kedua wine yang udah disebut di atas, wine hasil potluck para peserta mulai dituang. Andy Mursalim membawa oleh-oleh ayam panggang (kok kurang keren ya? He he he.. Maksudnya roasted chicken gitu loh!) dan juga beberapa varian daging panggang sebagai appetizer. Gile! Appetizer-nya daging panggang?!

Kami yang hadir diberi kesempatan untuk blind tasting satu white wine. Di botolnya tidak ada label. Entah karena tersugesti oleh kehadiran Gigi, tapi memori saya langsung teringat pada Alexandria dari Hatten yang wangi dan manis itu. Ternyata wine itu adalah chardonnay dari Australia yang difermentasi di Bali oleh Hatten. Baru akan dilepas di pasar. Wuih.. kami jadi segelintir pencicip pertama nih.. 

Hidangan khas The Champa pun mulai berdatangan. Ada martabak telor yang enak, scallop yang digoreng dengan keju mozzarella, dan lain-lain. Saya memesan bebek yang dimasak gaya Perancis dengan saus dari madu, saus tiram dan balsamic. Perpaduan kulit luar yang crunchy dengan daging yang lembut menandakan keandalan pemasaknya. Juga perpaduan rasa manis, asam dan gurih pada sausnya mengiringi lidah berdansa. Para peserta saling icip dari sini dan situ sehingga sudah tidak tercatat deh apa saja yang saya icip malam itu.

Kemudian dituanglah RockBare Shiraz lalu menyusul Forest Estate Pinot Noir. Biar gampang saya akan sebut Shiraz dan Pinot Noir saja ya. Shiraz dari Australia selatan ini berwarna cherry gelap mengarah ke ungu tinta dengan sedikit warna lebih terang pada rim-nya. Body cukup berat. Malah di awal ada rasa “berdebu” yang cukup tajam memenuhi mulut. Kehangatan dan rasa plumy khas Shiraz, serta rasa asam yang berat dan pekat dari buah-buahan melimpahi (overwhelm) palate (maaf, susah cari padanannya dalam bahasa Indonesia). Di ujung ada aroma oak, tapi nggak begitu nyambung dengan sensasi buah yang hadir sebelumnya. Satu sesapan Shiraz ini seperti langkah-langkah panjang yang bergegas. Atau, kalau mau menggunakan term maskulin: seperti binaragawan yang otot-ototnya berbonggol-bonggol keras.

rockbareshiraz.jpg        forestestatepinot.jpg

Pinot Noir datang dari Marlborough, salah satu daerah penting penghasil wine di New Zealand. Warnanya merah strawberry terang yang cantik. Body-nya langsing dan berkesan ceria. Aroma strawberry, cherry dan wangi bunga langsung menyapa penciuman. Walaupun leg-nya cukup kuat ketika di-swirl, saya suka dengan sensasi silky ketika wine ini mengalir lancar dalam setiap sesapan. Tahun 2004 rupanya bukan tahun yang bersahabat buat New Zealand, makanya banyak kritikus dan lembaga yang memuji penampilan Forrest Estate Pinot Noir dari vintage ini. Ada yang saya masih bingung menggambarkannya, ada bau seperti bau tanah yang enak, seperti menghirup udara di pagi yang berembun. Lalu ada di ujung ada aroma oak yang tampil seperti simpul pita di pucuk kado. Wah.. ternyata saya suka yang feminine ya..?? He he he… Emang akika cowok apaan??

Setelah pengalaman komparasi yang sangat berharga itu Yohan kembali mengajak kami blind tasting. Kali ini red wine yang bisa terdeteksi sebagai shiraz dari new world tapi sangat aromatik. Beberapa menduga wine tersebut di-blend dengan varietas lain karena aromanya yang wangi itu. Ternyata itu adalah shiraz dari Australia selatan yang difermentasi di Bali oleh Hatten. Beruntung sekali karena kami juga jadi segelintir pencicip pertama dari wine ini. Saya belum mendalami apakah “aromatik” bisa menjadi salah satu karakteristik wine yang akan dipujikan dari segi teknis dan artistik serta menguntungkan dari sisi bisnis, namun langkah Hatten melakukan eksplorasi wine dengan karakter aroma yang kuat dan cocok dengan suasana Bali dan menjadi “summer wine” jika diekspor ke negara empat musim, bisa menjadi satu brand positioning yang kokoh. Keep it up, Guys!

Untuk potluck malam itu saya membawa Valckenberg Dry Riesling Spätlese 2004. Alasannya sih karena tema kita malam itu red wine, perlulah sedikit pengimbang biar balance. Arti harfiah spätlese adalah panen yang lebih lambat dari panen normal (late harvest). Spätlese merupakan salah satu kategori dalam hukum klasifikasi wine Jerman, di atas Kabinett dan di bawah Auslese dari sisi kematangan (ripeness). Salah satu teman kita Dieter yang berasal dari Jerman mengajarkan bagaimana melafalkan spätlese dengan benar. Sejarah winery Valckenberg yang merentang jauh hingga ke kebijakan privatisasi gereja jaman Napoleon juga menarik dan mudah-mudahan bisa saya tulis pada kesempatan lain.

Valckenberg Riesling cukup charming malam itu dengan aroma mangga dan buah-buhan tropis lainnya. Tipis melayang dengan crisp acidity bernuansa mineral yang menghasilkan finish yang cukup panjang. Memang sih kebanting oleh kekarnya Shiraz dan cantiknya Pinot Noir.

Pengembaraan kami cukup panjang. Banyak pengetahuan dan—paling penting—tawa yang dibagi. Terima kasih buat semua yang hadir malam itu.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: