jump to navigation

Kembali ke … Bali! – HABIS Juli 4, 2007

Posted by Dadi Krismatono in Kuliner.
trackback

Hotel Camplung Sari di Ubud lumayan artistik. Kamar-kamarnya dibagi menjadi beberapa “compound” dengan gapura Bali. Pohon-pohon rimbun, perdu dan bata merah menghadirkan suasana yang khas. Coffee shop yang kecil menghadap ke lembah menjadi tempat yang nyaman untuk menikmati kopi pagi. Memang fasilitas kamarnya tidak istimewa, malah ada masalah air yang tidak lancar pada dini hari.

Setelah sarapan, rombongan yang kemungkinan sudah bertambah beberapa kilogram berangkat menuju Gianyar untuk mencicipi klepon yang ditahbiskan sebagai yang terenak sedunia oleh William Wongso. Berada selepas pusat kota Gianyar, toko klepon Ida Bagus Nyoman Beratha di Jl. Kalantaka, Gianyar, yang merangkap pabrik mungil ini penuh sesak diserbu rombongan Js. Berbeda dengan klepon di Jakarta yang diisi dengan gula merah dan dikukus, klepon Gianyar berisi kinca (gula merah yang dilarutkan) dengan aroma nangka dan direbus. Menarik sekali melihat jari menari memulung adonan kulit, memasukan cairan gula, menutupnya dan mencemplungkannya ke air mendidih.

Akibat dari perbedaan “teknik” ini klepon Gianyar ini punya kulit lebih moist, tidak kering berpori, dan cairan gulanya bisa meletus di dalam mulut. Selain klepon, kami mencicipi “pisang rai”, yaitu potongan pisang yang dibungkus kulit dari tepung beras berwarna hijau. Mirip dengan isinya es pisang ijo Makassar. Hanya saja isinya bukan pisang utuh tapi sudah dipotong-potong sehingga bentuknya gepeng. Selain itu ada beberapa kue basah dibungkus daun yang saya lupa mencatat namanya.

Setelah puas icip-icip, kami pun menempuh perjalanan yang lumayan ke Klungkung. Laut di kejauhan membuai pandangan. Setelah melewati pemandangan yang indah itu kami sampai ke daerah Pesinggahan. Sebenarnya gaya Pesinggahan ini telah kami cicipi pada hari pertama di Be Pasih. Nah, RM Mertha Sari yang kami datangi dianggap sebagai “pusatnya” hidangan gagrak pesisiran ini. Suasana di sini sangat hidup. Beberapa lincak tempat lesehan, udara panas khas daerah pantai, angin… Semua hidangannya sama dengan yang kami cicipi di Be Pasih: sate lilit, plecing dan sup ikan. Cuma di sini kuah sup ikannya sangat tebal, sarat bumbu dan agak asin. Belakangan saya amati beberapa orang Bali yang makan di situ. Ooo.. ternyata mereka menyiramkan kuah kental itu ke nasi putih. Pantesan, karena kalau digado rasanya terlalu berat.

Selesai makan kami menuju ke salah satu perkampungan Bali Aga yang terletak di Tenganan, Karangasem, di sisi sebelah timur Bali. Kampung ini tidak terlalu besar, memanjang ke samping dengan lansekap yang berundak-undak. Mirip kompleks perumahan kecil dengan semacam pendopo yang juga berbentuk memanjang di tengahnya. Perkampungan Bali Aga ini dipercaya sebagai warisan orang Bali “asli” yang merentang sejarah sejak jaman Majapahit di abad ke-14. Paras orang Bali Aga berbeda dengan orang Bali “kota”. Praktik keberagamaannya pun berbeda. Jika kita mengenal upacara Ngaben untuk orang Bali yang meninggal, maka di Tenganan orang yang meninggal akan dikubur. Hanya saja jenasahnya  dimakamkan tidak dalam posisi terlentang tetapi dalam posisi meringkuk seperti janin di dalam rahim ibu. Filosofi yang mendalam dalam mencandra kehidupan.

Bangunan “kompleks” perumahan dibuat dari batu-batu warna kelabu dengan atap rumbia. Agak sempit, tetapi di baliknya sudah dimodifikasi menjadi tempat pembuatan dan penjualan tenun gringsing dan souvenir lainnya. Di tengah perkampungan banyak meja menggelar kerajinan khas Tenganan lainnya, yaitu lukisan di daun lontar yang dibuat dari daun lontar dikerat dengan pisau kemudian ditaburi jelaga. Jelaga yang menempel pada ukiran itulah yang menjadi lukisan. Ada yang menggambarkan penanggalan Bali, gambar pendopo (bale) di tengah desa, atau kisah-kisah khas Bali. Ada beberapa yang tingkat kerumitannya sangat mengagumkan.

Tenun gringsing menggunakan teknik yang sama dengan tenun ikat di Lombok. Hmm.. kedekatan (proximity) kedua tempat itu memang memungkinkan terjadinya interaksi budaya. Hanya saja, kain yang dihasilkan tenun gringsing biasanya lebih lemas dan tidak selebar tenun ikat dari Lombok. Paling hanya sebesar sarung atau selendang.

Hari ketiga ini memang rada-rada seperti tulisan di belakang truk “Hidupku di atas roda” karena jarak dari satu tempat ke tempat lain lumayan jauh. Sasaran berikutnya adalah Tirtagangga, istana air milik keluarga kerjaan Karangasem. Saya teringat ada juga istana air di kerajaan lain, yaitu Tamansari di Jogjakarta. Air memang menjadi bagian yang terpisahkan dari kosmos semua kebudayaan. Tapi pemandian? Hmm… ada apa, ya?  

Tirtagangga terletak di tengah sawah. Ada mata air Rejasa yang menjadi pusat dan awal dari istana air ini. Istana ini tidak jauh dari Amlapura yang merupakan “pusat kota” di Bali timur. Menurut Pak Gede yang menjadi pemandu kami, dulu biasanya istana ini digunakan kalau raja butuh waktu untuk berpikir dan merenung. Tempatnya sih pas, di atas perbukitan dengan pemandangan hamparan sawah dan laut di kejauhan. Pikiran bisa menerawang tanpa batas.

Taman air cantik ini dibangun pada tahun 1946 oleh Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem, ayahanda dari Dr. Anak Agung Made Jelantik. Di bagian atas ada mata air yang disucikan yang terletak di bawah pohon banyan yang sangat besar dan anggun. Pusat perhatian orang yang datang tentulah air mancur sebelas tingkat yang menjulang di tengah kompleks. Ada beberapa kolam. Ada satu yang sudah sepenuhnya dijadikan kolam renang, lengkap dengan fasilitas tempat ganti baju (dan mungkin shower—sorry, karena nggak sempet investigasi).

Selesai berkeliling rombongan Js pun bikin spa dadakan dengan cara merendamkan kaki ke air yang mengalir. Ah.. nyess.. adem… Pegel-pegel di telapak kaki pun lumayan terobati. Setelah menikmati kesejukan istana air Tirtagangga, kami pun menyeberangi jalan ke sebuah guest house “Rijasa” yang sudah bersiap menyambut kami kami untuk “megibung” alias makan berjamaah a la Bali.

Kata Andrew di jalan tadi, megibung biasanya dilakukan oleh prajurit-prajurit setelah memenangkan perang di Bali. Kemudian berkembang untuk perayaan atau event-event sosial lainnya. Formatnya sih sederhana, beberapa orang menegerubungi satu tampah berisi nasi dan lauk pauk. Untuk menjaga kebersihan bersama, tangan dilarang masuk mulut dan muncullah keterampilan “nasi terbang” yang konon ada di hampir semua kebudayaan yang punya tradisi makan bersama ini.

Guest house “Rijasa” terdiri dari beberapa cottage yang terpisah, dengan pepohonan dan perdu. Sederhana dan sangat rumahan. Kami disambut dengan minuman kelapa muda langsung dari buahnya. Segar. Megibung mengambil tempat di bagian belakang guest house tersebut. Syahdu merayu seruling dan gamelan bambu.

Seperti saya sudah sebut di atas bahwa megibung adalah makan bersama dalam arti yang sederhana. Kami dibagi menjadi kelompok berisi 6-7 orang. Ada gundukan nasi yang sudah dicetak peres, tidak seperti tumpeng. Bagian tengah nasi itu “dilubangi’ dan diisi dengan berbagai sayur dan lauk pauk. Dari beberapa lauk, ada yang standard seperti lawar putih, yang paling enak adalah “jukut blimbing” dan “bebek menyatnyat”. “Jukut blimbing” adalah sayur daun belimbing dengan kuah encer. Yang dipakai adalah daun belimbing biasa bukan belimbing wuluh. Rasanya segar dan khas. Enak sekali. Terus terang tampilannya “bebek menyanyat”-nya kurang cantik. Waktu saya tanya, “apa ini?” mbak pramusaji mengatakan “bebek menyatnyat” lalu saya tanya, “apa itu bebek menyatnyat?” dia menjawab “capek dehh…” ha ha ha.. nggak ding. Just kidding! Dia bilang, “Mmm.. *sambil mikir* rendang bebek!” Onde mande..!! Tapi begitu dicoba, hmm… Yang tak ketinggalan tentu sate lilit dan lawar putih. Juga sambel matah dan ayam betutu. 

Protokol megibung mengharuskan peserta duduknya miring, hanya tangan kanan yang bisa mendekat ke tampah hidangan. Yang perempuan harusnya duduk bersimpuh. Tapi, udah tiga hari wis-kul disuruh duduk bersimpuh? Suasana kolektif makan bersama itu punya konsekuensi makannya jadi banyak! Saya ingat lawarnya bukan cuma putih. Mungkin ini yang disebut lawar pancawarna. Sate lilit masih setia menemani. Lama-kelamaan speed menyuap pun menurun dan .. ahh… ada satu rombongan yang benar habis! Ampun dijee…    

Nikmat sekali makan beramai-ramai ini. Suasana Rijasa yang “rumahan banget” dan bukan resto atau hotel malah menambah tenteram suasana. Setelah selesai kami pun berpamitan dengan tuan rumah dan menempuh perjalanan yang lumayan jauh kembali ke Kuta.

Tadi di jalan sempet dibahas “optional event” di malam terakhir ini. Akhirnya sebagian besar sepakat untuk ke Kafe Warisan, terutama untuk mencicipi foie gras.

Jam 19.30, sebagian peserta berangkat naik taksi ke Kafe Warisan. Hmm… rasanya kafe ini menyambut dengan lagu Dian Pisesha, “aku masih seperti yang dulu…” Tapi setelah membaca menu, ada inovasi yang ciamik: untuk umpan tekak “Hot Foie Gras with Raspberry Vinegar Sauce” langsung ada rekomendasi untuk di-pair dengan sweet wine Chateau Lafon dari Sauternes. Waktu itu yang tersedia dari vintage 2004. Yohan berbagi informasi tentang “tata cara” menikmati foie gras dengan sweet wine. Karena foie gras sering disajikan sebagai appetizer maka sweet wine yang sering disajikan sebagai dessert wine juga ikut pindah ke depan.  

Selain foie gras, teman-teman memesan makanan-makanan lain sehingga kita bisa melakukan “sampling”. Seingat saya, Rifnanto memesan gnocchi, JoJo memesan hidangan dari red snapper. Setelah entrees, saya terporovokasi Yohan yang memesan duck comfit. Jadi ikut-ikutan deh. Tapi ini ikut-ikutan yang yang membawa keberuntungan karena  duck comfit-nya enak banget! Daging bebeknya lumer di mulut dengan kentang yang di-saute tapi masih renyah dan daun ruccola-nya memberi sensasi “kletes-kletes” yang asik. Balutan sedikit saus dari madu dan cuka balsamic sukses menjalankan tugasnya men-delivery kenikmatan.

Selesai makan, masih ketawa-ketiwi sambil menikmati wine tiba-tiba ada adegan romansa tak terduga. Salah seorang peserta, seorang gadis cantik yang pendiam, menghampiri salah seorang peserta lain, jejaka tampan dengan tubuh nan tegap. Si gadis membawa sebuah gelas berisi minuman berhiaskan bunga di tubirnya. Si jejaka bingung, “Ada apa ini?” Lalu, si gadis berkata (mohon maaf kalau ada salah kutip), “Jejaka, aku suka sama kamu. Kalau kamu juga suka sama aku, minumlah minuman ini. Tapi kalau tak, sematkan bunga ini di kupingku.”

Aaa.. semua yang hadir tenggelam dalam sukacita. Si jejaka hampa kata, si gadis menanti dalam damba…     

Well, ending-nya memang tidak seseru film-film Hollywood, Bollywood atau Tangkiwood. Tapi kita semua salut atas kejujuran sang gadis. Pengembaraan kemudian dilanjutkan ke Hu’u Bar, masih di daerah Seminyak.

HARI TERAKHIR

Tidak ada acara khusus yang disiapkan Panitia. Sebagian peserta ke Warung Chandra untuk membeli kerupuk kulit babi yang katanya enak itu. Sambil cabut dari hotel, sebagian mengurus pesanan wine dari Hatten untuk oleh-oleh.

Dalam perjalanan ke bandara, kami makan siang ayam taliwang di Denpasar. Lumayan buat variasi. Sebenarnya sih peserta penasaran dengan restoran Padang “Lapau” yang kata Andrew legendaries, tapi tidak bisa karena resto tersebut sudah fully booked (kok, kayak hotel ya?).

Perjalanan Denpasar – Jakarta berjalan lancar. Tunggu bagasi sebentar dan semua pulang dengan perut kenyang dan hati senang. 

Terima kasih buat:

         Andrew dan Yohan yang udah jadi panitia dan host yang asyik banget.

         Har-Naz yang udah survey: jaga kesehatan ya, biar nggak sakit perut jadi bisa ikut.

         Buat kru TX Travel Sanur—khususnya Pak Citra yang dengan semangat menjelaskan sejarah kebudayaan Bali, sampai-sampai mike-nya harus dibuat wireless sama Alfons.

         Pak BW atas inspirasinya.

         Semua peserta atas kebersamaan yang menyenangkan. 

Sekali jalan-jalan, terus makan-makan!

Komentar»

1. bumisegoro - Juli 5, 2007

mau donk kleponnya🙂

2. agnes - Juli 19, 2007

wuih… seru banget ya mas dadi jalan2nya. jadi pensaran pengen nyoba makanan2 yg udah dijelasin diatas. tp aku masih penasaran nih dg acara “megibung” nya. ada fotonya ga? boleh donk di sisipkan biar lebih jelas. tks sebelumnya…

3. mutia - April 25, 2008

mas anda tau tdk sejarah dibalik sate lilit


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: