jump to navigation

Kembali ke… Bali! – Hari Kedua Juni 4, 2007

Posted by Dadi Krismatono in Kuliner.
trackback

Sarapan sejenak di hotel. Tak lama peserta segera kumpul di bis. Ada sanksi tidak kebagian tempat di bis yang ternyata efektif banget membuat peserta Balisutra tidak terlambat. Apa itu? Hanya peserta yang tahu.

 

Pagi itu kami mengunjungi winery alias pabrik anggur milik Hatten Wines di daerah Sanur. Malam sebelumnya kami sudah mencicipi produk-produk Hatten dalam suatu wine pairing dinner yang sangat unik dan sensasional. Gigi van Kuijk dan Gus Rai bersiap menyambut kami, tak lupa ada spanduk selamat datang untuk “Jalansutra Culinary Group”.

Kebetulan ketika kami datang, Hatten sedang memulai produksi. Kami bisa melihat dan mencicipi buah anggur jenis table grape yang digunakan untuk pembuatan rosé. Warnanya hijau, asem dan keras. Ada kan buah anggur warna hijau yang biasa kita makan yang empuk dan manis? Nah ini betul-betul kebalikannya.

Winery Hatten berada di lingkungan pemukiman yang sepi. Nggak nyangka deh kalo di tempat itu ada produksi wine. Suasananya rumahan banget. Di dekat tumpukan buah anggur ada mesih pressing (peras) yang sedang bekerja menghasilkan juice untuk wine jenis rosé. Juice ditampung dalam tangki dan siap untuk tahap selanjutnya.

Dalam proses ini peran winemaker sangat penting. Kalau diibaratkan memasak, winemaker (atau istilah lainnya enologist) adalah “chef” kedua yang menentukan rasa dan kualitas wine. “Chef” pertamanya adalah para viticulturist yang bekerja di kebun anggur (vineyard) yang mengusahakan melalui teknik-teknik pertanian agar buah anggur yang nantinya dipanen menghasilkan karakter yang diinginkan. Kolaborasi tangan-tangan terampil inilah yang menghadirkan segelas wine yang lezat di meja Anda.

Setelah melihat proses pressing, kami diajak berkeliling. Ada tanki-tanki fermentasi dari stainless steel dan ada juga oak barrel (tong dari kayu oak) yang digunakan untuk tempat aging. Kebetulan di Hatten hanya red wine yang disimpan di dalam oak barrel. Bergeser ke ruangan berikutnya, ada proses bottling (pembotolan) dan labeling (pemberian label).

Yang sangat menarik adalah melihat tempat proses secondary fermentation bagi sparkling wine. Mengambil tempat di ruang belakang yang dingin dan gelap, ratusan bahkan mungkin ribuan botol sparkling wine sedang mengalami proses remuage. Botol sparkling wine diletakkan dengan posisi nungging pada rak yang dibuat dari dua bilah papan kayu lebar. Setiap harinya, botol itu harus semakin dimiringkan dan diputar sedikit  agar sisa ragi terdorong dan berkumpul di mulut botol. Proses tersebut paling tidak memakan waktu setahun sebelum ragi tersebut dihilangkan dengan teknik degorgement.

Setelah melihat proses wine, kami bergeser ke rumah sebelah yang merupakan produsen dari brem dan arak Dewi Sri. Brem dibuat dari ketan hitam dan ketan putih yang ditanak sampai masak kemudian difermentasi dan diambil airnya. Kami menyaksikan proses memasak ketan, fermentasi sehingga kami dapat side-dishes tape ketan (he he he.. dasar anak JS!), hingga pembotolan dan pemberian label. Pabrik brem (yang dipelesetkan Yohan jadi “bremery) ini sangat sederhana tapi terasa sekali kebersihan yang dijaga dengan cukup baik. Selain brem, Dewi Sri juga menghasilkan arak dari brem yang didistilasi atau disuling. Warnanya putih bening.

Kembali ke ruang tamu, tak sungkan-sungkan peserta langsung mencicipi brem dan brem yang “di-fortified” menjadi “brem liquer” serta arak. “Brem liquer”-nya cukup anggun hingga meninggalkan kesan yang mendalam buat saya. Apalagi jika disajikan on-the-rock dengan sedikit perasan jeruk nipis. Aduh…

Setelah selesai cicip-cicip dan foto-foto kami pun bergerak menuju pantai Sanur untuk mencicipi hidangan ikan di warung Mak Beng. Kunjungan ke Mak Beng ini sebenarnya dijadwalkan kemarin, namun karena angin laut yang tidak bersahabat menyebabkan pasokan ikan segar sangat langka. Untung negosiasi Kang Andrew menyelAmatkan kami dari melewatkan “culinary treasure” yang sudah ada sejak tahun 1941 ini.

Hidangan di Mak Beng cuma satu: set menu yang terdiri dari nasi putih, sup ikan, ikan goreng ditambah sedikit plecing. Ikannya pun cuma satu jenis: ikan jangki alias kakap. Tapi rupanya itu rahasianya bertahan sejak tahun 1941. Sup Mak Beng lebih ringan dan segar. Mungkin juga karakter daging ikan kakap menyebabkan sup ini lebih “light” dibanding saudaranya dari gaya Pesinggahan yang menggunakan ikan tuna yang kami cicipi di kemarin. Ikan gorengnya juga lugu, tidak banyak bumbu. Tapi sambalnya luar biasa! Sambal uleg merah yang digoreng. Waktu saya mengintip ke dapur, saya liat wajan besar berisi sambal yang sudah halus diuleg yang sedang bergolak digoreng. Samar-samar rasa manis serta efek gurih akibat digoreng ditengah rasa pedas pada sambal itu membuat saya lupa kalau tadi sudah sarapan di hotel. 

Makan nanggung di Mak Beng kami akhiri dan segera bergerak ke Ubud. Di bis kami sempat bertukar cerita. Kepada om dan tante kami yang mudaan bertanya kapan pertama kali ke Bali. Tante Grace bercerita bahwa dia pertama kali ke Bali pada tahun 1963, bareng rombongan SMP Katolik dari Bandung. Bali masih sepi dan pertunjukan tari, misalnya, lebih banyak diadakan di hotel. Tante Anne malah pertama kali mengunjungi Bali pada tahun 1959. Menurut Tante Anne, itu karena orang tuanya punya hobby yang persis Jalansutra: jalan-jalan bersama dengan beberapa keluarga-keluarga gengnya. Wah, pantes menurun ke anaknya ya… he he he.. Om Steve bercerita bahwa kakaknya pernah naik sepeda dari Bandung ke Bali! What?! Saya pernah naik sepeda onthel dari Imogiri ke Jogja pp. dan rasanya sadel sepeda itu masih menempel di bokong sampai tiga hari kemudian. Ke Bali? Ampun dije…

Setelah disela tidur siang, sampailah kami di daerah Ubud. Tujuannya ada dua: babi guling Bu Oka dan restoran Biah-Biah bagi yang tidak makan daging babi. Kebetulan saya masuk ke rombongan ke dua. Biah-biah cukup artistik, di jalan kecil yang menyempal dari dari jalan utama Ubud. Pemiliknya orang Jepang yang mewariskan masakah Bali yang sudah diberi sentuhan kreatif. Sayang ada miskomunikasi sehingga mereka tidak siap kedatangan rombongan dalam jumlah lumayan banyak. Makanan lama terhidang dan banyak pesanan minuman yang terabaikan. Bahkan ketika teman kita kamerawan dari Jak TV kembali dari warung membeli rokok, dia cerita ketemu mbak dari Biah-Biah sedang membeli telur!

Akhirnya datang juga hidangannya. Nasi campurnya biasa saja. Mungkin karena disiapkan tergesa-gesa. Tapi lawar yang diberi orak-arik telur dadar dan sambel matah yang diselipi potongan ayam goreng garing cukup mengobati kekecewaan kami. Mudah-mudahan pada kesempatan lain, saya bisa menikmati semua pesona Biah-Biah.

Setelah berkumpul di bis, saya mendengar cerita tentang “manggis termahal di dunia” yang ditemui teman-teman yang ke Bu Oka. Bayangkan, satunya Rp 3.000 dan menghasilkan tagihan lebih dari dua ratus ribu! Sambil masih membahas manggis termahal di dunia perjalanan membawa kami ke Museum Neka. Tante Anne yang pelukis memberi kami sedikit pengantar tentang museum yang satu ini. 

Sampai di Museum Neka, Andrew mengabarkan bahwa salah seorang manajer museum tersebut berhalangan hadir. Untung ada Pak Citra dari TX Travel yang memandu kami dengan penuh semangat. Bahkan semangatnya terus terasa hingga perjalanan pulang dari megibung keesokan harinya. (Kalau nggak percaya, tanya deh peserta he he he…)

Salah satu keistimewaan museum yang dibuka pada tahun 1982 ini adalah cara penyusunan koleksi yang ensiklopedik sehingga memudahkan orang awam seperti saya memahami perkembangan seni lukis di Bali dan menikmati keindahan serta karakteristik dari masing-masing genre.

Museum Neka didirikan oleh Pande Wayan Suteja Neka yang lebih popular dipanggil Suteja Neka. Darah seni mengalir dari ayahnya yang seorang pematung terkenal I Wayan Neka yang mengharumkan nama Indonesia di blantika seni dunia. Suteja Neka mulai mengoleksi lukisan berkat persahabatannya dengan pelukis-pelukis Belanda yang kasmaran pada Bali seperti Rudolf Bonnet dan Arie Smith. Di museum ini ada pavilion khusus untuk menghormati Arie Smith dan I Gusti Nyoman Lempad.

Berbeda dengan Smith yang melukis Bali dalam gaya impresionisme, Lempad adalah maestro seni rupa Bali yang dikenal dengan gambar (drawing) hitam-putih menggunakan tinta yang begitu vibrant dan powerful. Di museum ini dapat kita saksikan gambar-gambar Lempad yang sangat naratif menceritakan mitilogi dan folklore Bali. Juga ada foto-foto tua yang mendokumentasikan (sebagian) perjalanan hidup Lempad.

Ada koleksi yang sangat menarik dari Abdul Azis. Anda ingat, jika kita ke Sukowati atau pasar seni di Ubud, kita akan sering menjumpai sepasang lukisan menggambarkan seorang gadis dan seorang jejaka dalam dua lukisan terpisah? Saya baru tahu bahwa lukisan orisinilnya dibuat oleh pelukis kelahiran Purwokerto yang bernama Abdul Azis. Menariknya, ternyata dua lukisan tersebut dibuat secara terpisah dengan jeda yang cukup panjang (bukan sengaja dibuat berpasangan). Di Neka, dua lukisan itu disatukan dalam sebuah bingkai unik. Saya merinding melihat jatuhnya tatapan mata sang jejaka ke arah si gadis yang begitu hidup. Energi lukisan itu terasa meluap.

Setelah puas melihat lukisan, kami leyeh-leyeh sebentar di beranda belakang Museum Neka yang juga berfungsi sebagai kafetaria kecil. Pemandangan lembah Ubud dan angin yang membelai manja memberatkan kaki untuk melangkah. Tapi, apa boleh buat, sabda Baginda Andrew memaksa kami beringsut. Kemana lagi, kalau bukan… makan?

Target selanjutnya adalah Nasi Ayam Ibu Mangku di Jl. Kadewatan, Ubud. Sekarang tempatnya sudah dipugar cantik. Perpaduan antara gaya “saung” restoran Sunda dimana ada lesehan yang terpencar di sana-sini dengan suasana seperti restoran ayam Mbok Berek di Kalasan, Jawa Tengah.

Nasi ayamnya termasuk kelas berat, dilihat dari ukuran sajiannya. Nasi campur khas Bali ini ditambahai telur rebus bumbu kuning  dan ayam betutu yang empuk dan rada berminyak dengan kelezatan yang kaya. Yang menambah sensasi adalah kriuk-kriuk dari kacang tanah, kulit serta usus ayam yang digoreng garing.

Dalam perjalanan selepas Kadewatan saya tertidur kekenyangan. Saya terbangun oleh gumam kagum teman-teman pada Danau Batur yang mulai menampakkan kecantikannya. Tak lama kami sampai di Kintamani, bersiap-siap untuk di-transfer ke restoran yang masih dalam tahap pra-operasi di Kedisan yang berada di tepi Danau batur. Sayang sekali  sikap para penjaja kaus dan kerajinan (pedagang acung) yang setengah memaksa membuat suasana tidak nyaman.

Begitu sampai di tepi Danau Batur saya terdiam. Oh my God! Kini saya paham apa arti “tranquility” di dalam bahasa Inggris. Kedamaian, ketenteraman, dengan pemandangan yang permai, meneduhkan hati. Restoran Kedisan ini bertempat persis di tepi Danau Batur. Ada beberapa kolam tempat memancing. “Hall utama” tempat  makan  berbentuk rumah panggung dari kayu di atas salah satu kolam. Ada bale bengong di satu sisinya. Hery dan istri yang sedang “second honeymoon” langsung saja nangkring dan mojok di sebuah getek yang parkir di tepi danau. Ledekan Yohan, “Dunia serasa milik berdua, yang lain indekos!” tidak mengusik kemesraan mereka. Iya lah. Buat saya, Kedisan ini merupakan perpaduan sempurna antara setting film “Lake House”, “Notebook” dan “Dying Young”.

Udara dingin dan basah langsung membuat tubuh ingin merebah. Begitu juga pemandangan tepian danau, dinding lembah dan atap langit di atas sana. Surrender, semeleh, pasrah. Setelah puas merebah di bale-bale, saya pun menghirup secangkir kopi Bali yang hangat. Alamak…

Kalau mau yang lebih dinamis dari sekedar leyeh-leyeh atau mengheningkan cipta, di Kedisan ada beberapa fasilitas olah raga air, seperti banana boat atau jet ski. Selain itu juga ada fasilitas memancing. Senta Lokas langsung manteng dengan joran di salah satu kolam. Lima menit… sepuluh menit… lima belas menit… Kok kailnya belum juga bergoyang? Tak lama datang seorang pengelola Kedisan dengan ramah menyapa Lokas, “Maaf, Pak, kolam yang ini belum ada ikannya.”

Alfons langsung beraksi dengan jet ski-nya. Tapi sempet bikin cemas karena tak kunjung muncul dari balik lengkungan danau. Salah seorang pengelola Kedisan menyusul dengan jet ski lain. Konon kabarnya, jet ski Alfons tersangkut rumput danau. Selang beberapa waktu Alfons pun muncul dan ketika menjejakkan kaki di dermaga dia menggoyang-goyang kepala dan badannya, “Aduh, gue jet-lag, nih!” 

Sebagian yang lain berkaraoke. Wah, ternyata banyak juga bakat-bakat terpendam di Js. Saya ingat Lucia (Nyonya Didit, the honeymooners) menyanyi lagu Sheila Madjid dengan indah. Lalu saya balik untuk rebah-rebahan di bale-bale.

Tak lama makan malam pun siap. Yang membedakan dengan yang sudah-sudah adalah lauk ikan nila bakar yang disediakan. Ikannya segar, plecingnya enak. Setelah dua hari ketemunya sambal matah, rupanya banyak yang kangen sambel ulek. Sayang cuma sedikit tersedia, jadi mesti rada-rada memendam hasrat.

Pelayanan yang disajikan benar-benar istimewa. Pada saat berpisah kami pun merasakan keramahan Pak Wayan Rena dan istri (juga kemesraan yang terpancar dari tatap mata dan bahasa tubuh mereka berdua) yang mengharukan. Bintang semburat di langit menahan langkah kami untuk buru-buru ke mobil. Langit lengkung sempurna, dengan gemintang yang disana-sini berserak seperti debu intan. Udara yang bersih memungkinkan kita menyaksikan keindahan langit.

Dengan berat hati kami pun meninggalkan Kedisan. Hotel yang kami tempati di Ubud berada di dekat “Monkey Forest”. Menurut Andrew ini sengaja untuk mendekatkan para peserta dengan habitat asalnya! Kurang ajar… ha ha ha….

Komentar»

1. joned - Juni 13, 2007

summer comes, holiday time…road trip dong !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: