jump to navigation

Kembali ke … Bali! Mei 31, 2007

Posted by Dadi Krismatono in Kuliner.
trackback

Pada tanggal 10-13 Mei 2007 yang lalu Jalansutra kembali mengadakan kelana bujana. Tidak tanggung-tanggung, kali ini tujuannya ke jantung wisata Indonesia. Kemana lagi kalau bukan ke.. Bali! Rangkaian acara dalam jalan-jalan kali ini diinspirasi oleh banyak tulisan Kepala Suku Pak Bondan Winarno yang begitu mencintai Bali.

Kamis pagi, 10 Mei 2007, bandara Soekarno-Hatta mulai ramai. Saya, Yohan Handoyo dan Kepala Rombongan Andrew Mulianto menyempatkan sarapan ayam goreng sebelum menyambut peserta. Ternyata sudah ada yang datang. Tante Grace yang jauh-jauh dari Bandung sudah sampai di Bandara. Begitu juga beberapa teman yang lain. Spanduk oranye pun digelar untuk mempermudah teman-teman bergabung. Pendaftaran dilakukan. Di antara peserta, ternyata ada pasangan honeymooner yang gabung. Wah, honeymoon-nya wisata kuliner? He he he… Didit dan Nyonya, we wish you all the best and happiness!

Check in, boarding dan perjalanan ke Denpasar dengan Air Asia berjalan dengan lancar. Lancar menurut saya karena selepas ngobrol ringan dengan Yohan dan Johanes Johan (hayo.. hati-hati tertukar) di pesawat, saya langsung tidur. Saya salut dan menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kang Andrew yang manajemen bagasinya ciamik punya. Bayangkan, selama di Bali kita bisa jalan-jalan melenggang-kangkung, cukup bawa tas kecil, karena bagasinya sudah diantar dengan mobil box ke hotel tempat kita menginap pada malam harinya.

Landing di Bali disambut dengan kalungan bunga dari teman-teman TX Travel. Mbak Vita dari TX Travel Sanur menjadi mitra kolaborasi Kang Andrew dengan pelayanan yang tak kalah yahud. Ada Tante Angga dan Yuu yang dari Bali langsung bergabung. Juga Mbak Liliek Devi yang berangkat dari Surabaya. Urusan bagasi dan bagi-bagi kendaraan beres dan kita langsung … makan siang!

papan-be-pasih.jpg 

sate-lilit-be-pasih.jpg  

Makan siang hari pertama di Be Pasih, sebuah restoran dengan hidangan gaya Pesinggahan yang berasal dari daerah pesisir Klungkung. Tempatnya di kawasan pemukiman Jl. Pemuda, Denpasar. Menu utamanya sate lilit, plecing, sop ikan dan sate tuna. Sate lilitnya gemuk, dengan perpaduan antara ikan tuna dan ikan marlin sehingga ada sedikit sentakan di ujung rasa gurihnya. Plecing kangkung dan kacang goreng hadir dengan sambal matah yang membangkitkan semua indera perasa. Tapi ini nih.. sop ikannya.. duh.. potongan daging ikan tuna dengan kuah kuning gurih dan pedas khas Bali. Enak sekali diseruput di tengah hari yang panas. Ahhh…

Tapi ada satu jagoan lagi yang tampil belakangan. Sate tuna yang ditampilkan mirip sate ayam biasa. Kalau tadi sate lilit begitu gemuk dan penuh bumbu, sate tuna ini lebih sederhana. Tusukannya pun biting biasa. Karakter daging tuna tampil polos dengan bumbu mirip sambal ulek biasa yang tipis saja. Jadinya imbang banget. Ditemani es kelapa dengan perasan jeruk atau es daluman (cincau) hijau dengan gula merah yang mengademkan hati? Speechless…

Makan siang ini menjadi pembuka perjalanan yang sangat istimewa. Untungnya para peserta JS Tour adalah teman-teman yang menghargai waktu. Jarang sekali ada acara yang molor kebangetan. Itu juga karena Kumendan Andrew yang tegas. Walau masih pingin leyeh-leyeh kekenyangan, kami pun beringsut kembali ke bis untuk menuju tempat tari kecak di Batu Bulan. Di bis kami sempat saling berkenalan dan, siapa nyana, perkenalan itu berujung pada kisah asmara di malam terakhir!

Sejenak perjalanan mengantar kami ke Batubulan, tempat pertunjukan tari kecak. Bukan JS namanya kalau tidak mencoba hal yang tidak biasa. Terinspirasi oleh pengalaman Pak Bondan menari kecak, sebagian dari kami pun bergabung jadi penari dadakan di Sanggar Sahadewa. Saya, Rifnanto, Yohan, JoJo, Alfons, Om Steve, Didit dan Hery Setiawan segera digelandang ke ruang ganti untuk didandani.

Sambil dandan saya berpikir, ini gimana latihannya? Ternyata tidak perlu latihan, langsung learning by doing! Saya ditempatkan di baris ke dua, sehingga bisa meniru penari (beneran) di depan saya dan mendapat aba-aba dengan colekan dari penari di belakang saya. Tapi saya lihat Rifnanto dan JoJo ada di barisan depan! Wah, seru juga tuh!

Tari kecak menceritakan kisah klasik Ramayana dan ditutup dengan Sanghyang Jaran yang mirip dengan tari kuda lumping di Jawa. Dalam kecak, tubuh didekonstruksi tidak hanya menjadi personifikasi peran atau tokoh. Tubuh juga menjadi alat musik atau setting. Ada satu bagian yang sangat memukau, yaitu ketika Shinta dikurung oleh Rahwana. Tubuh-tubuh penari tidur melingkar membentuk tembok yang mengungkung si putri jelita. Di lain adegan, tubuh menjelma pohon-pohon tertiup angin, atau menjadi kota Alengka yang luluh-lantak diamuk Hanoman. Tubuh didudukkan dalam kesepakatan simbol yang kontekstual. 

Selain pelajaran tentang dekonstruksi, saya senang sekali dengan pengalaman berada “di dalam” irama dan gelombang suara. Bukan sekedar menonton. Secara umum, tata bunyi kecak terbagi dalam beberapa elemen. Ada pengatur irama dan tempo dengan suara “pung.. pung.. pung…” yang konstan lalu naik atau turun berdasarkan dinamika dramaturgi. Dari bapak yang membantu dandan (maaf, saya lupa namanya) saya ketahui bahwa suara “cak” atau “kecak” ternyata dibagi menjadi enam varian! Mulai dari “kecak – kecak – kecak” yang jarang dan tenang hingga “cakcakcakcak” yang ramai seperti rinai hujan. Bahkan ada suara yang hanya terdengar “kec – kec – kec – kec” (“cak”-nya tenggelam oleh pola suara lain) tapi menimbulkan sinkopasi irama yang aduhai. Perpaduan enam pola inilah yang menciptakan gelombang suara yang menghanyutkan. Lalu ada satu atau dua orang melantunkan cerita atau dialog dalam bahasa Bali.

Merasakan penghayatan para penari di sekeliling saya, saya tersadar, bahwa dalam bekerja sama untuk mencapai tujuan, tidak ada peran yang kecil. Semua, dengan peran dan tugasnya masing-masing, melebur dalam irama dan kerja sama. Harusnya ada teori manajemen yang ditulis dari penghayatan tari kecak ini ya…

Terus terang saya agak kebat-kebit berada di arena ketika tari jaran kepang yang menendang sabut kelapa yang dibakar itu beraksi. Tapi ternyata nggak apa-apa, cuma agak gatal aja karena serpihan sabut kelapa hangus menempel di kulit.

kecak-mejeng-1.jpg

Pertunjukan selesai dengan tepuk tangan membahana dari penonton. Gimana nggak membahana, lha wong penontonnya JS semua! Ha ha ha.. Ya, pertunjukan ini khusus untuk JS. Mungkin karena itu juga para pengelola sanggar ini membolehkan tari kecaknya  sedikit bernuansa “belly dancing” alias tari perut dengan kedatangan anak JS.  

Acara selanjutnya adalah wine dinner di restoran Pergola. Namun karena waktu masih agak senggang, Andrew mengajak kita makan angin di Pantai Sanur. Baru kemudian kita berjalan kaki ke Pergola. JSer Bali pun bergabung. Yang saya ingat adalah Andreas Lalenoh dan Yoskebe. Wah, seneng banget nih, bisa ketemu langsung dengan para punggawa JS van Bali. Setelah selesai makan, langsung kita menuju Hard Rock Hotel di Kuta.

Mencicipi nasi pedas Bu Polsek sebenarnya dijadwalkan pada Sabtu malam. Namun sebagian dari kami memutuskan untuk menangsal perut sebelum tidur. Nasi Bu Polsek ada di Jl. Raya Kuta, dekat dengan Kantor Polisi Sektor Kuta. Makanya namanya Bu Polsek, bukan Bu Polres atau Bu Polda. Sebenarnya hidangannya nasi rames biasa, tapi sambelnya punya tingkat kepedasan yang menguji batas. Nasinya enak, dengan campuran sejumput mie goreng, orak-arik tempe, sayur dan jumputan ini-itu. Lalu ditambah sesendok sambal yang merah menyala. Pedasnya sudah mendekati pahit tapi anehnya kok uenak ya?

Dengan mata berkaca-kaca, bukan karena sedih berpisah dengan Bu Polsek, tapi karena kepedasan, kami pun kembali ke hotel dan zzz… zzz… zzz…

Komentar»

1. catering di denpasar bali - Oktober 29, 2012

Keren nih tulisannya, keep posting ya…
Sudah Coba Empat Tempat Makan Unik Di Bali
Klik http://goo.gl/ZGcfU


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: