jump to navigation

“Kiwi” Sauvignon Blanc April 16, 2007

Posted by Dadi Krismatono in Kuliner.
trackback

Sejak dulu dunia persilatan wine dibagi menjadi dua kelompok besar: “old world” dan “new world”. “Old world” mengacu pada negara-negara (atau daerah) yang dianggap memiliki tradisi yang sangat tua dalam pembuatan dan budaya wine. Bahkan bisa ditelusuri sampai ke jaman kekaisaran Romawi. Yang masuk ke kelompok ini adalah negara-negara Eropa. Sementara “new world” merujuk pada negara-negara (atau daerah) yang baru saja memiliki produksi dan budaya wine, terutama karena hasil akulturasi budaya.

Ternyata semakin ke sini, kategorisasi “old world” dan “new world” semakin pudar. Keterampilan produksi bisa dipelajari dan budaya terus berkembang oleh interaksi. Jika menyimak Wine Spectator’s Top 100 Wines 2006 kita akan melihat perimbangan yang menarik. “Old world” diwakili oleh Perancis, Italia, Spanyol, Portugal, dan Austria mencatatkan 49 wine-nya sementara “new world” yang diwakili oleh Amerika Serikat, Australia, New Zealand, Afrika Selatan, Chile, Argentina dan Kanada mengegolkan 50 wine. Ini seharusnya bisa genap, hanya saya tidak tahu harus dimasukkan kemana Hungaria? Mungkin “old world”, ya, karena dia Eropa? Kalau begitu berarti imbang  dong..

Salah satu yang makin hari makin mendapat tempat di hati pecinta wine dunia adalah wine dari New Zealand (NZ). Mirip dengan Indonesia, NZ adalah negara yang diberkahi kekayaan geografi mulai dari gunung berpuncak salju, hutan hingga laut. Tak tanggung-tanggung, nzwine.com mengklaim bahwa dengan area penanaman anggur yang terentang dari 36 hingga 45 derajat lintang selatan, NZ menyimpan kekayaan iklim dan jenis tanah yang ekuivalen dari Bordeaux hingga Spanyol selatan.

Iklim maritim NZ yang sedang dan relatif stabil, tanpa swing yang drastis dari panas ke dingin, sangat mempengaruhi perkebunan anggur di area pesisir. Anggur dihangatkan oleh sinar matahari yang berlimpah di siang hari dan diademkan oleh angin laut yang sembribit di malam hari. Proses pematangan yang perlahan lagi panjang mempertahankan rasa varietas yang “vibrant”.

Kini, Sauvignon Blanc dari NZ (yang punya nickname “Kiwi Sauvignon Blanc”) diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Padahal budidaya sauvignon Blanc di NZ belumlah lama. Dimulai sekitar tahun 1970-an, belum ada produk dalam skala komersial yang mucul di pasar hingga tahun 1980-an. Baru pada awal 1990-an Sauvignon Blanc NZ mampu membawa negara tersebut berkiprah di kancah wine dunia. 

Sauvignon Blanc dari NZ ini secara umum dapat dibagi menjadi dua gaya regional: Utara dan Selatan. Kawasan utara meliputi Hawkes Bay bablas sampai ke utara sementara kawasan selatan mencakup South Island dan Wellington. Sauvignon Blanc dari utara cenderung lebih kaya dan matang, dengan rasa melon, nectar, peach atau plum. Sementara saudaranya dari kidul cenderung lebih ringan dan crisp, dengan aroma markisa atau rasa buah yang tajam lainnya, bahkan cabe merah hingga herbal. Iklim adalah determinan perbedaan ini. Daerah selatan yang lebih dingin dengan masa pertumbuhan yang lebih panjang menghasilkan rasa buah yang lebih kuat dan seiring dengan tingkat  acidity yang lebih tinggi. Marlborough adalah daerah penting penghasil wine segar ini.

Beruntung saya pernah dikenalkan pada salah satu jawara Kiwi Sauvignon Blanc. Dalam acara WINEXperience JS di Cork & Screw beberapa waktu lalu, Yohan Handoyo mempertemukan para peserta dengan  Kim Crawford Sauvignon Banc Marlborough 2006. Masuk dalam rating yang telah disebut di atas bersama wakil NZ yang lain, yaitu Matua Sauvignon Blanc Marlborough Paretai Series Estate 2005 dan Craggy Range Pinot Noir Martinborough Te Muna Road Vineyard 2004, wine dengan aroma sirsak dan intensitas di mulut yang mengagumkan, menjelaskan kepada saya apa yang dimaksud dengan “kompleks”, “balance” dan “elegan”.

sc_sauvblanc06.jpg

Sebagai sneak preview dari acara Klubwine Dinner yang akan menghadirkan New Zealand wine pada tanggal 19 April 2007 mendatang, saya bersama Pak Henry Santoso dan Pak Tatyo Meirianto membuka St. Clair Marlborough Sauvignon Blanc 2006; satu dari tiga Kiwi Sauvignon Blanc yang akan dihadirkan di Paprika. Warnanya pucat kehijauan, dengan aroma markisa dan nanas yang langsung dengan intens menyergap hidung (eh, btw, ada nanas nggak ya di NZ?). Acidity-nya cukup kuat, seimbang dengan aksen mineral yang menghasilkan finish yang bertahan cukup lama dan pelan-pelan memudar. Hmmm…

Untuk acara tanggal 19 April 2007  itu selain Sauvignon Blanc dari St. Clair, masih ada pilihan Sauvignon Blanc dari Cornerstone dan Otuwhero. Pasti asyik, seperti bertamasya di kebun buah imajiner. Juga ada pilihan Riesling, Pinot Noir dan “Kiwi Ice Wine” (he he he.. bikin istilah baru) yang akan melengkapi pengembaraan kuliner kita.

Kita lanjutin ngobrolnya di Paprika, ya..!!

Referensi :

  “Old World vs New World Wine” by Yohan Handoyo (www.yohanhandoyo.com)

–  www.nzwine.com 

“The Essential of Sauvignon Blancs” by Peter Morrell (www.forbeswineclub.com)

 

Komentar»

1. Sindhiarta - April 16, 2007

Dadi,

seperti biasa, bercerita dg keren,
sorry tanpa minta ijin dulu – sudah saya forwardkan kesana kemari.

salam
sm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: