jump to navigation

Mencicipi Hidangan Szechwan di Lokasari April 2, 2007

Posted by Dadi Krismatono in Kuliner.
trackback

“Pin-tong” alias “pindah tongkrongan” sudah jadi tradisi di Keluarga Jalansutra. Pada hari Sabtu, 31 Maret 2007, setelah Wine Potluck di cellar PT Sarana Tirta Anggur di daerah Bendungan Hilir yang sangat mengesankan (terima kasih, Evander) Yohan Handoyo mengusulkan agar kita mencicipi hidangan Szechwan di restoran Wan Wei Xiang Suki yang belum lama buka di Lokasari, kawasan Mangga Besar, Jakarta.

Lokasari sempat punya tempat khusus di hati warga Jakarta. Dulu di sini ada arena bermain anak-anak sejenis Dufan, panggung hiburan—khususnya untuk kesenian Tionghoa, dan yang baru saya tahu malam itu dari Yohan adalah disini tempat berkumpulnya guru silat. Sampai sekarang pun di gapura masuknya masih tertulis “Taman Hiburan Rakyat Lokasari”. Namun isinya sudah berubah menjadi pusat perdagangan dan ruko. Tapi treasure kawasan ini berupa koleksi kuliner masih melimpah.

Wan Wei Xiang Suki terletak di salah satu ruko di kompleks Lokasari. Tempat ini sangat sederhana. Bahkan di dinding pun tidak ada lukisan atau ornamen hiasan. Hanya tembok putih polos. Begitu juga furniture-nya. Sebagian krunya belum bisa berbahasa Indonesia. Untung ada Nyonya Andy Mursalim yang fasih berbahasa Mandarin dan menjadi penerjemah, setelah sebelumnya sebagian dari kami berbahasa Tarzan menunjuk gambar-gambar yang ada di daftar menu. Waktu saya intip, mereka mencatat pesanan dalam aksara Cina. Wah.. serasa di film kung fu!

Hidangan di Wan Wei Xiang terbagi dalam dua kelompok. Yang pertama rebus-rebusan alias suki dengan pilihan kuah gurih dan kuah pedas a la Szechwan. Kelompok kedua adalah berbagai menu yang bisa dipesan a la carte. Saya duduk di bagian meja bersama teman-teman yang tidak makan daging babi. Kami memesan berbagai pilihan rebusan. Banyak pilihan yang unik, seperti cabai merah isi sea food, pare isi sea food, atau jamur shitake dengan cincangan ayam serta beberapa menu standar seperti jamur enoki, jamur shitake, tahu, daging sapi, akar teratai atau kembang tahu. Yang agak berbeda dari Chinese food biasanya adalah dalam menu Szechwan ada pilihan daging kambing. Kedua kuah juga disajikan. Yang satu agak keruh dan gurih, sementara yang pedas warnanya “manyala bob!”, menjanjikan sensasi rasa pedas yang test the limit. Sayang sekali Pak Bondan Winarno yang semula ingin menyusul setelah menjadi bintang tamu di acara Extravaganza TransTV urung bergabung. Padahal saya mengharapkan sekali dapat kuliah langsung tentang empat penjuru angin gagrak kuliner Cina seperti yang beliau tulis beberapa waktu yang lalu.

Untuk a la carte, kami memesan keong macan yang dimasak dengan tauco, hidangan ayam (yang ketika muncul tampak seperti ayam kung pao tapi gelap dan pedas), udang mabuk yang dimasak dalam bambu, ikan gurame yang di-steam dan daging sapi lada hitam. Di urutan teratas menu a la carte ada hidangan dari daging keledai. Berhubung saya belum kepingin pulang jalan menjompak sambil meringkik maka saya kesampingkan dulu pilihan itu he he he….

kuah-rebusan.jpg Kuah pedas merah menyala. 

Yang menarik adalah koleksi bumbu-bumbu yang bisa kita pilih untuk dijadikan dipping sauce. Tak kurang dari 15 mangkuk! Ada yang standar: gerusan bawang putih, cabe kering, bubuk cabe, berbagai kecap dan minyak wijen. Tapi ada juga yang baru saya temui malam itu. Ada saus kacang yang lembut dan aromanya seperti peanut butter, ada saus dengan biji-bijian di atasnya yang rasa dan aromanya seperti pesto, ada yang tongkrongannya seperti bumbu rendang, dan masih banyak lagi Berhubung tempat itu sedang ramai, saya tidak bisa berkonsultasi dengan home staff tentang perbumbuan itu. Terpaksa deh, walaupun kurang sopan, saya membaui dulu bumbu-bumbu itu sebelum dimasukkan ke mangkuk. Kesimpulan saya bumbu-bumbu dalam dipping sauce itu mengarah ke rasa gurih, mungkin untuk mengimbangi kuah pedas yang dahsyat itu.

Tak lama sibuklah kami di meja dengan berbagai hidangan yang berdatangan. Bisa dianalogikan bahwa garak Szechwan ini mirip masakan Padang dalam kuliner Indonesia. Pedas dan menggelora. Ada satu bumbu dalam kuah pedas Szechwan, yaitu “mala” (CMIIW) atau “Szechwan peppercorn” yang diwanti-wanti agar jangan sampai tergigit karena pedasnya bakalan betah berlama-lama ngendon di mulut. Hampir semua hidangan menggunakan cabe kering dan kurma sehingga menghasilkan rasa dan aroma yang unik.

Tim gurame menjadi hidangan yang paling cepat tandas malam itu. Tingkat kematangannya pas, tidak amis dengan saus yang istimewa. Udang mabuk adalah udang peci agak besar yang dimasak dengan kuah seperti tim obat di dalam selongsong bambu. Segar. Cocok untuk menyegarkan badan yang kena flu. Selain aroma arak masak (ang ciu), irisan jahe serta pelbagai bumbu lainnya, di dalamnya ada angkak dan kurma yang belakangan ini populer sebagai suplemen pemulihan bagi pasien demam berdarah. Udangnya segar dan menyeruput kuah di sela-sela kakinya dan kulitnya nikmat sekali. Natalia Tanyadji pun menjatuhkan verdict: “This place is definitely not for first date!”

Favorit saya malam itu adalah keong macan masak tauco pedas. Katanya keong macan ini termasuk keong laut. Mungkin itu yang merbuat saya tidak merasakan sergapan di leher belakang yang biasanya muncul ketika makan keong sawah. Teksturnya liat seperti ampela ayam tapi sangat mudah dikeluarkan dari cangkangnya. Kuah tauconya ringan khas tauco China yang berbeda dengan tauco Sunda yang lebih pekat. Duh, benar-benar caught in the act deh, karena saya tidak bisa menyembunyikan bukti kejahatan berupa rumah-rumah keong itu di piring saya dari tatapan teman-teman.

keong-macan.jpg Keong macan “caught in the act!” 

Namun pertempuran sesungguhnya tentulah suki kuah pedas yang menggoda di tengah meja. Saya belum cukup berani untuk sering-sering menyeruput kuahnya langsung. Paling saya ambil rebusan dan saya tenggelamkan dalam dipping sauce. Biasanya saya menggunakan nasi untuk menetralisir rasa pedas dan berminyak di mulut. Namun karena pesanan yang tersaji sudah banyak, saya khawatir nanti nasinya mubazir kalau cuma termakan satu atau dua sendok. Bagi saya ini benar-benar test the limit! Pedasnya sampai ke ubun-ubun dan panasnya sampai membuat rasanya semua pori-pori membuka. Istimewanya adalah rasa panas dan pedas itu berasal dari pepaduan bumbu yang kaya. Bahkan sesekali rasa spicy India pun berkelebat di lidah saya. Sungguh culinary journey yang istimewa yang membawa saya ke suatu tempat somewhere over the rainbow. Semua yang hadir pun mandi keringat dengan wajah merah merona.

Tak terasa satu setengah jam berlalu dan tidak ada dari kita yang terpikir untuk memesan dessert. Iya lah. Udah jenuh naik kebo; Penuh, Bo!

Kamsia, Yohan. Good recommendation!

Photo by Natalia Tanyadji.

Komentar»

1. Riri - April 4, 2008

Wah, boleh tuh dicoba. Tapi ada hidangan yang ga halalnya, ya????

2. dadi krismatono - April 4, 2008

Iya, ada bbrp hidangan yg gak halal. Waktu itu kita minta dipisah antara yg halal dan gak halal.

3. Adi - Agustus 6, 2009

enak banget tuh kelihatannya…ntar dicoba deh..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: