jump to navigation

Jazzy Bubbly Whity Winy Lovely Evening at Alila April 2, 2007

Posted by Dadi Krismatono in Kuliner.
trackback

Sebenarnya tulisan ini sudah ngendon cukup lama di laptop saya. Namun, berhubung ada beberapa catatan yang saya tulis di kertas ketlingsut dan baru ketemu kemarin, baru hari ini saya bisa berbagi catatan saya tentang acara Klubwine tanggal 8 Maret 2007 yang lalu.

Kira-kira jam 19.20 saya menjejakkan kaki di Hotel Alila, Jakarta, yang bergaya modern-minimalis. Sudah lama saya terpikat dengan ruang yang lapang dengan sudut-sudut yang tegas dan pemilihan warna yang berkarakter di hotel ini. Dan malam itu, gaya arsitektur itu menjadi penopang ambiens yang cocok untuk acara makan malam Klubwine yang bertajuk “Bubbling & White Wine” yang disandingkan dengan creative food gubahan Chef Tony O’Connell.

Acara ini mengambil tempat di lantai dua yang berbentuk mezzanine, sehingga makin menegaskan keindahan visual dan suasana. Ketika saya datang suasana sudah ramai dan para hadirin sudah hampir merampungkan hidangan pertama berupa  udang yang dibungkus kataifi dengan jamur shitake dan asparagus. Kreativitas dan selera humor Chef Tony baru saya tangkap belakangan ketika pelan-pelan saya membaca kembali susunan menu. “Kataifi wrapped shrimp with shitake farce, warm asparagus.” Farce adalah bentuk drama komedi yang dibangun dari suasana kacau dan ridiculous yang biasanya digunakan untuk menghantarkan kisah-kisah absurd. Samuel Beckett yang kondang dengan “Menunggu Godot” dan Dario Fo (pemenang Nobel Sastra 1997) termasuk dalam langgam ini.

Hidangannya sih tentu tidak absurd. Malah lezat. Udang yang dibungkus kataifi, yaitu adonan lembaran tepung yang kemudian dipotong-potong menjadi seperti mie, lalu digoreng dan disajikan dengan sedikit orak-arik jamur shitake yang aromanya kuat serta asparagus. Sangat straightforward. Semua rasa muncul apa adanya tanpa ada saus atau marinate yang overacting. Tekstur kataifi yang kenyal seperti keju mozzarella memperkaya citarasa.  Tampilannya pun seolah meresonansi gaya modern minimalis hotel itu. Piring yang lebar menjadi kanvas dari lukisan mirip gaya kubisme. Sepanjang malam itu Chef Tony menyajikan masakan yang sangat lugas yang seolah mengingatkan kembali hakikat kelezatan masing-masing anasir hidangan

Belakangan saya ketahui bahwa saya sudah ketinggalan canapé salmon yang di-cured dengan gula pasir dari Chef Tony. (Gosh!) Pantas tadi pramusaji langsung menuang Trivento Sparkling Brut begitu saya duduk. Aromanya buah-buahan yang segar dengan buih yang apa ya.. agak kenceng dan nggak gampang hilang (?). Mungkin sifat buih ini yang menyebabkan finish-nya  agak panjang. 

b0pkru_trivento_brut1.jpg  francoismontand1.jpg   terrelambrusco1.jpg   petriesling.jpg 

Sementara yang dipilih menjadi teman tapi mesra bagi si udang adalah Francois Montand Blanc de Blanc 2000. Meminjam slogan minuman kola pada tahun 80-an, bagi saya wine ini bisa masuk kategori “dimanapun, kapanpun” karena rasanya yang ceria dengan “letupan” rasa vanilla dan jeruk manis. Tampilannya cantik, bahkan sekilas mirip champagne.

Hidangan kedua langsung menggoda mata sebelum nantinya membelai lidah. Salad pepaya yang mirip-mirip salad Thailand dengan irisan daging bebek dan kacang sangrai. Seperti ada pesta kecil di mulut saya. Pepaya mengkal dengan sedikit sambal pedas manis Thailand bergulat dengan daging bebek yang dimasak dengan bumbu agak manis ditingkahi renyahnya kacang sangrai. Pasangannya pun tak kalah ciamik. Terre Lambrusco Emilia Frizante, sparkling red wine yang manis dan harum menggoda. Hanya saja ternyata mereka tidak berjodoh. Kedua sajian ini seperti jalan sendiri-sendiri, walau masing-masing sangat enak.

Hidangan ketiga yang saya anggap sebagai hidangan utama karena menyertakan nasi (maklum, perut kampung…) sangat patut dipuji. Ikan kerapu yang dikukus dengan jahe dan kecap encer. Rasanya sangat sederhana tapi intens. Apalagi dipadu dengan sedikit tumis sayuran dan—ini—nasi yang diberi ketumbar. Lembut dan harum. Chef Tony berhasil menampilkan the beauty of simplicity pada sajian yang nampak humble itu. Sayang bukan di warung Padang, sehingga saya tidak bisa bilang “Uda Ton, tambo ciek” untuk nasi beraroma lezat itu.

Pairing-nya pun sukses. Metz Cuvee Anne Laure Alsace Blanc 2002 memang berkarakter easy drinking. Tidak ada aroma yang terlalu kuat. Entah kenapa perpaduan dry-nya Alsace dengan kelembutan citarasa nasi dan kerapu kukus ini menimbulkan sensasi yang unik.

Sambil menunggu hidangan berikutnya kawan baru kita Pak Sunil membuka satu rahasia: bagaimana cara paling enak dan tepat menikmati wine Sauternes yang manis itu. Sayangnya tidak bisa saya tulis di sini. Boleh email saya atau, yang paling tepat, datang ke acara Klubwine berikutnya.

Sorbet apel hijau kemudian hadir bersama Batasiolo Moscato Spumante Terre. Segar,   ditingkahi aroma wangi khas moscato. Hidangan pencuci mulut yang disajikan Chef  Tony untuk menutup malam itu juga kreatif. Buah pir yang di-roast bersama  kayu manis hingga empuk tapi tidak lembek. Sayangnya saus coklat yang pekat malah bertengkar dengan acidity Pettavel Evening Star Riesling 2005. Saya pun berganti strategi. Buah pir dipadu es krim vanilla. Baru  Riesling-nya muncul. Rasa asamnya tetap terasa tajam. Mungkin perlu di-cellar beberapa waktu agar lebih “dewasa”.

Malam tambah jazzy oleh sajian musik dari home band Alila.

Komentar»

1. Henry Santoso - April 2, 2007

Mas Dadi

Thanks alot untuk tulisan yang bagus ini.

Semoga bisa lebih banyak lagi yang mau menulis seperti anda dan kita juga bisa bikin acara potluck di antara klubwine members

Thanks
Henry.

2. Gunawan - April 2, 2007

Pak Kris,

Bagus sekali ulasannya.
Setuju dengan pendapat Bapak, makanannya OK tapi wine nya ada yg kurang pas. Menurut saya malah pilihan wine nya sedikit dipaksakan sehingga kurang harmonis.

Saya kebetulan bukan penggemar sparkling wine namun secara specifik Moscato nya memang ok. Secara keseluruhan, sesi di Alila tergolong kategory “good value for money”.

Jangan lupa mengirimkan file sweet wine nya ya Pak. Mungkin kita perlu duduk dan menikmati sweet wine bareng-bareng supaya bisa saling kenal dan tukar info soal wine.

Salam,
G

Catatan: beberapa hari yang lalu saya ketemu Moscato yg dihidangkan di Alila dan ternyata harganya lebih murah dari di Vin+. Saya pikir Vin+ sudah paling ekonomis, tapi ternyata masih ada yg lebih berani dalam soal harga.

3. Bondan Winarno - April 3, 2007

Bung Dadi,
Ini review yang hmmm… juicy banget.

Salam,

BW


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: