jump to navigation

Wine & Swike Perancis Maret 26, 2007

Posted by Dadi Krismatono in Kuliner.
trackback

Pada tanggal 17 Maret 2007 yang lalu saya berkesempatan menghadiri WINExperience dengan tema yang menantang: Wine dan Kodok Goreng a la Perancis! Acungan jempol pertama perlu disampaikan ke Maestro Yohan Handoyo untuk pemilihan tema yang unik dan kreatif. Acungan jempol kedua? Tentu, untuk para kru dapur dari Cork & Screw (Gedung Kodel – Lantai Dasar, Jl. H.R. Rasuna Said, Jakarta) yang menjadi tempat acara tersebut, yang telah menyajikan menu yang nama aslinya “les cuisses de grenouilles” tersebut dengan kualitas yang patut dipuji.

Karena datang terlambat, cukup panik juga saya melihat bahwa sebotol red wine sudah memutari meja. Duh.. terlambat 15 menit aja kok udah finale? Ternyata itu adalah improvisasi untuk memecah kebekuan sementara menunggu white wine didinginkan. Mount Langi Ghiran Billi Billi Shiraz 2003 yang disajikan menambah kehangatan siang Jakarta yang agak lengang. Langi Shiraz mengklaim dirinya “bukan sembarang Shiraz” karena dibuat dari buah anggur yang berasal dari “Old Block” Shiraz yang ditanam pada tahun 1963. Sebagai pembuka memang agak berat karena rasa buah berry yang disusul dengan rasa seperti obat batuk (yang belakangan saya ketahui rasa seperti itu namanya “licorice”) dan akhiran merica putih yang tipis di pucuk bibir. Tannin-nya sedang-sedang saja mengalir lancar walau pelan karena—sekali lagi—agak “berat”.

Tyrell’s  Verdelho  2006 tak lama menyusul. Dibanding wine pertama yang seperti bintang film Farouk Afero, wine pucat ini lebih seperti Tio Pakusadewo: serius, intens, tapi ada cuatan-cuatan kesegaran. Pak Peter Hoyles, saudara ipar Pak Henry Santoso, Ketua Klubwine, menraktir kita dengan cheese platter dan pilihan roti. Terima kasih, Pak Peter. Ada tiga jenis keju. Blue cheese dengan rasa berbumbu yang kuat sementara yang dua lagi saya tidak kenal. Semuanya enak dan berkarakter. Rotinya lembut dan bermutu baik.

Sambil menyesap Verdelho yang menampilkan perpaduan unik rasa jeruk nipis dan aroma yang “sweet perfumy” (seperti salah satu parfum The Body Shop, tapi saya tidak ingat), les cuisses de grenouilles yang menjadi menu utama mulai berdatangan. Aroma butter yang bercampur bawang putih, khas masakan Perancis, langsung menyeruak. Swike londo ini menggunakan tepung yang sudah diberi lemon, sehingga menampilkan aroma yang segar, yang mengimbangi gurih dan aroma paha kodok. Walaupun di piring terlihat ada sekelabatan minyak (yang sedap sekali di-“scarpetta” dengan roti) namun kodok gorengnya sama sekali tidak mbenyek atau becek (aduh-aduh, bahasanya…). Kontras kerenyahan kulit tepung dengan kelembutan daging isinya menunjukkan kepiawian  pemasaknya.

Verdelho berlalu dan datanglah Les Vieilles Vigars Muscadet 2004 Sevre & Maine. Menurut Yohan, buah anggur jenis muscadet ini masih bersaudara dengan muscat yang menjadi bahan wine moscato namun ada perbedaan terroir yang penjelasannya sudah tidak tercatat oleh memori otak saya. Nachos dengan daging cincang dan saus tomat beredar mengelilingi meja. Nachosnya renyah dan saus tomatnya segar.

kimcrawfordsauvbl061.jpg  tyrellverdelho1.jpg wiherhills1.jpg  defaix04.jpg 

 Lalu, tampillah juara kita pada sore itu: Kim Crawford Sauvignon Blanc 2006. Wine ini masuk dalam 100 wine terbaik di dunia menurut Wine Spectator. Tak salah. Aroma sirsak yang kuat meruapkan rasa hangat yang eksotik di mulut. Kira-kira saya mulai lebih pe-de menyimpulkan suatu wine itu balance dengan kompleksitas yang cantik setelah merasakan wine yang satu ini.

Tak lama Yohan menyampaikan pengumuman bahwa budget untuk acara ini sudah habis. Langsung saja para hadirin yang merasa “kentang” alias “kenanya tanggung” kalau harus pulang saat itu juga bersepakat untuk melanjutkan acara dan share the bill.

Penampil berikutnya adalah Wither Hills Chardonnay 2004 yang dry lagi smoky. Saya suka sensasi “berasap” dari wine ini. Nah, yang memang betul-betul berasap adalah Daniel-Ettiene Defaix Chablis Premier Cru 1998 yang jadi pungkasan sore itu. Yohan memilih Chablis satu ini karena jika disajikan dalam temperatur yang tepat, wine ini akan mengeluarkan aroma mesiu! Wuih.. gimana nggak berasap? Sayang sekali, karena terlalu dingin, aroma sang mesiu urung tampil seutuhnya. Memang ada sensasi pahit di ujung lidah yang baru saya rasakan saat itu yang membuat saya tak henti mencecapkan lidah. Enak.

Langit mulai redup. Tapi masih ada kejutan: Cork & Screw menyajikan lagi cheese platters dan roti on the house! Sambil menghabiskan sensasi pahit yang enak itu, saya comot sedikit dari beberapa keju yang disajikan. Sayang sebagian sudah mulai sibuk bertelepon karena ditunggu nonton bioskop, makan malam bersama keluarga, atau yang lainnya. Penghitungan tagihan berjalan lancar. Sebagian dari kami memutuskan untuk “pin-tong” alias “pindah tongkrongan”.

Bagi saya, pilihan wine pada acara-acara WINExperience merupakan keunggulan tersendiri. Saya sangat mengapresiasi kreativitas Yohan untuk memilih wine yang dapat membentuk tema dan menyusun semacam “repertoir”, sehingga dari awal hingga selesai kita tidak hanya menikmati, tapi juga mendapat pembelajaran yang berharga. 

Sampai jumpa di WINExperience berikutnya!

Komentar»

1. Sindhiarta - Maret 27, 2007

hallo,

membaca review itu terasa dah kelasnya Dadi,
yang bisa bertutur dg sopan, rapih dan informatif,
bravo – teruskan Dad.

salam
sm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: