jump to navigation

Nyaman Jakarta di hari libur Maret 21, 2007

Posted by Dadi Krismatono in Kuliner.
trackback

Sembari mengucapkan selamat merayakan Hari Raya Nyepi dan Tahun Baru Saka kepada teman-teman yang merayakannya, saya ingin berbagi cerita berkelana bujana kecil-kecilan bersama sahabat-sahabat lama saya Edwin dan Ogie (alias Nyonya Edwin) pada hari Senin, 19 Maret 2007 yang lalu.

Senin pagi menjelang siang itu Jakarta lengang. Nyaman rasanya berkendara di lalu-lintas yang lancar. Yang paling melegakan hati adalah angkasa yang jernih dengan biru langit dan awan putihnya. Dari atas jalan tol Cawang-Tg. Priok tak terlihat kabut asap kusam yang biasanya menyaputi pucuk gedung-gedung bertingkat.

Tujuan kami adalah Petak Sembilan, sebuah lingkungan Pecinan dan pasar tradisional di belakang Glodok. Lebih tepat lagi adalah sebuah ruas gang yang merupakan ekstensi dari Jl. Petak Sembilan setelah diputus Jl. Pancoran (nama resminya Jl. Pintu Besar Selatan 3) yang menempel dengan Gedung Gloria. Turun dari jalan tol di pintu yang bertuliskan Glodok/Asemka, dan setelah sedikit celingak-celinguk dan membaca peta, sampailah kami di “Pasar Pagi Lama” yang berada dibawah jalan flyover Asemka. Disebut Pasar Pagi Lama karena “Pasar Pagi”-nya dipindah ke Jl. Mangga Dua, sebelum ITC Mangga Dua kalau dari arah Stasiun Kota (Beos).

Jalanan tersendat karena lapak pedagang tumpah menutupi sebagian jalan. Pasar Pagi Lama (atau juga disebut Pasar Pagi Asemka) sekarang menjadi tempat grosir mainan anak, stasioneri dan asesoris. Sekilas mirip Pasar Gembrong di dekat Cipinang yang juga jadi pusat perdagangan mainan anak. Langsung berbinar mata sang Ibu Ogie melihat meruahnya mainan untuk buah hati tercinta.

Perjalanan dilanjutkan. Keindahan gedung-gedung tua di sekitar kota memang memesona. Pilar, jendela, ragam hias dan ornamen bangunan masih otentik, menyimpan catatan sejarah kebudayaan, namun sayang terabaikan. Begitu juga pemilihan warna yang sangat “out of place” menurut Bapak Arsitek, seperti pada Stasiun Kota yang tampak pucat dengan warna coklat muda bersetrip oranye, sangat memprihatinkan.

Tak lama kami parkir di Pasar Baru Glodok (duh, banyak banget “pasar baru”) yang dibangun di bekas Hotel Quality. (Jembatan Glodok yang legendaris itu juga dicat dengan warna yang pucat. Siapa sih yang milih warna?). Bau hio dan suasana khas Pecinan langsung memberi ucapan selamat datang.

Hari mulai agak panas, tapi terasa ramah. Maklum, suasana hati lagi jadi “wisdom” alias “wisatawan domestik”. Beda kalo siang-siang mau meeting sama klien. Daerah Petak Sembilan terasa ramai. Melewati emperan toko-toko obat Cina yang meruapkan aroma rempah yang khas, kami sempet bertanya-tanya, “Kok, banyak yang jualan bong, ya?” Itu lho.. alat buat mengkonsumsi narkoba shabu-shabu… hiii… syerem…

Sebelum belok ke gang yang merupakan tujuan utama kami, ada toko konfeksioneri (gula-gula) grosir yang menggoda. Hmm.. permen nougat (susu) dibungkus merah yang mengingatkan masa kecil, ada kuaci dari berbagai jenis (semangka, labu, melon dan bunga matahari), permen toffees yang lengket di gigi tapi juga lengket di hati itu, atau camilan ringan seperti singkong keju atau cheesestick.

Masuk ke gang utama, di kanan-kiri penjaja makanan dengan tampilan dan aromanya seperti berlomba. Ada bakmi, siomay, nasi tim, pempek dan juga berbagai hidangan yang khas Pecinan yang (maaf) tidak halal. Langsung kami parkir di kedai es kopi Tek Kie. Es kopi susu yang jadi juara di sini menggunakan kopi tubruk yang disaring sehingga tidak ada ampasnya dan terasa ringan, padu dengan susu kental manis dan dinginnya es batu. Sueger. Cocok untuk menemani suasana panas dan hiruk pikuk gang sempit itu.

Simbiosis merupakan hal yang biasa di tempat ini. Kita bisa parkir di satu kedai, memesan minum dan mungkin satu atau dua makanan dari kedai itu dan kemudian memesan makanan lain dari gerobak-gerobak yang ada di sekitar situ.

Kami memesan nasi bebek dari gerobak Sedap Wangi dan “pi-oh” dari Koh (Bapak) A Yong (juga dari gerobak) sebagai pembuka. Nasi bebek Sedap Wangi adalah bebek panggang gaya Peking yang hadir ditemani saus encer asam-segar (kalo versi restorannya digunakan saus dari buah plum) dan sambal. Nasinya nasi hainan yang istimewa karena tidak terlalu lembek dan berminyak, cenderung ringan. Keistimewaan bebek yang dimasak gaya Peking adalah kontradiksi antara daging yang lembut dengan kulit yang garing. Inilah seni memasak yang diturunkan dari generasi ke generasi. Gerobak Sedap Wangi tentu salah satu yang patut dipuji dalam hal ini. Gurihnya pun pas. Ogie yang punya radar MSG cukup kuat mengangguk, “Micinnya sedikit.”

“Pi-oh” adalah hidangan yang dibuat dari daging bulus yang dimasak dengan kuah tauco encer dan dilengkapi rajangan kasar daun ketumbar. Hmm… Perpaduan kuah tauco yang gurih dan daun ketumbar yang spicy terasa enak di mulut. Saya amati dari sekeliling ada beberapa hidangan yang masih bersaudara dengan pi-oh. Ada pi-tim, yaitu daging bulus dengan kuah bening (yang biasanya ditambah ramuan obat) dan kodok-oh, yaitu daging kodok dengan kuah tauco.

Lalu-lalang penjual kaus putih berkancing mirip Bruce Lee semakin menegaskan suasana oriental di tempat itu. Sayang sekali, nasi tim ayam A Ngo yang konon sudah berusia lima puluh tahun sudah habis. Begitu juga nasi tim ayam di kedai Tek Kie yang istimewa. Ada beberapa nasi tim tapi berhubung belum kenal, saya urung memesannya. Betul juga kata orang tua, siang-siang rejeki keburu dipatok ayam…

Kami sengaja melakukan “sampling.” Kami hanya memesan satu piring dari masing-masing hidangan untuk dinikmati bersama-sama. Tak lama ronde pertama pun selesai. Semua tandas sampai tetes terakhir. Melanjutkan perjalanan, sempat terjadi diskusi serius. Bu Ogie ingin melihat mesin pembuat mie yang spanduknya kami lihat waktu parkir sementara Pak Edwin terlanjur kesengsem dengan rujak juhi. Akhirnya diputuskan untuk menikmati rujak juhi dulu, baru melihat toko yang menual mesin mie sambil menikmati suasana pasar Petak Sembilan dan klenteng yang ada di sana.

Rujak juhi ada di pojokan setelah keluar dari gang sempit tadi. Inilah setting warung bebek goreng Koh Abun dalam film “Berbagi Suami”. Kebetulan pula, gerobak bebek yang dipakai untuk tempat beraksi Tio Pakusadewo adalah gerobaknya Sedap Wangi. Selain rujak juhi, di “pujasera” itu kita bisa memesan mie kangkung, mie/nasi kari ayam atau sapi, sop buntut dan berbagai hidangan lain yang dijajakan oleh counter yang berbeda-beda. Karena sudah lumayan berisi, kami hanya memesan rujak juhi untuk disantap bersama. 

Rujak juhi hadir dalam tampilan yang sederhana. Potongan kentang rebus, selada air, ketimun dengan sambel kacang yang encer. Topping-nya baru luar biasa. Suwiran juhi (keluarga cumi yang posturnya agak kurus) kering dengan aroma khas. Sedikit pedas tapi bumbu kacangnya ringan. Juhinya agak chewy tapi tidak alot. Itung-itung dessert ronde pertama deh.. 

Kami pun beringsut (maklum perut udah mulai berisi) kembali melintasi gang kecil untuk menuju toko penjual mesin mie. Sampai sana ternyata tokonya tutup, malah terkesan sudah lama ditinggal. Ternyata setelah membaca lagi spanduk, mesin mie itu ada di depan Carefour di dalam Mangga Dua Square! Ha ha ha.. namanya juga mata orang lapar.

Lalu kami berjalan memasuki kawasan pasar Petak Sembilan. Ada gang yang disebut Gang Kodok karena di situ berderet penjual kodok siap masak (dan juga ada beberapa bak berisi bulus siap masak). Nggak usah deh. Tak lama berjalan ada tukang es potong. Langsung kami merubung. Es potong rasa durian dan kacang hijau membangkitkan gelak kanak-kanak yang tersimpan jauh di dalam sana.

Semula saya ingin mengajak Edwin dan Ogie melihat Gereja Katolik Santa Maria de Fatima yang juga dikenal dengan nama Gereja Toasebio yang unik. Gereja ini berdiri sejak 1955 dengan bangunan yang berarsitektur Cina. Dalam sebuah acara lain, saya sempat mengunjungi. Altar, tiang-tiang dan ornamennya semuanya bernuansa Cina. Di gereja ini juga ada pelayanan misa dengan bahasa Mandarin. Karena tak kunjung menemukannya, saya pun mengajak kembali ke Jl. Hayam Wuruk. Lorong-lorong agak sepi yang kami lewati membawa suasana nostalgia. (Waktu menulis review ini saya intip di internet ternyata gereja itu ada di Jl. Kemenangan III. Sorry ya, Guys…).  

Lalu kami kembali ke gang kecil itu untuk… lunch! Ya! He he he.. Yang jadi incaran adalah Gado-Gado Direksi yang ada di seberang tempat rujak juhi. Dinamai Gado-Gado Direksi karena konon kantor Om Liem Swi Liong dulu ada di dekat-dekat situ dan para direksinya sering memesan gado-gado di situ. (Di Olimo, sebelum Glodok, juga ada Bubur Hostess, karena warung bubur ayam itu baru pukul dua dini hari dan “captive market”-nya adalah para pekerja hiburan malam yang baru pulang dinas).

Di tempat gado-Gado Direksi juga ada beberapa counter lain. Kami memesan sop ikan sebagai penyeimbang gado-gado dan biar ada kuahnya. Minumnya Liang Teh dari Medan yang segar. Gado-Gado Direksi tidak seheboh gado-gado Betawi seperti Boplo misalnya. Sambel kacangnya ringan (Gado-Gado Boplo menggunakan kacang mede) dan isinya pun tidak kompleks. Utamanya adalah tauge, selada, kentang (karena kami memesan satu piring tanpa nasi ataupun lontong). Sop ikan-nya nendang. Bukan ikannya yang nendang, tapi sopnya. Kuahnya bening dengan aroma bawang putih tipis tapi tidak amis. Kata Ogie, mungkin airnya berbeda antara yang digunakan untuk mematangkan ikan dan membuat kuah. Selain potongan daging ikan kakap putih, ada sedikit udang. Selada segar yang layu terendam kuah panas dan sedikit sawi asin menegaskan perpaduan rasa yang nikmat. Liang Teh dengan es yang segar menyajikan samar-samar aroma rempah. Hmmm….

Selesai lunch, kami pun kembali ke Pasar Pagi Asemka. Apa lagi, kalau bukan untuk berburu mainan untuk buah hati Edwin dan Ogie. Sebagian besar toko tutup, tapi lapak-lapak masih buka. Ada toko yang memasang tanda “Hanya Grosir. Tidak Terima Eceran”. Mainan berbagai jenis dari plastik dan alat tulis banyak tersedia di sini. Ada juga grosir asesoris perempuan. Ogie membeli sirkam (itu lho.. semacam jepit rambut.. ahhh.. yang cewek pasti tau ya…) seharga Rp. 7.000 berisi setengah lusin! 

Sambil menyusuri toko dan lapak-lapak melihat-lihat mainan, ada satu hal yang saya catat dari Edwin dan Ogie, “Pokoknya nggak boleh dikasih mainan senjata,” demikian tegas mereka. You’re right, Guys. Betapa keluarga adalah tiang masyarakat. Nggak mau kalah, saya pun membeli sebuah puzzle kubus warna-warni yang bisa diputar-putar karena terilhami oleh film “Pursuit of Happyness”.

Puas jalan-jalan, kaki mulai pegal dan perut sudah berat, kami pun kembali ke mobil. Eh.. ada tukas es tebu. Masya Allah, seplastik air tebu dingin memutar kembali adegan-adegan di pinggir SD Sudirman, Cijantung, di benak saya. Betapa unik cara kerja otak dan hati kita menyimpan dan menampilkan kenangan.

Tak lama kami pun meninggalkan kawasan Pecinan Jakarta itu dengan senyuman. Ya. Good food, good friends: what else? Terima kasih Gusti Allah.  

Komentar»

1. Sarah - Juli 30, 2007

pengen nanya dong ..
kl naik busway dan ingin ke Petak Sembilan, direction arahnya gmn yah? aku dari arah Sarinah.

2. rika - Agustus 14, 2007

wah..seru juga tuh wisata kulinernya🙂
btw, pak dadi, kawasan pecinan nya kalo malem tetep buka kan pak? ada gak yah, warung mie yang bisa liat cara bikinnya langsung di warung itu? yang dilempar2 gitu lho..yg kayak di film2..
mhn share infonya. kalo memungkinkan, saya tunggu reply nya di email saya ya. (karena sedang survey juga uy..hehe)
terima kasiiih🙂

3. yana thea - Mei 2, 2008

mo nanya nih pak. dari pada nanti saya sesat, kalau dari pasar senen mo ke glodok pake apa ya? maklumlah saya kan orang kalimantan. kalo ke jakarta saya paling mentok di pasar senen sama jati negara doang. makasih banyak pak ye atas infonya.

kim - Maret 12, 2013

Naek angkot dari Senen arah ke Kota (lupa nomor trayeknya). Tinggal tanya aja orang2 di terminal Senen. trayek2 bisa di googling

4. wawan - Agustus 5, 2008

gado-gado direksi temen gue tuh gw sering makan disitu enak buat lunch

5. JOVITA - April 2, 2009

mau tanya kl naik busway dr sudirman turun dmn ya???
tolong panduan arahnya biar ga nyasar thanks….

6. kim - Maret 12, 2013

Rute busway kan bisa lihat di situs transjakarta, weleh2…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: