jump to navigation

Semalam Tiga Cinta : A Love Affair @ Seminyak Januari 26, 2007

Posted by Dadi Krismatono in Kuliner.
trackback

Sudah cukup lama saya kepingin “exploring Seminyak” jika sedang ada kesempatan ke Bali. Sayang sekali eksplorasi itu belum sepenuhnya dapat saya laksanakan pada kunjungan terakhir saya ke Bali pertengahan Desember lalu. Setelah mengikuti sebuah konferensi, saya menyimpan malam terakhir untuk agenda “exploring—at least part of—Seminyak” dan… oh… terpagut tiga cinta dalam semalam.

 

Langit masih merah ketika saya dan sahabat saya Okta Pinanjaya sampai di pantai Seminyak yang terbuka. Pada dasarnya semua pantai di Bali dapat diakses oleh publik. Ini hasil dari keterlibatan komunitas lokal dalam pengelolaan lingkungan sekian lama yang mampu menghasilkan wajah pariwisata yang ramah. Pura Petitenget yang majestic melengkapi kanvas langit senja itu.

 

Setelah puas makan angin (and somewhat I had a feeling that we—literally—eat that wind!!), kami beringsut ke La Lucciola yang sejak tadi mencuri perhatian di ekor mata dengan pendar lampu dan halus rumputnya. Karena sejak semula saya mencanangkan agenda makan malam di Kafe Warisan, maka kami pun sekedar ‘ngocktail di restaurant Italia gagrak Mediterranean itu. La Lucciola adalah contoh keberhasilan pemaduan arsitektur modern minimalis dengan nuansa alami Bali. Suasana lapang, bersih, dan fungsional langsung terasa, berpadu mesra dengan lambaian daun di pohon kemboja dan kesahajaan atap rumbia. Karena kami cuma mau minum, pramusaji menggiring kami ke bar yang ada di sayap bangunan utama. Bar kecil itu mengingatkan saya pada pavilion atau teras belakang rumah-rumah tua di Menteng, Kotabaru (Jogja) atau Malang. Dekorasi tempat bartendernya sederhana saja. Di pojok ada sofa berbungkus kain katun yang nampak begitu empuk dan nyaman. Beberapa set meja dan kursi yang rumahan banget ditata menghadap ke pantai. Ada ruang terbuka beratapkan daun kemboja. Temaram cahaya lilin dan angin pantai. Hhh… terasa dibelai manja oleh suasana… Senja memang hadir untuk mengajarkan kita untuk melepaskan, merelakan, semua kefanaan dunia…

 

Setelah hening sejenak, saya mulai menjelajah menu. Saya teringat bahwa minuman jenis aperitif cocok menjadi penghantar makan. Pak Bondan Winarno pernah menyebut Campari yang pahit berfungsi sebagai perangsang selera bersantap. Kok, kayak jamu godong kates (daun pepaya) yang dicekoki ke anak kecil yang susah makan ya..?? he he he…

 

Campari soda datang dengan tampilan yang lugas. Sepertiga gelas agak panjang itu berisi campari berwarna merah, irisan lemon dan es batu. Sekaleng soda water menemani. Rasa pahit, segarnya jeruk dan buih soda water menghadirkan suasana intens di mulut. Mungkin karena palate kita jadi antisipatif setelah terguyur rasa pahit itulah yang menimbulkan efek nafsu makan.. Sesap demi sesap Campari menemani langit merajut malam. Pelan tapi pasti saputan jingga senja beringsut tergeser oleh beledu hitamnya. Saya dan Okta kira-kira sudah setengah tahun tidak berjumpa tapi nafsu mengobrol seru pupus oleh keinginan menikmati suasana. Ketika langit gelap sempurna dan manik-manik bintang  menghiasi  kami pun meninggalkan La Luciolla dengan satu kesimpulan: I shall return!

 

Perjalanan sejenak ke Kafe Warisan mencerabut saya dari alam imaji. Sawah-sawah yang sedang dikeringkan untuk didirikan bangunan, suara motor, toko-toko furniture yang sudah tutup, lampu-lampu reklame.. Ah, ternyata kita masih di bumi. Tak lama, tampak papan reklame Kafe Warisan.

 

Ketipu website! Itu yang pertama muncul di otak saya ketika saya sampai di Kafe Warisan. Dari foto-foto yang terpampang di website, saya membayangkan kafe yang melankolis di pinggir sawah yang luas dengan keleluasaan pandang. Terus terang saya membayangkan kafe ini lebih besar dari asilnya yang saya temui. Bagian depannya ada Gallery Warisan yang menjual beberapa karya kriya dan perhiasan. Kafenya sendiri terletak di teras belakang gallery tersebut. Tapi begitu duduk, baru saya merasakan betapa hangat dan nyaman suasana yang tercipta dari kesederhanaan dan kelugasan penataan ruang. Sawahnya masih ada tapi tidak luas, kering dan diisi oleh beberapa bangunan. Salah satu promo yang saya baca di sebuah majalah gratis Bali di hotel adalah kafe ini menjual champagne per gelas. Wah.. kapan lagi nih… Langsung saya memesan Moet et Chandon (Brut Imperial) untuk menemani saya menjelajah menu. Rasanya kok terlalu dry dan kurang wangi ya? Entah apakah ini term yang cocok untuk menganalisis champagne. Tapi kesegaran yang timbul dari rasa asam yang sedang dan buihnya lumayan untuk menandingi hawa panas dan lembab yang membungkus Bali beberapa hari itu.

 

moetchandonbrutimp.jpg   carabantes1.jpg   pinobalihatten1.jpg

 

Mengikuti rekomendasi pramusaji, saya memesan Hot Foie Gras with Raspberry Vinegar Sauce sebagai pembuka. Dengan tampilan yang cantik, tumpukan foie gras diseling irisan apel yang sudah lemas karena dikaramel dengan beberapa buah raspberry di atasnya, juga di piring. Sausnya segar dan ringan, sangat padu dengan foie gras yang cenderung asin dan menyisakan moist di bibir. Walau tidak istimewa, champagne tadi juga lumayan kompak dengan umpan tekak ini. Saya senang sekali dengan sensasi kelembutan setiap mengunyah foie gras. Apalagi dengan citarasa yang sangat seimbang seperti yang disajikan oleh Chef Nicholas “Doudou” Tourneville ini. Walhasil, lagi-lagi saya dan Okta … speechless…

 

Sambil menghabiskan sisa champagne, saya mengudap roti dengan minyak zaitun yang disajikan. Tak perlu ditanyakan lagi kelezatan roti rumahan dengan kulit yang renyah dengan bagian dalam yang empuk. Okta sibuk dengan Erdinger-nya. Dia adalah teman saya yang sangat konsisten dengan beer. Jarang sekali saya melihat dia menikmati minuman selain beer. Karena teman saya itu tidak minum wine dan bagi saya satu botol wine untuk sendiri terlalu banyak, saya memilih Vina Von Siebenthal Carabantes Syrah 2002 yang ditawarkan dalam gelas untuk menemani Seven Hour Lamb Mechoui with Oriental Couscous.

 

Couscous merupakan masakan khas Maroko dan kehadirannya dalam khazanah kuliner Perancis merupakan jejak-jejak kolonialisme Perancis di Maroko dan akulturasi budaya yang mengiringinya. Ketika dua bangsa bertempur berebut kuasa, makanan dari kedua bangsa itu malah bersahabat erat. Dulunya couscous merupakan bagian keras dari gandum yang “survive” dari penggilingan tepung kuno. Menurut Wikipedia, jenis gandum yang biasa dibuat couscous adalah triticum durum. Couscous juga bisa dibuat dari barley, sorgum, beras, bahkan jagung. Saya tidak sempat bertanya, bebijian apa yang digunakan untuk membuat couscous di Kafe Warisan. Melihat penampilannya sih seperti beras yang pera’. Tapi begitu sampai di mulut, tidak ada rasa pera’ atau keras (‘nglenthis dalam bahasa Jawa). Bahkan sekilas citarasanya mengingatkan saya pada bihun putih goreng yang ada di Pasar Imogiri, Jogja, yang juga kerap hadir dalam nasi berkat yang dikirimkan kepada para tetangga menjelang Hari Raya Idul Fitri. Rasa polos ini menjadi “backdrop” bagi penapilan seven hour lamb mechoui yang rich namun tetap kalem. Kontras antara bagian “kulit” yang yang renyah dan berbumbu dengan bagian dalam yang empuk berjalin-kelindan serasi dengan couscous. Paprika, minyak zaitun, mungkin juga saffron, samar-samar saya rasakan mencuat dari keutuhan bumbu-bumbu. Sensasi lada hitam yang segar digerus pada saat dihidangkan memuncaki kelezatan.

 

Nama Carabantes pada wine ternyata diambil dari seorang Spanyol yang pertama kali menanam anggur di Chile. Produsen Vina Von Siebenthal mengambil nama tersebut untuk mengenangnya. Lebih jauh lagi, berbeda dengan yang saya baca di buku menu, Carabantes adalah nama untuk racikan istimewa yang tidak hanya terdiri dari syrah, namun juga sedikit cabernet sauvignon (10%) dan petit verdot (5%). Sedikit-sedikit saya bisa membayangkan efek campur tangan cabernet sauvignon namun saya sama sekali asing dengan si kecil verdot. Aroma yang kuat, bahkan cenderung “perfumy”, “flowery” atau “rosy” dengan pembukaan rasa buah-buah keluarga berry (lidah saya belum cukup tajam mengidentifikasi berry yang mana, bahkan saya merasa ada hint jambu mente dan plum), pertengahan yang intens seperti teh kental dan bau daun teh kering serta akhiran yang agak ruwet dari perpaduan plum, jambu mete dan rempah-rempah. Buat saya, tannic pada aftertaste-nya kepanjangan. Untungnya cocok ditiban couscous, bahkan menguatkan rasa rempah lamb mechoui yang cenderung kalem itu. Jangan-jangan sisa Campari juga berperan membangun rasa intens di pada lidah, mulut dan penciuman yang membuat saya memejamkan mata…

 

Ada satu kebijakan Kafe Warisan yang saya catat sangat positif, yaitu menyediakan free flow mineral water dari merek yang ternama Evian seharga Rp 18.000 ++ sehingga membuat pengunjung tenang menikmati makanan yang bertahap banyak itu. Ice bucket berisi botol air mineral ukuran 1,5 liter di sudut-sudut juga menjadi pemandangan yang unik.

 

Berhubung sudah kenyang, kami give up the dessert. Okta menambah Erdinger-nya dan saya mencoba Pino Bali Hatten sebagai dessert. Dalam gelas kecil bertangkai, dessert wine ini seolah hadir sebagai kesimpulan dari perjalanan kuliner malam itu. Rasa hangat atau cozy (walah… kok tambah ngawur) dan wangi berpadu dengan kesegaran seperti manisan kulit jeruk, sedikit kayu dan mungkin kacang-kacangan hadir menenangkan indra pengecap yang kelelahan dihajar berbagai citarasa. 

 

Malam beranjak dewasa ketika kami meninggalkan Kafe Warisan dengan senyuman. Karena janji mau menyambangi teman-teman yang sedang kumpul dan ingin membeli CD untuk oleh-oleh kami pun mengarah ke Ku De Ta.

 

Siapa yang tidak jatuh cinta pada Ku De Ta? Beach-front extravaganza ini bagaikan konsep yang tuntas dieksekusi. Soal makanan tentu saja terbuka untuk didebatkan tapi keberhasilan membangun ambiens yang berdialog dengan lingkungan sekitar tanpa harus menjadi angkuh patutlah diapresiasi. Sore tadi ketika memulai perjalanan saya sempat bilang ke Okta, “Tolong ingatkan untuk mampir di Ku De Ta. Beli CD aja dan ‘say hi’ sama beberapa temen yang mau hang out di situ. Abis itu langsung cabut!” Tapi begitu sampai di sana, demi melihat larik buih di pucuk ombak yang menghitam oleh malam dan beberapa bale-bale yang kosong, kami pun takluk.. Bahkan ketika rombongan teman yang saya datangi itu kembali ke hotel, saya malah bersikeras untuk tetap di Ku De Ta.

 

Malam itu alam sangat ramah. (Sekitar setahun yang lalu saya terbirit-birit karena angin dan hujan lebat yang tiba-tiba.) Tegeletak pasrah di bale-bale sambil memandang langit dan taburan bintang membuat saya merasa kecil. Saya pernah membaca bahwa ada bintang yang ketika kerlipnya sampai ke mata kita, ia sendiri sudah tiada dimakan usia. Begitulah. Kita memang selalu berada di ambang ada dan tiada.

 

Karena perut yang penuh dan indra pengecap yang lelah saya mencari minuman yang ringan dan segar. Mata saya terantuk pada lemon sorbet namun sayang ternyata tidak tersedia. Kemudian saya membaca cerita yang menarik di buku menu tentang minuman Bellini. Dikisahkan bahwa minuman ini diciptakan pada tahun 1934 di Harry’s Bar, Venesia, oleh Giuseppi Cipriani, pengusaha hotel terkemuka waktu itu. Nama Bellini diambil dari nama pelukis Giovanni Bellini karena sang pelukis sangat piawai menghadirkan warna pink yang berkilau dalam lukisannya. Harry’s Bar yang terletak di lapangan Santo Markus, Venesia, adalah tempat nongkrong ex-pat ternama semasa Perang Dunia. Ernest Hemingway sampai F. Scott Fitzgerald pernah nongkrong di situ. Bahkan James Bond, dalam salah satu  episodenya, katanya, pernah berkunjung. Pasti dia memesan vodka martini yang dikocok, tidak diaduk.. Selain cerita tentang Bellini ada cerita tentang martini dan tembakau cerutu yang sangat menarik di buku menu. 

 

Dari berbagai pilihan Bellini yang ada saya memilih Ku De Ta Bellini dengan anggapan inilah signature Bellini di sini. Di buku menu dijelaskan “isi”-nya: Absolut citron, Cointreau, jeruk nipis, jus cranberry dengan champagne. Disajikan dalam gelas tulip, rasanya memang segar namun lidah saya sudah rada-rada kebas.

 

Waktu berlalu senyampang kami bergolek-golek malas. Saya sempat mendengar Okta menggerutu karena beer yang sekarang diminumnya terasa seperti air putih setelah tadi minum Erdinger. Saya tidak berkomentar. Musik gaya lounge dengan tata suara surround membuat saya seperti sedang naik pesawat yang menjelajahi ruang angkasa.

 

Ah, Seminyak… Never ending love affair…

Komentar»

1. Gatot Purwoko - Januari 26, 2007

Mas Dadi,

Beautiful tale, told beautifully. Sangat tuntas
bertutur dengan taburan detail dari daya ingat yang
mengagumkan. I shall wait for your next posting.

Regards, GP
Cirendeu

2. Sindhiarta - Januari 26, 2007

hallo Dadi,

kereeen !, tulisannya padat berisi, seperti bersajak – gaya penulisan
rada mirip Capt GP, pemilihan istilah yang nyeni – bagus.

Bravo Dadi,
teruskan menulis,

salam
sm

3. Bondan Winarno - Januari 28, 2007

Mas Dadi,

Review ini punya orgasmic quality. I’m proud of you.
Congratulations.

Salam,
Bondan

4. Barens Hidayat - Januari 30, 2007

Mas Dadi,

Bravo! Baca Love Affairnya di Seminyak mengingatkan saya pada romantisme semu manusia. Alam juga makanan lebih ‘real’ romantis. Tapi tulisan mas Dadi, nyesek banget, romantis abis! He he he…

Saya nggak boleh berkomentar banyak,…lebih enak begitu. Karena terlalu sayang bayangan ini diganggu omongan.

Terimakasih, mas

BARENS HIDAYAT

see my activities on http://beha38b.multiply.com

5. Krisna - Januari 31, 2007

Kok bisa ya buat ulasan sebegitu detailnya dan sangat menarik, membuat kita pengen banget mencoba. Kapan ya bisa mampir ke seminyak ? atau mungkin next time mas toni sempat ke nz tuk buat ulasan mengenai makanan disini….penasaran deh. *_^

6. Sadhono Hadi - Februari 4, 2007

Wah, pak membacanya belum puas kalau belum sampai baris terakhir.
Rupanya bapak, piawai sekali menuangkan expertise bapak dalam
tulisan yang puitis, prosais. Saya sarankan tulisan-tulisan ini
disimpan, suatu saat di terbitkan dalam buku. Terpikir
judulnya,’Perjalanan memanjakan lidah’
Terima kasih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: