jump to navigation

Kambing Bakar Madu “Depot Tanjung” Desember 18, 2006

Posted by Dadi Krismatono in Kuliner.
trackback

Nah, kalo kita kemaren sempet mbahas soal lidah lokal dan lidah ‘luar’ dalam merasakan sesuatu, sekarang saya pengen cerita tentang akulturasi dalam makanan yang menjembatani perbedaan itu. Pas banget di hari-hari kita berdebat soal daging steak, saya berkesempatan mengunjungi “Depot Tanjung” di Jl. Tebet Utara I, Jakarta Selatan. Itu lho, jejeran Soto Gebrak Cak Anton yang kalo terus bablas nyampe Jl. Casablanca. Depot Tanjung ini menyebut dirinya khas Arab Surabaya. Artinya, berbeda dengan hidangan Arab di Hadramaut, atau beberapa restoran Timur Tengah lainnya, dimana makanannya sampai bumbu-bumbunya langsung diimpor dari budaya Arab, di sini makanan yang disajikan lahir dari tradisi komunitas keturunan Arab di Indonesia, khususnya di Surabaya.

Kehadiran orang Arab memang hampir setua sejarah nusantara. Mereka membawa agama Islam yang kini banyak dipeluk orang Indonesia. Sumbangan mereka dalam memperkaya bahasa juga tidak sedikit. Almarhum Nurcholish Madjid alias Cak Nur dulu sering berseloroh, “Kalau kita membuat kalimat ‘Dewan Perwakilan Rakyat bermusyawarah untuk mufakat’ sebenarnya kita sedang berbicara dalam bahasa Arab.”

Sayang sekali sangat sedikit pustaka yang membahas sejarah atau kebudayaan komunitas Arab di Indonesia. Mungkin ini juga keterbatasan saya aja. Saya cuma pernah membaca satu karya tulis tentang hal ini, yang membahas aspirasi dan tindakan politik komunitas Arab di masa sekitar kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Karya tulis ini merupakan disertasi doktor Husein Haikal di Universitas Kebangsaan Malaysia. Pak Husein, yang juga ayah dari sahabat saya, sekarang jadi guru besar bidang sejarah di Universitas Negeri Yogya (dulu IKIP Yogya).

Lebih seru lagi jika kita membahas kontribusi orang Arab dalam memperkaya khazanah kuliner Indonesia. Ada kisah klasik kue ‘Ali Bagente’ di Betawi yang jadi legenda. Saya denger kisah ini dari Pak Bondan Winarno. Dikisahkan jaman dahulu ada seorang Arab bernama Ali yang menetap dan menikah dengan seorang perempuan Betawi. Pada suatu hari Ali pulang dalam keadaan lapar, dan istrinya yang belum siap dengan hidangan serabutan memasak tepung beras, sagu, gula merah dan beberapa bahan lainnya secara improvisasi. Ternyata makanan dadakan ini lezat sekali sampai-sampai sang suami berkata “Ali bah ente” yang artinya “Ali cinta kamu”. Dari sinilah konon nama kue Ali Bagente berasal. Saya sendiri belum pernah merasakannya dan denger-denger makanan itu sekarang sudah hampir punah. (Kapan-kapan seru juga membahas makanan dadakan yang kemudian jadi terkenal seperti pizza Margarita di Italia, midal di Manado, bakuteh dalam masakan Cina atau soto tangkar di Tangerang).

Kembali ke Depot Tanjung. Salah satu bentuk akulturasi budaya di kedai ini terlihat dari dominannya bumbu-bumbu Indonesia seperti bawang merah, bawang putih, kunyit, jinten, serai, daun bawang dan yang lainnya sementara jejak budaya Arab samar-samar muncul dari penggunaan kapulaga atau madu buat kambing bakarnya. Hari itu saya cuma sempat (dan cuma berani) mencicip dua hidangan: sop kikil (yang lebih sering disebut ‘kikil kambing’ saja) dan kambing bakar.

Sop kikil hadir dengan tampilan yang sangat sederhana, semangkok potongan kikil berenang di kuah kuning dengan serpihan bumbu menghiasi di sana-sini. Kuahnya cenderung encer tapi nendang karena bumbu dan lemak. Menurut Pak Husein (yang ini Pak Husein pemilik Depot Tanjung), kikil tersebut disiapkan sehari sebelum dihidangkan. Tak heran kikil itu begitu empuk, langsung copot dari tulang dan lembut dikulum di mulut, serta kuahnya begitu intens. Tidak terasa minyak samin karena ini memang hidangan Arab dari Surabaya. Iseng-iseng saya cemplungkan sesendok sambel kecap dan.. wow… rasa pedas dan manis dari sambel kecap makin menguatkan rasa gurih kikil. Tidak ada aftertaste yang mengganggu dan rasa berlemak berlebihan di bibir. Yah, anggap saja sop ini appetizer.

Beralih ke “main course”. Kambing bakar Depot Tanjung ini sungguh layak menjadi hidangan unggulan. Setelah direbus dengan bumbu, potongan daging kambing sekitar 250 gr dibakar dengan olesan madu tipis. Empuk, tidak berlemak tapi tidak hancur. Karamel yang tercipta dari seulas madu yang gosong di bonggol daging dekat pangkal tulang paha… mmhhh… Kambing bakar ini dihidangkan dengan cocolan madu dan pilihan sambel kacang atau sambel kecap. Sambel kecapnya standar, dengan irisan bawang dan ulekan cabe rawit merah tapi sambel kacangnya cukup unik. Masih dengan medium kecap, gerusan kasar sambel kacang yang tidak terlalu gurih (saya menduga mungkin kacangnya disangrai) berpadu irisan bawang merah dan sambel cabe rawit merah. Just imagine: seiris kambing bakar yang empuk dengan pinggiran karamel madu, dicocol madu, lalu dicocol sambel kacang yang pedas dan rich, dipungkasi sesendok nasi panas dengan kepyuran bawang goreng menemani…

Berhubung ini makan siang di hari kerja dan harus segera kembali ke kantor, saya menabung kepala kambing dan kambing goreng untuk saya cicipi lain waktu.

Menutup makan siang di hari yang mendung itu Bu Ilik dan Pak Husein menyajikan secangkir kopi jahe. Kopinya mantap seperti kopi Sidikalang disajikan a la kopi tubruk, dengan serpihan rempah-rempah. Seperti namanya, saya segera merasakan hangat jahe menyergap. Selain itu ada banyak aroma dan citarasa yang bergantian muncul dengan hasil akhir membersihkan mulut dari rasa berlemak. Suegerr, ‘Rek…

Wah, asal jangan nanti di kantor jadi ngantuk ya…

Syukran, Depot Tanjung!

Komentar»

1. Aquino - Februari 23, 2007

Baca blogmu bikin perut lapar. Kita dulu pernah mau ke Solo untuk eksplor makanan belum kesampaian ya?
BTW, blogmu sudah aku link tu di blog ku.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: