jump to navigation

Belajar Shiraz di Rive Gauche November 28, 2006

Posted by Dadi Krismatono in Kuliner.
trackback

Pada tanggal 23 November 2006 yang lalu saya menghadiri acara “Thanksgiving Diner” yang diselenggarakan oleh KlubWine bekerja sama dengan Vin+ di restoran Perancis Rive Gauche, Jl. Veteran I, Jakarta.

 

‘Perancis yang Bali’, demikian kesimpulan saya setelah memasuki restoran ini. Ambiens ruangan didominasi warna abu-abu gelap yang anehnya malah menciptakan suasana yang hangat. Mungkin karena tata cahaya dan penyusunan meja, bar, serta wine cellar. Lukisan Bali yang didominasi gaya dadaistik meningkahi dinding disana-sini. (Pak Bondan Winarno pernah menulis bahwa pemilik Rive Gauche adalah pemilik restoran Perancis yang sudah bertahun-tahun eksis di Sanur, Bali).

 

Pramusaji menghampiri dan menawarkan wine. Sebagai pembuka saya memilih Cornerstone Classic French White ’05. Warnanya kuning pucat, dry, dengan aroma buah-buahan yang asam (walau wine-nya sendiri tidak acidic, cuma aromanya masam buah). Boleh tahan sebagai pembuka. Body-nya yang sedang-sedang saja yang membuatnya pas untuk menemani malam yang masih muda…

 

Sayang sekali flow penyajian makan di Rive Gauche agak lambat. Order taking baru dilakukan setelah lewat jam 19.30 dan umpan tekak baru tersaji beberapa saat kemudian. Untuk appetizer saya memilih ‘Carpaccio de Poissons with green salad’. Hadir potongan daging kakap merah mentah dengan dressing dari bawang putih, sedikit cuka (entah cuka apa), krim dan rasanya samar-sama saya merasakan kehadiran biji mustard. Sangat cocok berkombinasi dengan green salad dan irisan bawang bombay. Karena flow yang lambat itu saya sempat meminta pramusaji menuang Pettavel Boolaroo Shiraz ’03. Wine ini secara unik memadukan antara kelembutan saat diteguk dengan rasa segar dari rempah dan buah yang juga asam tapi lebih kalem dari asam buah dalam Classic French White di awal tadi. Di flyer yang dibuat Vin+ saya menemukan istilah yang sangat cocok dengan sensasi kelembutan saat diteguk yang saya rasakan: velvety.

 

Rupanya shiraz ini kurang bersahabat dengan daging kakap merah mentah karena aroma asam segar dari dressing carpaccio langsung ditiban oleh intensitas dan kedalaman citarasa shiraz. Sensasi kelembutan daging kakap pun hilang. Saya mencoba me-repair the damage dengan meminta pramusaji menuang Pettavel Boolaroo Chardonnay ‘05 tapi yang jadi korban malah chardonnay-nya. Dengan perpaduan aroma seperti jeruk (sitrun?) dan oak, harusnya bisa menjadi background untuk kesegaran carpaccio. Namun lagi-lagi kekuatan aroma spicy shiraz telah membuatnya lempang dan cemplang. Saya langsung teringat kuliah Wine Experience dari Yohan Handoyo: dry before sweet, white before red, light bodied before full bodied. Moral of the story: jangan membantah guru!    

 

Setelah cukup lama datanglah hidangan utama: Tournedos ‘Henry IV’ dengan kematangan medium well. Dari internet belakangan saya tahu bahwa tournedos diambil dari tenderloin dengan ketebalan dan diameter tertentu. Karena hampir tidak ada lemaknya, biasanya tournedos dibungkus lembaran daging (seperti ham) pada saat di-grilled. Itu juga yang hadir malam itu. Tingkat kematangan cukup akurat walau tidak seempuk yang saya harapkan. Saus mustardnya cukup nendang untuk mengimbangi citarasa daging sapi tapi tidak meneggelamkannya. Tournedos ini ditemani sedikit salad dan baked potato dibungkus alumunium foil dengan sejumput krim di pucuknya. Terus terang saya tidak bisa menyembunyikan pikiran bahwa seandainya hidangan ini tidak dimasak secara berbarengan dalam jumlah yang cukup banyak untuk acara ini pasti jadinya lebih lezat. Ada personal touch yang hilang.

 

Untuk menemani saya minta dituangkan Pettavel Cabernet Sauvignon Merlot ’02. Wine ini cukup anteng, malah sedikit terasa aroma rumput selain buah matang (tidak asam, tapi juga saya belum bisa menduga buah apa) dan kayu.

 

Rupanya malam itu saya jatuh cinta pada shiraz. Saya banding-bandingkan lagi wine terakhir dengan shiraz yang tadi.. Try another sip, mmm… belum ada yang bisa menggantikan sensasi velvety-nya…

Cornerstone Classic French Red ’05 tampil sebagai wine yang paling ‘biasa’malam itu. Buat saya, tidak ada karakter yang kuat yang ditampilkan. Rasanya sejalan dengan yang disampaikan oleh perwakilan Cornerstone (maaf saya tidak mencatat namanya) bahwa mereka akan fokus pada easy-to-drink. Mungkin Classic Red ini menyenangkan untuk menjadi teman makan pizza di rumah.

 

Hidangan penutup malam itu adalah ‘Crepe Suzette with fresh Mango Sorbet’. Perpaduan panas dan dingin memang jadi andalan hidangan macam ini. Apalagi sedikit sausnya menjembatani rasa tawar crepes dengan segarnya sorbet mangga.

 

Sajian tari Beganjur dari Bali yang dimainkan dengan alat masak oleh para koki membuat malam berbelok eksotik. Bahkan ada seorang teman yang ‘turun ke lantai dansa’ bersama penari bertopeng diiringi tetabuhan wajan, panci dan kecek-kecek tutup rantang.

 

Malam berlangsung dengan hangat. Teman baru bertambah banyak, teman lama bertambah akrab. Selangkah keluar dari Rive Gauche, baru terlintas di benak saya: Thanksgiving Dinner kok nggak ada kalkun? Mungkin ini Thanksgiving Perancis ya…

 

Happy Thanksgiving!

Komentar»

1. Gatot Purwoko - November 28, 2006

Mas Dadi,

Terima kasih untuk ulasan yang menarik dan membuat
kita serasa ikutan. Sayang sekali saya luput untuk
bisa gabung.

Dari pengalaman saya, daging kakap mentah tersebut
akan bisa cocok dengan white wine yang memiliki
karakter fruity dengan acidity yang seimbang. Bila
harus kita padukan dengan red, mau tidak mau harus
dengan yang memiliki unsur tanic paling rendah. Unsur
rasa spicy dari Shiraz juga kadang tidak harmonis
bergandeng dengannya. Mungkin bisa dicoba Pinot Noir,
apalagi yang punya karakter “biscuity”.

salam, GP
Jakarta


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: