jump to navigation

ANTIGONE dan semuanya diselesaikan melalui verbal… Oktober 9, 2006

Posted by Dadi Krismatono in Uncategorized.
trackback

antigone2.jpg

Teater Populer mentas lagi! Langsung menancap di otak ketika membaca koran yang mewartakan Festival Schouwburg dalam rangka memperingati diaktifkannya kembali Gedung Schouwburg sebagai Gedung Kesenian Jakarta ke-19. Ada kerinduan, tapi juga cemas karena bagaimanapun seni pertunjukan adalah sesuatu yang relatif.

Sedikit catatan tentang salah satu gedung dengan historical merit di Jakarta ini. Gedung Schouwburg berusia sekitar 200 tahun. Semula hanya mempergelarkan kesenian rombongan-rombongan amatir. Baru pada tahun 1883 didatangkan rombongan sandiwara dari Perancis dan sejak itu menjadi pusat pertunjukan baik yang berasal dari Eropa maupun Nusantara. Gedung ini sempat beralih fungsi menjadi markas serdadu dan pernah juga menjadi tempat sidang pertama Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Sempat terlantar, gedung ini dikontrak oleh salah satu perusahaan film dan dijadikan bioskop yang memutar film-film Kung Fu. Setelah gedung ini direnovasi dan dikembalikan fungsinya sebagai gedung teater, gedung ini diresmikan sebagai Gedung Kesenian Jakarta oleh Gubernur DKI Bapak R. Suprapto tanggal 5 September 1987. Nah, peresmian inilah yang setiap tahunnya diperingati lewat Festival Schouwburg.

Sebelum pementasan dimulai ada cerita lucu sedikit getir. Karena membaca di voucher sementara pengganti karcis bahwa pintu dibuka jam 18.30 dan pertunjukan dimulai jam 19.00. Kira-kira jam 18.31 kami sampai di depan GKJ dan menemukan bagian teras gedung sudah sepi dan pintu utama terkunci. Apa pertunjukan sudah mulai? Rasanya, kok, tidak mungkin. Penjaga stand pameran operator telepon seluler yang ada di situ cuma menggelengkan kepala. Kami sempat menggedor-gedor pintu kayu yang kokoh itu. Baru kemudian di bagian samping saya bertemu seorang petugas gedung yang mengatakan, “Biasanya belum mulai. Kalau pintunya tertutup, didorong aja yang kenceng.” Duh, manajemen gedung pertunjukan macam apa ini? Untunglah dari sana-sini kami mendapat informasi bahwa pertunjukan akan dimulai jam…. 20.00!! Mungkin GKJ yang merupakan etalase seni adiluhung itu merasa perlu mendidik masyarakatnya untuk tidak datang terlambat pada saat pertunjukan dengan cara “mengecoh” jam pertunjukan. GKJ lupa bahwa ada sebagian kecil orang Indonesia yang masih berusaha datang tepat waktu…

Jam 20.00, layar diangkat. Opening yang agung dan mencekam. Formasi piramida simetris dengan setting bambu di sana-sini, khas drama klasik yang sering digelar di gelanggang remaja di Jakarta tahun 1980-an. Ada dua tubuh prajurit tertancap beberapa anak panah. Timpani berdentam-dentam meningkahi koor yang muram dan menekan. Derap ritmis tombak-tombak serdadu yang dihentakkan pelan ke lantai kayu menambah intens suasana yang memampangkan kekuasaan dan absurditas yang melingkupinya. Slamet Rahardjo Djarot, sutradara yang juga berperan sebagai penutur cerita, memulai kisah, tentang diangkatnya Creon sebagai Raja Thebes, menggantikan Oedipus. Kekejaman Creon yang membiarkan mayat Polynescis, kakak kandung Antigone, yang tewas di medan perang dan dianggap pengkhianat adalah alasan cerita ini. Creon membiarkan mayat Polynescis membusuk dan menjadi santapan burung gagak, Creon juga mengancam menghukum mati siapapun yang mencoba menyentuh, apalagi menguburkan mayat Polynescis.

Kemudian cerita berangkat dari kegundahan Antigone (Ria Probo) atas perlakukan Creon kepada Polynesces. Dialog panjang berlarat-larat, dengan pengulangan kata setelah beberapa kalimat (yang dipercaya sebagai trik menghapal dialog bagi aktor teater), tentang kekejaman Creon, mengalir tanpa membangun keterkaitan konteks dengan penonton. Tak lama kemudian muncul Ismene (Marcella Zalianty, iya, Marcella yang itu..), adik Antigone, dan bersama tokoh Inang, mendemonstrasikan segi tiga formasi drama klasik yang khas itu.

Adegan demi adegan mengalir. Dalam banyak kesempatan, Slamet Rahardjo masuk dan menuturkan kisah. Bahkan ia sampai repot-repot memberi penjelasan filosofis dibalik peristiwa yang terjadi. Saya berusaha keras memahami mengapa Slamet membiarkan adegan panjang tanpa “delivery” peristiwa yang signifikan kepada penonton. Pada adegan prajurit yang melapor ke Creon, misalnya, tidak juga bisa menghantar suatu penegasan ke penonton bahwa Creon memang raja yang bengis. Musik perkusi, mulai dari jaipongan sampai marawis di sana-sini, sering kali jadi embel-embel yang tidak perlu. Penggunaan metafora anjing yang dapat membawa pesan tentang takluknya manusia di hadapan kekuasaan juga terpeleset menjadi komedi slapstick yang dangkal.

Langkah Teater Populer untuk keluar dari lakon realis yang selama ini menjadi kekuatan mereka tentu patut diapresiasi sebagai terobosan kreatif. Namun, tidak bisa ditutupi betapa pementasan ini bersusah-payah mengunyah-ngunyah idiom dan karakter lakon klasik. Saya merasa dekonstruksi yang dilakukan belum selelsai. Yang saya maksud dengan dekonstruksi adalah bagaimana meng-nol-kan konstruksi yang ada dan kemudian melakukan konstruksi baru atas teks yang sudah berada dalam posisi nol itu. Masalah kekuasaan dan dilemma kemanusiaan dihadapannya tentu hidup di jaman kapan pun. Akhirnya, kegundahan dan perlawanan Antigone, Ismene yang peragu, Creon yang keji, semua itu hanya dapat diketahui oleh penonton melalui tuturan Slamet Raharjo. Tidak ada indikasi peristiwa yang cukup bagi penonton untuk menjahit rangkaian cerita dan mendapat kesan yang medalam. Transformasi dari naskah menjadi dialog lalu permainan dan kemudian peristiwa urung terjadi. Slamet bercerita. Itulah yang didapat oleh penonton. Untungnya disana-sini kita masih mendengar merdu prosa liris yang mungkin dibiarkan Anouilh tetap pada pola klasik. Paling tidak penonton, yang selama ini sayup-sayup tahu bahwa Oedipus adalah cerita tentang seorang anak yang mencintai dan kemudian mengawini ibunya, malam itu pulang dengan membawa oleh-oleh, “Ooo.. cerita Antigone itu begitu tho..”

Naskah: Jean Anouilh

Sutradara: Slamet Rahardjo Djarot

Pemain: Ria Probo, Marcella Zalianty, Hendro Susanto, Andi Bersama, dll

Advisor: Erros Djarot

Pementasan: 15-16 September 2006

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: