jump to navigation

Nasi Goreng Tom Yam dengan Chardonnay (Pairing Note) September 25, 2006

Posted by Dadi Krismatono in Kuliner.
trackback

 

Sudah lama saya ingin menuliskan pengalaman saya mencicipi wine. Sebelum mengikuti Wine Experience di Jalansutra, saya minum wine secara random dan memposisikan wine sama saja dengan minuman lainnya. Habis makan atau sekedar menemani ngobrol, mau wine, spirit, atau teh tubruk? Yah, yang ada ajalah hayuk…

Buat saya cara paling aman untuk memilih wine atau minuman lainnya adalah dengan membaca deskripsi yang ada pada lembaran menu atau label di botol. Setelah itu membayang-bayangkannya, dan well.. let’s try it out. Kadang sukses, kadang tidak. Di Ku De Ta, Bali, saya pernah mencicipi “vanilla infused martini”—kira-kira seperti itu namanya—karena terprovokasi deskripsi di lembar menu. Waktu minuman itu datang ternyata rasa, penampilan dan aroma sangat jauh imajinasi saya. IMHO aromanya apek dan rasanya nggak kemana-mana. Nggak sukses! (Ketika menulis review ini, saya intip website Ku De Ta dan minuman itu ternyata sudah lenyap dari menu, berganti dengan “cranberry & vanilla martini” dengan deskripsi “absolute vanilla, vanilla liqueur, muddled with fresh cranberries”). Tapi waktu makan malam, masih dengan metoda yang sama, saya memilih 2004 Tabali Limary Chardonnay (Chile) yang ternyata sukses berat. Aroma seperti mineral yang kuat dan jejak rasa madu samar-samar masuk banget sama risotto bertabur irisan lobster dan chestnut yang saya santap. (Saya lupa nama resmi menu tersebut dan sekarang sudah tidak ada di menu, diganti oleh “risotto of fresh water prawns, caramelized carrots, herb gremolata”).

Sampai sekarang pun imajinasi yang timbul dari membaca deskripsi di menu atau label masih jadi andalan utama dalam memilih wine. Untungnya kini dilengkapi dengan wejangan Suhu Yohan Handoyo bahwa kalau wine ini yang karakternya begini enaknya di-pair sama makanan itu. Namun, ada satu istilah dalam jajakrasa wine yang sampai sekarang saya masih susah memahaminya, yaitu kata elegan. Saya lebih bisa membayangkan “umpan silang gelandang elegan David Beckham” ketimbang misalnya “Of deep cherry color, this Pinot Noir is intense and elegant to the nose…” Elegan?

Minggu lalu, pulang kantor, saya membeli nasi goreng tom yam take-away dari Loco Moco untuk disantap bersama di rumah My Hunny. Sambil menunggu tiba-tiba muncul ide untuk mem-pair-nya dengan wine. Nasi goreng tom yam punya rasa dan aroma yang khas, terutama dari sereh, dan tentu asyik jika berkolaborasi dengan wine yang cocok. Untungnya di Gedung BEJ tempat saya bekerja ada Izzi Pizza yang menyediakan wine. Selesai dari Loco Moco saya ke Izzi Pizza dan tetap dengan metoda “read and imagine” saya memilih 2003 Wolf Blass Bilyara Chardonnay (Australia) karena di labelnya tertulis: “…this is a rich, soft wine with subtle oak characteristics. It is an easy drinking style that is well balanced with a refreshing finish.” Ah, boleh tahan.  

Sampai di rumah My Hunny segera digelarlah makan malam romantis. Nasi goreng tom yam sepiring berdua walau bukan di gubug derita dengan dua gelas bertangkai dan botol wine berselimut embun. Waktu pertama menyesap wine itu, saya merasakan satu sensasi yang agak susah diungkapkan, seperti merasa atau berada pada suatu lingkaran yang utuh. Aroma kayu oak memenuhi rongga udara di mulut dan rasa buah yang mendarat di lidah. Utuh. Lagi-lagi kata itu yang muncul di kepala ketika mencoba mendeskripsikan rasa yang saya alami. Saya mencoba kata “seimbang” (sebagai padan kata “balance” pada label) tapi saya tetap merasa kata “utuh” lebih mewakili. Seperti lingkaran yang bundar sempurna, 360 derajat.  

Lalu, sesuap nasi goreng dengan sekerat cumi-cumi. Saya merasa indra penciuman saya dimanja oleh perpaduan antara aroma wine dan nasi goreng tom yam. Terutama dari aroma sereh dan daun bawang layu ditumis yang terserak di sana-sini. Topping nasi goreng ini terdiri dari udang, potongan cumi-cumi dan ikan kakap yang cukup generous. Suap demi suap dan teguk demi teguk saya merasakan sensasi yang susul-menyusul: spicy-nya nasi goreng tenggelam oleh oaky-nya wine lalu muncul lagi pada suapan berikutnya dengan meniti sisa-sisa rasa fruity pada palate. Si nasi goreng menjelma biduk terayun oleh gulungan ombak sang wine. Pada sesapan setelah suapan terakhir yang memang sengaja saya pelankan untuk menambah intensitas, saya malah merasa seperti berada di sebuah ruangan spa yang hening yang udaranya penuh dan lindap oleh uap minyak aromaterapi. Wow.. seperti laut tenang setelah badai berlalu.

Saya senang sekali dengan pengalaman ini walau tetap  merasa pada ending-nya ada yang kurang begitu nyambung. Ada sesuatu yang belum bisa saya deskripsikan. Jangan-jangan Wolf Blass Chardonnay ini diam-diam sering menonton film-film Roman Polansky yang selalu twisted ending.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: