jump to navigation

American Dynasty: Memahami Genealogi Politik Bush Juli 28, 2006

Posted by Dadi Krismatono in Buku.
trackback

Judul : AMERICAN DYNASTY: Aristocracy, Fortune, and the Politics of Deceit in the House of Bush
Penulis : Kevin Phillps
Penerbit : Viking Books, New York, Januari 2004.
Halaman : 307 (termasuk indeks) + xiv
 

Sudah cukup lama aku gemar mengamati Presiden Amerika. Sengaja aku pilih kata “gemar” karena aku tidak punya kompetensi apa2 untuk menjadi “pengamat”. Tulisan pertamaku di majalah kampus membahas kemenangan Clinton di tahun 1992. Film “The American President” (belum pernah aku lihat Annete Bening secantik di film ini) sudah aku tonton sekitar 10 kali dan masih belum bosan sampai sekarang. Pernah mau mulai mengoleksi VCD serial “West Wing”–karena banyak bolongnya waktu nonton di TV, eh.. terjadi pergeseran besar dari VCD ke DVD, yg bikin susah mencarinya (ah, alasan…). Buku “My Life” dari Bill Clinton masih setengah jalan setelah sekian lama, padahal aku memesannya khusus “Special Pre-Launching Order” dari Amazon.com. Nyambung dgn buku itu, episode Oprah Winfrey yang menampilkan Bill Clinton is one of my fave!

Amerika Serikat memainkan peran penting sebagai titik fokal geopolitik dunia. Peran penting itu bisa saja diperoleh melalui cara-cara keras: perang atau politik perdagangan internasional, atau juga dengan cara-cara halus seperti inisiatif pengakhiran Perang Dingin oleh almarhum Reagan. Satu episentrum dari berderaknya lansekap geopolitik dunia itu adalah, tentunya, Presiden AS.

Sekarang Amerika Serikat tengah dipimpin oleh George Walker Bush, presiden ke-43, anak dari George Herbert Walker Bush, presiden ke-41. Nama George Herbert Walker tersebut diambil nama founding father klan Bush, yang bukanlah seorang Bush. Amerika yang republik dan demokratis itu memang negerinya dinasti. Tak kurang sebuah serial TV yang panjang berlarat-larat tentang kekuasaan, kemewahan, cinta dan pengkhianatan, dengan judul yang sama menjadi favorit pada pertengahan 1980-an. Nama-nama Rockefeller, Kennedy, atau Adams telah lama identik dengan dinasti kekuasaan di negeri demokrasi itu. George Herbert Walker, misalnya, posisinya kurang lebih sama dengan Joseph P. Kennedy, pendiri klan politik Kennedy.

Mengapa dinasti Bush mendapat perhatian khusus Kevin Phillips, seorang ahli strtaegi politik yang notabene adalah seorang Republiken?

Catatan pertama Phillps tentang sifat dinastik keluarga Bush adalah kecenderungannya untuk melanjutkan kebijakan yang bias kelompok kepentingan pendukungnya. Dalam kasus Bush, kebijakan yang bias itu adalah favoritisme terhadap sektor energi—khususnya minyak, industri militer, Pentagon dan CIA, sebagaimana juga keringanan pajak untuk kelas atas.

Untuk membuktikan hipotesisnya bahwa keluarga Bush adalah sebuah dinasti kekuasaan, Phillips melacak genealogi keluarga Bush sejak dari G.H. Walker dan Samuel P. Bush di masa Perang Dunia I. Samuel adalah direktur Buckeye Steel, dimiliki oleh Standard Oil dan keluarga Rockefeller, yang pada masa PD I memproduksi laras bedil dan selongsong granat. Pada 1917, Sam berangkat ke Washington untuk memimpin bagian meriam, amunisi dan senapan kecil Dewan Industri Perang. Sementara, Walker menjalankan usaha pembiayaan di St. Louis yang juga ikut dalam pembiayaan perang dan produksi senjata. Pada tahun 1920-an ia terlibat dalam bisnis rekonstruksi ekonomi Jerman dan Rusia. Ia juga menjadi direktur American International Corporation yang didirikan dengan tujuan ganda: investasi internasional dan intelijen politik dan bisnis. Ketika pensiun pada tahun 1930-an, menantunya Prescott Bush, kakek George W., melanjutkan sebagian besar bisnisnya, termasuk hubungan komersial dengan Jerman. Bush juga dekat dengan komunitas intelijen. Ia memimpin dua perusahaan yang berperan dalam proyek-proyek bom atom.

Dalam pemikiran ekonomi, keluarga Bush adalah pendukung konservatisme “Texanomics”. Patut dicatat, Texas adalah negara bagian yang paling buruk dalam kesetaraan untuk anak. Kemiskinan dan kesenjangan itu terjadi karena pemerintah negara bagian Texas tidak pernah mau mengeluarkan uang untuk layanan publik guna mempersempit jurang kaya-miskin dan tidak mau menarik pajak dari kalangan atas untuk kepentingan sosial. Bush-onomics adalah investment driven, dan bahan bakar bakar bagi investasi adalah keringanan pajak dan suku bunga yang rendah. George W. adalah presiden yang sempurna merepresentasi konservatisme pajak rendah, layanan sosial rendah, dengan ekonomi terstratifikasi a la “Selatan” tersebut.

Bias kepentingan itu membawa implikasi munculnya kapitalisme kroni yang ditandai dengan banyaknya bailout (talangan pemerintah atas utang swasta) dalam administrasi Bush. Hal ini dihubungkan dengan karir bisnis George W. muda yang dihabiskan dalam upaya mencari pembiayaan baru atas bisnis minyak dan gasnya yang sering gagal. Banyak contoh aliansi berbahaya antara kelompok kepentingan bisnis di belakang Bush (raksasa seperti Enron dan Haliburton) dengan terbentuknya kebijakan nasional. Kebijakan nasional semakin berorientasi pada masalah energi hingga mempengaruhi kalkulasi keamanan. Jalin-kelindan antara masalah minyak dan industri militer juga makin meluas.

Sumber bias lain dalam kebijakan Bush adalah pandangan keagamaannya. Ditelusur ke belakang, kiprah politik nasional George W. pertama kali adalah menjadi penghubung ke kelompok Religious Right ketika ayahnya menjalankan kampanye presiden pada tahun 1986-1988. Sikap fundamentalis Bush berhubungan erat dengan pengalaman pribadinya di akhir 1970-an. Setelah melewati masa muda yang gemilang di Yale dan Harvard serta National Guard, frustrasi demi frustrasi menghantuinya akibat kegagalan bisnis, apalagi deraan kolapsnya harga minyak pada pertengahan 1980-an. Pada periode itu dia bertemu dengan Evangelis Billy Graham, ketika Graham mengunjungi orang tuanya di rumah tetirah. Tak lama setelah itu George W. mempelajari Injil dan berhenti minum. Status sebagai “anak emas” Graham sangat menguatkan posisinya di kalangan konservatif. Sejak Reagan, tema keagamaan memang cukup mewarnai kampanye presiden dari Partai Republik. Dua dekade yang lalu bahkan Reagan pernah membicarakan tentang “armageddon” dan di tahun 2000 George W. menangguk suara 70% kaum evangelis, hanya 5% di bawah Reagan. Sikap puritan ini mendapat respon orang Amerika yang mengalami “Clinton-fatigue” dalam masalah moral yang beriringan dengan pupusnya harapan pada gelembung ekonomi dotcom.

Paparan yang komprehensif dengan detail yang mengagumkan bermuara pada semacam kesimpulan bahwa dinasti Bush telah dengan telanjang mempertontonkan Machiavellisme abad XXI yang menohok jantung hati demokrasi Tentu saja buku ini perlu dibaca secara kritis, apalagi untuk membacanya sebagai “orang Indonesia”. Penulisnya adalah seorang ahli strategi politik, bukan politisi, yang sejak muda menapaki karir yang cemerlang. Bukunya The Emerging Republican Majority (1967) menjadi kitab suci yang mengantar kesuksesan Nixon. Pada tahun 1990 Time menjulukinya Nostradamus dari Wahington. Karena muak dengan pemerintahan Clinton pada tahun 1997 ia meninggalkan Washington dan kembali menulis sejarah di Connecticut. Paling tidak, dengan membaca buku ini, kita dapat memahami mengapa George W. menjadi presiden AS pertama sejak 1888 yang tidak memenangkan satu pun popular votes pada pemilu 2000 lalu; atau mengapa Bush memilih kata “crusade” (Perang Salib) untuk memerangi teroris pasca-serangan 11 September.

Komentar»

1. henny widia astuti - Desember 28, 2007

pengamatan kamu kurang lengkap. seperti puzzle, dan kamu belum menemukan banyak potongan bagian yang penting. dunia politik memang sangat kejam, tapi kita harus tau dan melihat dari dua sisi. dengan begitu, kita bisa melihat KEBENARAN itu dengan jelas. jangan naif loe…..

2. puitri hati - Januari 4, 2008

(ini agak keluar dari tulisanmu ya:)

ada tulisan tentang senator Obama ndak? dia blm masuk dinasty yg itu ya.? aku suka Obama , dia pernah ke Jakarta, dan punya saudara orang INdonesia.ketika dulu aku melihatnya di Metro kalo tdk salah, wajahnya mirip orang INdonesia ya, malah mirip wong jowo. karena ibunya bule bapaknya Afrika.

Annete Benning, aku juga nonton film itu, memang anggun, dia istrinya warren beaty itu ya, main di bugsy.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: