jump to navigation

Di Jogja, life goes on… Juli 19, 2006

Posted by Dadi Krismatono in Perjalanan.
trackback

img_9397.jpg

 

Jogja pada sebulan lebih setelah gempa bumi telah kembali ke kesahajaannya. “Nrimo ing pandhum”, “legowo”, dan “sumeleh” ternyata masih di hidup di kota yg kini sdg megap2 digempur mal, plaza, cafe, lounge, dan club. Kata2 “digempur” mungkin cuma milik mereka yg mengingat Jogja sbg sego kucing, gudeg suwir di pagi hari, toko buku bekas dan diskon (tapi dapet sampul plastik!)…

Sepanjang jalan dr Jogja ke Imogiri, puing2 teronggok dalam tumpukan2 di jalan. Janjinya akan segera diangkut oleh DPU tapi rasanya janji adalah hal termurah di negeri ini. Walau mungkin tidak kenal dengan istilah “life goes on”, itulah yg dilakukan sebagian besar warga yg saya saksikan. Alhamdulillah, kerabat kami tidak ada yg meninggal dunia atau cedera berat. Situasi bisa jadi sangat berbeda bagi keluarga yang kehilangan atau masih harus dirawat di rumah sakit. Mungkin tepatnya semua berusaha “manjing in kahanan”, apa yg bisa dilakukan utk merespon keadaan. Sebagian tenda2 besar dgn logo perusahaan atau yayasan sudah kosong. Spanduk2 masih terpampang, kadang malah mebuat bencana menjadi sesuatu yg banal. Coretan2 menyindir wisata gempa juga masih ada.

Keluarga kami memutuskan untuk membuat teteduhan dari sisa bangunan rumah bagian samping dan sisa2 material yg masih bisa digunakan. Daun pintu, kayu2, batu bata, ditambah gedek dan terpal. Untungnya kuda2, rangka bagian atap dan genteng masih bisa digunakan. Banyak warga yg juga melakukan hal serupa. Mereka tidak menunggu bantuan pemerintah, “jadup” alias “jatah hidup” (betapa menurut pemerintah, manusia cuma angka statistik!), apalagi janji dana Rp 30 jt setiap kepala keluarga utk merehabilitasi tempat tinggal. Saya merasakan adanya kebutuhan utk memiliki “ruang” atau teritori, dimana di ruang itu keberadaan seorang individu menanda dan bermakna. Sekaligus menjadi pengikat tentang darimana seseorang berasal. Rumah memang selama ini menjadi ruang dan pengikat utama (“primary order” yang kemudian bertransformasi menjadi kata sifat “primordial” yg sering digunakan secara gegabah) dan betapa kehilangan rumah akibat gempa bumi begitu mengganggu keseimbangan kosmik dan eksistensial manusia.

Di (bekas) rumah kami, dan juga di beberapa tempat, soko guru (tiang utama) pendopo masih berdiri, lengkap dengan ornamen dan genteng di bagian cungkupnya. Katanya sih karena menggunakan model pasak, soko joglo ini lebih lentur dibanding kayu yang dipaku sehingga tidak patah dan rubuh karena gempa. Lagi2 ini bisa menjd contoh kosmologi “manjing ing kahanan”…

Salah satu yg menandakan “life goes on” adlh pasar dan warung2 yg sudah buka. Pasar Imogiri memang luluh lantak. Sebaian besar sudah dibuldozer dan kini menyisakan (lagi2) puing dan debu. Tapi dgn tenda2 bersablonkan “Bantuan Departemen Perdagangan”, terutama penjual makanan dan kebutuhan pokok sudah aktif. Katanya lagi, terutama karena warga sudah bosan makan mie instant. Rumah salah satu kerabat kami di dekat pasar kecamatan itu sudah rata dgn tanah, tapi reklame “WARTEL” dari neonbox vertikal masih tegak berdiri.

Di sekitar perempatan Wonokromo hingga terus ke selatan, warung2 sate kambing sudah mulai buka. Konon kabarnya daerah ini sejak dulu terkenal sebagai kampung jagal. Tak heran kalau terus nyambung ke warung sate. Ada satu warung yang menuliskan “juga menerima pesanan sate sapi dan kuda” selain sate, tongseng, dan gule kambing yg disediakan. Salah satu warung khas daerah ini adalah “Sate Klathak”, yg kini sdh banyak imitasinya. Yg original berada Pasa Jejeran di dekat perempatan Wonokromo (ini Wonokromo di Jalan Imogiri, Bantul, bukan Surabaya, yg dipercaya menjadi tempat Panembahan Senopati bersemadi). Sebenarnya ini sate kambing biasa dengan bumbu kecap, namun menggunakan “klathak” alias jari2 sepeda sebagai tusukan. Menurut Bapak penjual sate (mohon maaf lupa namanya), “klathak” juga berfungsi sebagai penghantar panas sehingga bagian dalam sate bisa matang tanpa harus menunggu bagian luarnya terlalu kering atau gosong. Sausnya bumbu kecap biasa dengan condiment rajangan bawang merah, kubis, timun, tomat dan cabe rawit. Jangan khawatir bibir anda ketindik “klathak” karena setelah matang, sate itu dicopot dr tusukannya dan disajikan di piring. Dagingnya terasa “renyah”, hampir sama dgn steak “medium well” tapi tidak “banjir” atau “juicy” dgn samar2 bumbu kecap memampangkan kelegitan daging yg segar. Jangan lupa cicipi jeruk angetnya. Ini minuman hangat dr jeruk peras biasa, tapi punya sensasi lain karena menggunakan gula batu…

Malam sebelum pulang, saya menyempatkan diri “late supper” gudeg di Gudeg Batas Kota yg memang berada di dekat gapura batas kotamadya Jogjakarta dengan Sleman. Sekarang salah satu bagian dr gedung yg empernya digunakan oleh Gudeg Batas yg rempelo-ati-diblebet-usus-nya irresistible itu menjd sebuah lounge yg super-modern. Lampu berwarna merah dan biru yg menghantarkan suasana “chilled out” yg cozy ditingkahi musik khas lounge dgn suara muted trumpet. Diempernya, terhampar gudeg dengan formasi yg bisa dgn bebas diintrepretasikan: 4-4-2, 3-5-2, atau cattenacio. Gudeg basah dgn sedikit daun singkong di sana sini, telur rebus yg berenang di kuah areh yg kental, opor ayam, dan selain yg sesuai pakem, kini tersedia susis dan chicken nugget! Wow, fushion food van Jogja….

Begitulah Jogja. Life goes on karena Gusti Allah ora sare…

Photo by Dhany Hatta

Komentar»

1. Abdul Gaffar Karim - Juli 21, 2006

Bung Dadi,

Aduh.. aduh.. aduh… postingan anda ini bikin saya kangen pulang.
Pol..

Ada desiran hangat di dada, ada genangan kecil di kelopak mata…

Cara anda menutup posting dengan “Life goes on karena Gusti Allah ora sare” sungguh sangat tepat menggambarkan falsakah hidup orang Jogja….

Salam,
Gaffar–Perth

2. Bondan Winarno - Juli 21, 2006

Indeed, Gusti Allah never ever sare.

Posting yang bagus. He he he, jadi tambah ilmu soal klathak sebagai penghantar panas untuk mematangkan bagian dalam. Kok dari dulu ga pernah mikir begitu, ya?

Thanks.

Salam,
BW

3. dhany - November 10, 2006

mau k jogaj ah minggu ini. siapa tahu asik juga


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: