jump to navigation

BERITA DUKA: Pramoedya Ananta Toer Meninggal Dunia Mei 1, 2006

Posted by Dadi Krismatono in Buku.
trackback

pram.jpg

Sastrawan Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia, Minggu (30/4/2006) sekitar pukul 08.30 WIB pada usia 81 tahun. Saat ini jenazah disemayamkan di kediamannya, Jalan Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur (Kompas Cyber Media, 30 April 2006, 13:58 wib)

Perkenalanku dgn Pram pertama kali lewat fotokopian buku “Rumah Kaca” dari Tri Dirgantara (skr wartawan Bisnis Indonesia) back to the old day at the campus. Kira2 tahun 95-an, di kontrakannya di Minomartani. Itu kesalahan fatal! Karena ternyata “Rumah Kaca” adlh penutup dr tetralogi Pram yg monumental itu. Setelah itu, Imam WIbowo (skr scrpitwriter MetroTV) punya “Arus Balik” yg dibelinya di Kopma UGM. Aku membacanya di rumah kontrakan Pandega Satya, dekat warung tempe “bunder” yg meruntuhkan iman itu. “Arus Balik” menjadi salah satu buku yg jumlah halamannya paling banyak aku baca, dan–a little luxury as a college student–aku bisa membacanya berturut2. Kira2 3-4 hari, diselingi kegiatan ini-itu, aku menyelesaikan buku tebal itu (perbandingannya: sekarang aku belum kunjung tamat membaca “My Life”-nya Bill Clinton yg tebalnya sekitar 900 hal… duh duh..).

Bukan hanya membaca, mendapatkan buku Pram di jaman Orde Baru pun memberikan sensasi luar biasa. Koperasi Mahasiswa UGM menjd salah satu tempat favorit berburu buku Pram. Acara pentas seni dan seminar anak2 “kiri” (he he he.. betapa serius kita membelah dunia menjd “kanan” dan “kiri” waktu itu) juga biasanya ada, walau fotokopian. Aku menemukan sekali di Toko Buku Kalibata Mall (“Cerita dari Blora”) tahun 1996.

Yg paling menarik adl pameran buku di Univ. Brawijaya, Malang, Oktober 1998. Waktu itu Soeharto sudah jatuh dan aku menemani roadshow peluncuran buku temanku, Ita Sembiring di kota itu. Euphoria kebebasan mulai terasa, walau abu dan arang dari toko yang terbakar di bulan Mei masih menyisakan sesak dan pahit di tenggorokan. Salah satu stand pameran itu menjual buku Pram, dan langsung saja sold out! Untung waktu itu aku kenal salah satu senior di kampus itu , Ahmad Erani Yustika (skr PhD lulusan Jerman yg jadi dosen di almamaternya) sehingga bisa minta disisihkan dan dapat dua judul “Bumi Manusia” dan “Anak Semua Bangsa” (sayangnya buku2 ini sekarang masih dipinjam dan belum kembali…). Ada seorang mahasiswa (kalau tidak salah dari suatu seminari) yg minta panitia menyisihkan satu set tetralogi itu sementara sang mahasiswa bergegas ke pasar untuk menjual sepeda onthelnya! Dia menjual sepedanya utk membeli tetralogi itu yg kira2 seharga Rp 200 ribu…. (Mudah2an dia tidak menyesal menyaksikan betapa sekarang buku2 itu terpampang di toko buku..).

Well… waktu berjalan, semua berubah. Buku Pram ada di toko buku yg ada di mall. Sebuah karya sastra antikapitalistik terpampang di monumen budaya kapitalis! Tidak perlu jadi ironi yg getir karena kabar tetap perlu disampaikan, bahwa Indonesia pernah punya seorang Pram yg terus melawan, dengan penanya.. dengan pikirannya..

Selamat jalan, Pram…

Komentar»

1. m farid - Februari 12, 2007

sebenarnya pengen ngomentari tulisan-tulisan bang dadi-BD yang super provokatif!! dari kuliner yang begitu detil sampai rupa-rupa peristiwa yang menarik perhatian. Dan soal Pram komentarku tertambat. Rasanya beliau tokoh yang sulit ditandingi di Indonesia meski karya dan kehidupannya ga selalu mulus. Jadi kalo ada nominasi nobel yang khusus buat tokoh yang telah wafat aku jamin Pram tetap yang utama. O ya kalo BD rampungin seri tetralogi jauh di JaDul (Minjem omongannya Om Bondan) masa-masa kuliah (sori kalo ngingetin skripsinya BD yang kayaknya masih tersimpan rapi di hardisk) aku malah liburan semester kemarin yang ng-express rampungin tetralogi. sedikit cerita, buku itu aku koleksi waktu di jogja tahun 2004 dan selama lebih 2 tahun cuma nongkrong di rak. makasih untuk BD yang terus menggelorakan ide dan inspirasi lewat milis n blog ini moga aku bisa jadi pembaca setianya apalagi kalo bisa dijadikan buku, Woww!!!

2. nonick - Juli 31, 2008

Oom Pram merupakan pengarang yang paling inspiratif bagiku. Menghabiskan sebagian waktu luangku dengan membaca, aku menyimpulkan bahwa Beliau merupakan pengarang yang bekerja dengan semangat idealisme tinggi. Satu kata yang aku ingat ketika mengenang seorang Pram adalah “pemberani’. Beliau pernah berkata , kira-kira, “Jangan jadi pengarang kalau takut”.Mungkin itulah juga alasan kenapa hampir seperempat masa hidupnya dihabiskan di bui, bentuk purba dari peradaban umat manusia yang diciptakan orang yang tidak mengenal kata intelektualitas.Bahwa seharusnya perbedaan, entah itu warna kulit atau pendapat dapat diakomodir menjadi senjata persatuan. Sayang beberapa pendahulu kita belum menyadari dan bahkan tidak pernah menyadarinya sehingga menyebabkan salah satu pengarang monumental kita banyak menghadapi masa-masa kelam dan untungnya Beliau tidak pernah menyerah.
Buku favoritku sampai saat ini adalah ‘The Buru Quartet”.

3. Iba Nurrachman - Mei 22, 2012

mungkin aku belum mengenal pram sampai saat ini klau saja saat kuliah tidak dipertemukan dengan BD dalam komunitas KOIN. Bumi Manusia merupakan buku pertama yang aku baca (pinjam punya BD yg katanya sampe saat ini belum kembali). membaca bumi manusia seolah membawaku berada bersama minke dan realitas yg terjadi pd zaman itu. kemampuan Pram dlm menggambarkan situasi yg terjadi dalm setiap karyanya seperti mnghipnotisku. segalanya tampak begitu realis dan logis (seperti dalam arok dedes dimana mpu gandring yg selama ini difilmkan/dikisahkan sbg orang sakti ternyata begitu manusia ditangan Pram sbg seorang pemilik perusahaan pabrik senjata).. Hal2 yg realis dan begitu manusiawi tsb membuat karyanya begitu membumi….Hampir semua bukunya telah kubaca…terimaksih BD yg telah menjadikanku dekat dengan Pram…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: