jump to navigation

Berbagi Suami: Mengingatkan yang Terlupa April 5, 2006

Posted by Dadi Krismatono in Film.
trackback

berbagisuami.jpg

Plasa Senayan, 27 Maret 2006. Nomat, Bo..

Nia Dinata bikin film lagi! Celoteh apa lagi yg akn disampein Teh Nia kali ini? Apalagi judulnya cukup provokatif: Berbagi Suami. Membaca judulnya mungkin kita segera teringat kontroversi “Poligami Award” yg di-endorse olh pemilik ayam bakar Wong Solo yg bangga dgn ke-poligami-annya, atau ttg seorang pejabat tinggi banget yg suka bikin susah orang protokoler kl menyusun naskah MC “yg terhormat, Bapak Wakil Presiden beserta Ibu… (Ibu yg mana ya..??).

Balik ke film BBS. Dibuka dgn penuturan yg datar, mengambil setting rumah yg rumahan banget. Bukan rumah gedong yg overlighting a la Sinteron. Dialog mengalir perlahan tapi nggak tersendat. Salma (Jajang C Noer), Pak Haji (El Manik), Nadim–pemilihan nama tokoh yg hebat! (Dj Winky) berjalin-kelindan dlm cerita poligami yg meilbatkan istri2 muda Pak Haji. Kekikukan, sinisme, posesi, dgn intens mengisi celah2 cerita. Akting El Manik yg menghadirkan kepahitan seperti tertelan duri ikan patut dipujikan, sementara vokal sengau Jajang membuatnya selalu “menjadi” Jajang. Masalah Tsunami diangkat dengan cermat sehingga jauh dr kesan tempelan.

Di bagian kedua, kita bisa melihat Rieke Dyah Pitaloka sembuh dari kerasukan Oneng yg selama ini diidapnya, bahkan ketika menjd presenter. Cerita tentang “seranjang tiga cinta”–bahkan jd empat di ujung bagian ini (!), dgn latar kemiskinan urban menyentil pemahaman baku ttg kebahagiaan, kepemilikan, dan arti eksistensi. Dalam kepengapan, semua tokoh menggapai-gapai setiap hela oksigen yg tersisa utk sekedar bertahan hidup. Walau pada akhirnya hasrat memiliki seutuhnya yg digambarkan dlm percintaan sejenis yg sungsang tapi penuh hasrat, mengantarkan Siti (Shanti) dan Dwi (Rieke) keluar dari rumah Pak Lik (Lukman Sardi).

Selanjutnya ada bagian yg menggambarkan percintaan Koh Abun (Tio Pakusadewo) dgn Ming (Dominique). Kecermatan casting (pemilihan pemeran) dlm bagian ini menghindarkan BBS terjebak dlm sterotipe dan prasangka ttg orang Cina. Cermat!

Menonton BBS mengingatkan aku bhw film Indonesia sering lupa dgn satu hal: kewajaran. Kewajaran dlm dialog, casting dan artistik. Utk masalah satu ini tolong kesampingkan sinetron. Dlm ketidakwajaran di layar, film seolah menjd suprarealitas yg tidak terjangkau olh nalar awam (terjemahan bebas dari “common senses”). Memang seni menuntut estetisasi, stilisasi dan dramatisasi dr kisah kehidupan, utk membuatnya enak ditonton (estetisasi inilah yg dilawan oleh “reality show”). Di sinilah tantangan kecerdasan sutradara dan kelapangan hati utk membunuh dirinya demi suatu keutuhan.

Beberapa film belakangan ini memiliki hasrat artistik yg luar biasa hingga menyajikan gambar dan scene yg dramatis. Sayangnya film2 itu lupa pada tugas utamanya utk menuturkan suatu cerita. Film adl komunikasi, betapapun rumit maupun absurd cerita yg akan disampaikannya. Film Korea “Spring, Summer, Fall, Winter… and Spring Again”(Sutradara: Kim Ki-duk) yg diputar pd Jiffest 05 yg lalu memampangkan skenografi yg dramatis–memanfaatkan keindahan pemandangan alam, dialog yg minim dan efektif dan tugas bercerita yg diembankan pada gambar dan adegan yg mampu berbicara, menyampaikan pesan. Sehingga komunikasi tetap terjalin dgn efektif.

Kewajaran dan komunikasi itulah yg menjd sumbangan berharga BBS bagi perkembangan seni film di Indonesia. Paling tidak film ini bisa menjd “cornerstone” dr sebuah rumah bernama film Indonesia yg sedang kita bangun bersama-sama.

Well, ini bukan review yg bagus krn kurang balance, kurang kritik thd kekurangan yg–mgkin–ada dlm film ini. Yah.. biar keren, review ini mencoba membedah relevansi sosial dr film BBS. Worth to watch!

Komentar»

1. cipcip - Januari 18, 2007

goooooooooood film in Indonesia
Cretive Idea
Good Cinematograph
Smart talent
ya pokoknya bagus lah walaupun gw baru nonton traylernya aja hehehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: