@fiksimini 17 Agustus 2010 Agustus 23, 2010
Posted by dadi krismatono in Uncategorized.add a comment
INGIN JADI PAHLAWAN? Hubungi kami: konsultan pencitraan. Jika tidak jadi, garansi uang kembali.
My Trip to Abu Dhabi Maret 28, 2010
Posted by dadi krismatono in Uncategorized.add a comment
This is what you got when you traveled and were accompanied by a talented, beautiful photographer.
Lesson learned: I will take a modeling course prior to my next trip with her, so I can have more poses and style.
Thank you for the wonderful days in Abu Dhabi.

Contemplating the sunset at the desert. Simply speechless

Dust in the wind. All we are is dust in the wind.

Save the trees, save the planet.

Stunned by the sunset at the desert.
To be continued…
Kilas 2009 Dalam Gambar Januari 20, 2010
Posted by dadi krismatono in Uncategorized.add a comment
Tahun 2010 sudah mau berjalan sebulan, tapi saya mau melanjutkan gambaran momen-momen terbaik di tahun 2009. Tidak terlalu teratur. Tidak seperti kaleidoskop di TV hehehe…
Peringatan HUT Teater Koin ke-10 di Sinduharjo

Sayang sekali saya tidak punya foto pada saat pementasan di Taman Budaya Societet, Yogyakarta. Buat teman-teman Koin yang punya, boleh dong dikirim…
Bersama CEO Bapak Richard Edelman

Menyutradari Pementasan Teater Koin & Teater Palmerah di Gedung Kesenian Jakarta

Terima kasih semua yang terlibat untuk tahun yang indah.
Setahun Tidak Ngeblog Januari 12, 2010
Posted by dadi krismatono in Uncategorized.2 comments
Hmm.. sedih juga ketika melihat dan sadar bahwa posting terakhir di blog ini dilakukan di akhir 2008. Berati praktis selama tahun 2009 saya tidak menulis! Hasil penelitian tentang blogging di Indonesia memang menemukan bahwa rata-rata blogger berada pada titik kritis pada tahun kedua: apakah dia sudah menemukan betuknya dan terus menulis, atau malah menyerah. Kalau boleh membela diri, saya bilang di sini saya tidak menyerah. Saya masih kepingin menulis.
Atau, jangan-jangan, karena tahun 2009 ini hidup saya datar dan tidak ada yang berharga untuk ditulis? Tidak juga. Selama 2009, banyak hal menarik yang seharusnya ditulis. Seiring dengan proses pementasan “Inspektur Jenderal” dalam rangka ulang tahun ke-10 Teater Koin, saya membuka blog khusus. Tapi, sama saja, tidak terkelola dengan baik.
Paling tidak ada beberapa hal yang menarik di tahun 2009:
Saya bisa menyaksikan dan terlibat dalam ulang tahun ke-10 Teater Koin. Buat saya ini anugerah, karena ternyata komunitas yang sederhana dan sedikit keras kepala ini punya daya hidup yang cukup panjang. Sampai akhir tahun 2009, dalam sepuluh tahun perjalanannya, ada 16 produksi. Tidak jelek, untuk sebuah komunitas yang berangkat dari teater kampus.
Dari sisi pekerjaan, saya mendapat tugas untuk menemani CEO kami Bapak Richard Edelman untuk jalan-jalan keliling Jakarta yang sempat bikin-deg-degan. Mau kemana? Untung itinerary yang disusun oleh Pak Ahmad Syarif dari Ritz Carlton Pacific Place Jakarta cukup menghadirkan suatu “city trip” yang representatif. Kami mengunjungi rumah dan sekolah Presiden Barrack Obama waktu beliau tinggal di Jakarta, Monas dan Museum Gajah tentu saja, dan beberapa tempat lain. Pak Richard menutup jalan-jalan itu dengan menyatakan apresiasinya terhadap acara mengunjungi rumah dan sekolah Obama. Dia bilang, “We can contemplate on how ordinary person can be extraordinary.”
Tahun 2009 ditutup dengan sebuah pelajaran tentang keyakinan yang mengalahkan keraguan. Setelah pentas “Inspektur Jenderal” di Taman Budaya Societet Jogja dalam rangka ulang tahun Teater Koin di bulan Juni, muncul keinginan untuk mementaskan “Inspektur jenderal” di Jakarta. Menurut saya, bahan mentah yang kami punya sampai bulan Juni layak untuk diolah lebih lanjut untuk sebuah pementasan di Jakarta. Lalu mulailah persiapan. Survey dan penyusunan proposal, serta latihan. Di tengah jalan, para anggotanya berguguran. Mengundurkan diri, bahkan mengusulkan agar proses dihentikan.
Saya jadi ingat sebuah film dokumenter tentang latihan Marinir Amerika. Latihan terakhir mereka sangat sederhana. Pasukan dibagi dalam beberapa kelompok dan harus bertahan bersama-sama berdiri diam dalam barisan sambil menggendong segelondong kayu yang besar. Yang menyerah, silakan keluar dari barisan dan membunyikan bel. Latihan yang nampaknya sederhana ini jadi sangat berat dan emosional, terutama ketika kelelahan mendera dan mulai ada anggota pasukan yang menyerah.
Tapi memang sejarah ditulis oleh sedikit orang yang berteguh hati. Well, keras kepala memang sudah janji kami anak Koin. Sambutan dan dukungan dari teman-teman Komunitas Teater Palmerah yang hangat dan membuat kami akrab dalam waktu singkat sangat berharga. Tak habis saya mengucap terima kasih buat teman-teman Katepe. Pementasan berlangsung tanggal 22 Desember 2009 dengan lancar. Sempat deg-dengan dari pagi sampai sore karena hujan yang mengguyur sepanjang dan lagu opening bait kedua masih fals. Terima kasih buat teman-teman yang sudah datang menonton.
Maka, membuka tahun 2010, maka resolusi saya adalah: melajutkan blogging!
Belajar Wagyu Desember 30, 2008
Posted by dadi krismatono in Kuliner.5 comments
Sudah cukup lama saya kangen dengan suasana “belajar” di Jalansutra. Pertama kali ikut wine class, belajar kopi, makan oyster, jadi deretan pengalaman pembelajaran saya di komunitas ini. Beruntung sekali pada pertengahan Desember lalu ada undangan untuk belajar lagi dari Pak Bondan. Tidak tanggung-tanggung, “mata pelajaran” yang akan digelar adalah tentang wagyu! Selain Pak Bondan, ada Pak William Wongso yang berkenan membukakan pintu William Kafe Artistik untuk didatangi oleh anggota Js.
Istilah “wagyu” secara harfiah artinya “sapi Jepang”. Namun, kesini-sininya, istilah itu merujuk pada hasil persilangan genetika dan perlakuan ternak (khususnya pemberian pakan) yang menghasilkan sapi dengan daging yang “marbled”, alias memiliki lemak di dalam daging yang menyemburat seperti motif pada batu marmer. Menurut Pak Ben Clifford, certified beef grader dari Australia yang hadir pada malam itu, lemak dalam daging sapi wagyu dapat dibedakan menjadi “external fat” (lemak yang ada di luar otot), “intramuscular fat” (lemak di dalam otot—ini yang terutama memunculkan motif “marbled”), dan “intermuscular fat” (lemak yang ada di antara otot-otot). Grading yang dilakukan di Australia menggunakan skala 0-9. Nol artinya tidak ada lemak (ya iya lah…) dan grade 9 adalah daging yang penuh larik-larik lemak yang cantik. Menurut Pak William, sebenarnya larik lemak inilah yang menghasilkan sensasi “melt in your mouth” waktu kita kunyah. Sambil tertawa Pak William menegaskan, “sebenarnya yang meleleh itu lemaknya.”
Informasi baru yang saya dapat malam itu adalah cerita tentang sapi wagyu yang dipijat dan diberi minum bir dan sake dan iringan musik klasik hanyalah mitos. Paling tidak, kegiatan itu sudah tidak dilakukan lagi selama lebih dari tiga puluh tahun. Keempukan dan kelezatan wagyu didapat dari persilangan genetika dan pemberian pakan yang cermat.
Yang menarik adalah wagyu yang kami cicipi malam itu adalah hasil dari sebuah proyek “eksperimen” pengembangan sapi wagyu di Lampung. Di acara itu juga saya jadi ingat pelajaran biologi waktu jaman sekolah dulu. Tentang tanda F1, F2 dan seterusnya, yang menjelaskan silsilah dan orang tua si sapi namun maaf saya tidak mampu mengingat lebih detail.
Sebelum “kuliah” dimulai, kami dimanjakan dengan lumpia udang dan pai jamur. Sambal kacang lumpianya encer, pas sekali, cuma sekedar lewat di kulit mulus lumpia yang sintal itu. Pai jamurnya mirip quiche; ciamik punya.
Hidangan pertama adalah burger yang “patty”-nya dibuat dari daging bagian brisket atau “dada”, saya sebut demikian karena berada di atas kaki depan si sapi. Untuk pengikatnya digunakan external fat. Hasilnya adalah patty yang enak digigit karena tidak hancur atau ambyar. Di dalamnya ada seperti benang yang tidak mudah putus. Sensasi “moist” dari lemaknya diimbangi oleh crisp dari seulas mustard pada roti. Di pucuknya ada semacam selai dari tomat dan sedikit kismis yang legit. Supaya sehat, jangan lupa dihabiskan saladnya ya…
Hidangan kedua adalah dua ragam sate dengan lontong. Sate yang pertama dari daging dari bagian punggung depan yang disebut “oyster blade” dengan bumbu kelapa. Mungkin inspirasinya datang dari Sate Kelopo Ondomohen di Surabaya sana. Teksturnya yang succulent diperkaya oleh sensasi ketika mengunyah parutan kelapa berbumbu. Rich. Di tengahnya ada seperti urat yang tidak mudah putus. Sensasi mengunyah yang istimewa!
Sate kedua menggunakan daging bagian “rump” dengan bumbu Bali. Bagian rump mengikutkan juga bagian sirloin sehingga karakter lemak di pinggiran yang ada pada sirloin juga muncul. Bumbu Balinya nakal. Apalagi ketika bertemu dengan lemak yang menyemprot ketika ketika daging digigit. I like this.
Hidangan berkuah yang unik muncul ketika potongan bagian oyster ditampilkan gaya shabu-shabu dengan kuah asam-padeh. Terobosan yang berani. Tabrakan rasa daging antara kuah asam-padeh-nya lumayan unik. Keenceran kuahnya pas. Daging lada hitam a la Chinese food datang kemudian. Daging yang digunakan bagian rump, ditemani sedikit nasi putih.
Dua jenis steak dihadirkan dalam dua putaran yang berbeda, supaya kita bisa membedakannya. Yang pertama adalah grilled rib-eye yang cantik. Bagian luarnya sedikit crusty dengan bagian dalam yang lembut dan basah. Tampilan yang apa adanya, tanpa embel-embel apa pun malah mampu menampilkan semua kelezatannya. Pak William membuka rahasianya. Beliau bilang sebaiknya finishing steak dilakukan di oven. Grill hanyalah awalan untuk membuat karakter dan rasa.
Hidangan terakhir adalah grilled striploin yang benar-benar juara. Walaupun menurut Pak William sedikit overcooked, bagi saya striploin itu luar biasa. Aroma daging yang harum, tekstur yang indah dan rasa yang kaya. Semua indra perasa, pengecap dan pembau dimanja oleh hidangan pamungkas ini dalam kesatuan pengalaman yang utuh. Extra! Sejumput sayur dan jamur melengkapi.
Pak William sempat menerangkan grade daging dari masing-masing hidangan. Tapi saya tidak mencatatnya. Yang saya ingat adalah hidangan pamungkas, yaitu striploin steak, menggunakan daging grade 4, yang tertinggi yang dihadirkan malam itu. Duh, kalo grade 9 kayak apa ya? Grade 4 aja udah bikin hati berdesir begitu..
Beberapa teman membawa wine. Cabernet sauvignon, shiraz dan pinot noir yang berseliweran membuat acara malam itu makin lengkap. Penutupnya adalah semacam sorbet dari teh hijau dengan pasta kacang merah kental di bagian bawah. Membersihkan palate dan–mudah-mudahan hehehe–sedikit menetralisir lemak yang disantap! What a ngiht!
Terima kasih Pak Bondan, Pak William dan WKA.
Tasting Notes, December 6, 2008 Desember 9, 2008
Posted by dadi krismatono in Kuliner.add a comment
Sabtu sore itu jalanan agak sepi. Agaknya hujan deras berangin-badai yang baru saja lewat membuat sebagian orang enggan keluar rumah. Saya suka sekali suasana senja yang basah seperti ini; ketika langit belum lagi hitam, mobil-mobil menyalakan lampu dan cahayanya terpantul pada aspal. Hmm.. ada suasana yang dalam di sana.
Pada sore hingga malam yang indah itu saya sempat mencicipi beberapa wine. Karena sudah ada yang pernah saya tulis, saya hanya ceritakan yang baru.
Pallazo Comunale Brunello di Montalcino, Cantina di Montalcino, 2002 (Montalcino, Italia). Montalcino adalah daerah penting penghasil wine di Italia sejak abad ke-15. Namun, pada waktu itu wine yang banyak dibuat adalah white wine manis yang dari buah Moscadelle. Red wine yang dibuat selalu berasal dari campuran (blend) Sangiovese, Canaiolo, Ciliegiolo dan sejumlah kecil varietas lainnya sebagai “bumbu”. Hasilnya adalah wine yang segar dan wangi untuk dikonsumsi segera. Baru pada akhir abad ke-19 terjadi perubahan radikal dengan diperkenalkannya wine yang berasal dari varietas tunggal, yaitu dari Sangiovese yang dipilih dengan penuh kecermatan. Struktur wine-nya pun berubah, menjadi wine yang punya aging potential, yang ditandai dengan citarasa yang tegas, bertenaga, dan ber-body. Brunello adalah nama lokal untuk Sangiovesse yang konon berasal dari warna wine ini setelah difermentasi dan di-aging.
Cantina di Montalcino berdiri pada tahun 1975. Brunello dari winery ini disimpan paling tidak selama dua tahun di dalam tong (cask) oak Slovenia sebelum dimasukkan dalam botol. Warnanya ungu yang cantik dan intens. Aroma buah-buahan yang wangi menciptakan parfum pembuka yang enak, tipis membelai penciuman. Ada cherry yang menyembul di permukaan. Di mulut, perpaduan antara body yang cukup “sterek” dengan belaiannya yang silky membuatnya terasa kaya, apalagi acidity-nya cukup balance.
Moss Wood Chardonnay, 2006 (Margaret River, Australia). Margaret River juga daerah penghasil wine premium di Australia barat. Chardonnay yang kekar ini sangat cocok untuk mematahkan mitos bahwa white wine identik dengan kelembutan dan femininitas; bahwa white wine hanya cocok untuk perempuan. Well, good men drink good white wine as well!
Intensitas aroma yang langsung memenuhi indra penciuman adalah awal dari keperkasaannya. Warnanya yang cenderung pucat bisa jadi mengecoh. Pear, melon, dan buah-buahan asam (seperti grapefruit) langsung menyergap palate diiringi dengan layer vanilla dan aroma kacang-kacangan (nutty).
Karena aroma nutty yang cukup intens membayangi itu kami bereksperimen dengan roasted almond dan pine nut. Jadi lebih sedap keduanya hangat baru keluar dari oven. Roasted almond dicium aromanya, dicoba segigit dan wine sesesap.. hmmm… ternyata ada aroma buttery yang begitu kuat menyerbak setelahnya. Menciptakan suatu lingering finish yang tidak biasa. Begitu juga dengan pine nut yang lebih tajam ketimbang almond. Keduanya menjadi lebih intens ketika bertemu dengan wine. Ini yang disebut mirroring dalam wine pairing. O ya, finish-nya yang betah juga menjadi bukti kekekaran wine ini.
Perjalanan saya malam itu yang dimulai dari Italia ternyata juga berakhir di Italia. Tidak tanggung-tanggung, yang menutupnya adalah “king of wines, and wine of kings” dari Piedmont. Ya, Barolo. Tepatnya: Azelia Barolo, 1998 (Italia). Wine ini lahir dari kecintaan keluarga Scavino dalam meproduksi wine berkualitas sejak tahun 1920. Salah seorang anggota keluarga ini, Paolo Scavino, dikenang berjasa dalam memunculkan Barolo yang bermutu hingga diakui di seluruh dunia.
Barolo dibuat dari buah anggur Nebbiolo yang punya karakter “moody” yang sama dengan Pinot Noir. Nebbiolo sangat sensitif terhadap lingkungan dan bisa menghasilkan panenan yang berbeda-beda, walaupun hanya ada sedikit perbedaan geografis. Kulit buahnya tipis, mirip Pinot Noir.
Walau begitu Barolo yang saya cicipi memang layak disebut “king of wines”. Warnanya “broken” seperti ekspresi seorang yang “vulnerable”. Aroma bunga violet, cherry dan stone fruit langsung menyergap dengan bingkai aroma leather yang anggun. Hmm.. Finish-nya yang panjang menyerbakkan lagi aroma vanilla yang tadi sempat sekelebat lewat.
Hujan sudah lama berhenti.
Tempat Kejadian Perkara: Decanter, Plaza Kuningan, Jl. Rasuna Said, Jakarta.
“Decanter” : How far will you go? November 25, 2008
Posted by dadi krismatono in Kuliner.3 comments
Jika salah satu iklan rokok berbunyi “how low can you go?”, maka dalam dunia kuliner pertanyaannya adalah “how far will you go?” Memang, dunia masak-memasak dan cicip-mencicip menyediakan ruang penjelajahan yang nyaris tanpa batas. Di Ubud ada hidangan foie gras dengan buah belimbing berkelas dunia. Di Jakarta, saya pernah mencicipi kreasi seorang chef restoran Jepang berupa es krim wasabi. Jangan tanya rasanya deh! Kira-kira sampai dua bulan setelah itu saya tidak noleh-noleh ke sushi dan sashimi untuk menetralisir trauma pada lidah saya. Atau, di Jakarta saya pernah mencicipi karya seorang chef restoran masakan western yang “main aman”, semua hidangan dimasak dengan butter yang melimpah. Memang rasanya jadi gurih dan enak, tapi ya.. itu tadi.. play safe, no suspense.
Minggu lalu saya berkesempatan mencicipi hidangan restoran “Decanter” yang akan mulai beroperasi minggu ini. Tempatnya nyaman. Kata sang arsitek, suasana dan ambiensnya dibuat seperti rumah. Di depan ada beranda, dengan lampu kecil yang menggambarkan bintang-bintang di langit. Setelah itu ada living room, dining room dan di ujung ada pojokan yang intim dengan ambiens yang turned-down. Ceritanya bed room. Memang tidak ada ranjang beneran. Hanya sofa-sofa gemuk yang nampak puffy dan nyaman. Perpaduan kayu dan tanaman hijau yang menghiasi, serta ubin vintage khas Jogja membuat saya lupa bahwa saya berada di Plaza Kuningan, sebuah gedung perkantoran yang lugas, modern dan dingin. Jangan ngaku anak gaul 80-an kalau nggak tahu dimana Plaza Kuningan. Itu tuh.. satu kompleks dengan diskotik Ebony dan restaurant Big Boy yang happening abis di masa itu.. (Kalau yang ngaku eksis berat pasti dulu nyebutnya “Ebong”—dan “Ori” untuk Oriental di Hilton. Bahkan Music Room di Borobudur kini mengubah namanya menjadi “Musro” yang berasal dari nick-name buatan anak-anak disco waktu itu).
Kembali ke tahun 2008. Selain doa bersama untuk memulai operasi, acara itu juga menjadi food tasting restoran tersebut. Saya rada salah kostum. Untung suasananya akrab sehingga saya tidak terlalu grogi. Di awal saya mencicipi tagliatelle bayam dengan lamb ragout yang klasik. Saya jadi ingat pertama kali saya mencicipi makanan Italia waktu masih kecil ya.. seperti ragout ini. Walaupun mungkin ragout-nya atau meat sauce waktu itu dari daging sapi. Gurih, tidak terlalu “ngitali” dan begitu akrab di lidah. Saya akan masukkan tagliatelle ini dalam daftar comfort food saya. Pasta kedua adalah penne dengan irisan kulit jeruk yang rancak. Hmm.. dia bagai menari dengan 2006 Fleur du Cap Unfiltered Chardonnay dari Stellenbosch, Afrika Selatan. Wine, terutama yang diproduksi massal, difilter untuk menghilangkan partikel kecil dan memunculkan warna yang terang. Namun beberapa winemaker sengaja tidak memfilter wine untuk mempertahan aroma yang paling subtil. Soal warna tidak selalu menjadi masalah. Seperti Fleur du Cap ini. Warnanya tetap cantik. Aroma sitrus menyeruak di awal, diringi aroma vanilla yang “kekayu-kayuan”. Finishnya panjang mengikuti aroma buah tropis yang segar tapi tidak terlalu tajam. Jejaknya di palate agak “lebar” begitu. Wine ini datang dari Stellenbosch, salah satu daerah penghasil wine penting di Afrika Selatan. Selain dua pasta itu ada satu pasta yang bentuknya mirip dasi kupu-kupu dengan udang dan avocado. Udangnya segar namun kurang beruntung dengan alpukatnya yang masih terasa pahit dan satu lagi spaghetti dengan creamy pesto dan pine nut yang unik.
Untuk putaran kedua dihidangkan wine rosé yang begitu “bold” dengan aroma buah keluarga berry yang agak kuat (tart) dari Côtes du Rhône, Perancis. Baru pertama saya menemukan rosé seperti ini. 2007 Paul Jaboulet Paralelle 45 Rosé ini begitu balance antara rasa manis dan acidity-nya dan seger banget. Rose ini begitu pas untuk menemani tumisan aneka jamur yang earthy, kalem dengan kick dari sedikit aroma pungent jamur shitake.
Setelah itu muncul lamb stew yang entah kenapa segalanya serba pas: bumbunya, kekentalan kuahnya, keempukan dagingnya. Kuahnya bernuansa tomat. Pas. Tidak ada yang menyembul egois . Namun, karakter yang “humble” itu ternyata tidak cocok untuk beef stew yang muncul kemudian. Mungkin karena daging sapi yang lebih kalem, dan kuah saus wine dan wortel serta kentang yang memberi rasa manis membuat beef stew-nya agak terlalu pendiam. Ada hidangan tomat yang di-oven yang diisi dengan isian yang agak creamy tapi sayang tomatnya masih mentah dan langu.
But the best is yet to come. Tak lama keluarlah meatball alias bakso dengan aroma rempah yang asyik banget. Yang paling terasa sih daun ketumbar, walupun samar-samar ada juga kayu manis dan kapulaganya. Bahkan tampak cincangan daun ketumbar di dalamnya. Teman yang mendampingi adalah nasi putih yang dimasak dengan almod dan kismis. Semula saya tak tergoda. Nasi gitu loh. Baru setelah gigitan meat ball dan suapan pertama nasi bertemu.. seperti pesawat yang menggerung lepas landas dan sampai ke ketinggian yang stabil. 2007 Torbreck Woodcutter’s Shiraz dari Australia semakin memantapkan kestabilan pesawat imajiner di ketinggian yang tenang itu. Wine dari Barossa valley ini agak unik, karena aromanya begitu tipis untuk ukuran shiraz dari lembah yang sudah terlibat dalam wine culture sejak 160 tahun yang lalu namun menyimpan citarasa yang bulat (round) dan padat dengan rasa buah-buahan matang yang kaya (bukan “rich”, namun lebih tepat “opulent”).Mudah-mudahan kismisnya diperbanyak sehingga pada setiap suapan kita bisa merasakan cubitan manjanya.
Ada beberapa hidangan daging seperti lamb medallion atau roast leg of lamb tapi semuanya masih berada di bawah bayang-bayang nasi almod dan meat ball dan shiraz yang masih saja mendesir di pikiran.
Wine semillon dari winery yang sama (Torbreck, vintage 2008) dihadirkan untuk menemani gindara yang di-pan fried dengan saus butter dan kepyuran lemon. Rasa berminyak pada mulut yang khas gindara bertambah intens oleh wine yang dry ini. Selain itu ada aroma seprti lilin (wax) di permukaan melapisi citarasa sitrus, lemon, kacang-kacangan mentah dan rasa manis yang tidak bisa saya definisikan.
Selain itu masih ada beberapa hidangan ayam dan ikan yang berpose di meja tapi terpaksa saya lewatkan.
Dessert yang dipilihkan Yohan Handoyo membuat saya melengos. Setelah beberapa course yang sebagian besar masuk kategori sangat istimewa, masak dessertnya “cuma” blue cheese dan mangga dengan sweet wine. Nggak sophisticated deh. Dan disitulah saya belajar arti pepatah: don’t judge the book by its cover. Hidangan yang tergeletak di piring tanpa sentuhan presentasi dan garnis itupun saya ambil. Memasangkan sweet wine dengan blue cheese sudah dianggap klasik dalam wine pairing. Imbuhan mangga sempat menggelitik rasa ingin tahu saya. Ketika botolnya datang saya baru tahu bahwa yang disajikan adalah icewine. Tepatnya, Jackson Trigs 2006 Vidal Icewine dari semenanjung Niagara, Canada. Ternyata aroma mangga dari icewine ini akan ditemani oleh irisan mangga segar yang basah untuk bergelung dengan aroma blue cheese yang spicy dan tengik itu. Perlu waktu sedikit untuk berkonsentrasi dan menarik kesimpulan dari kecamuk citarasa yang terjadi pada mulut. Hmm.. perpaduannya sukses dan membuka kepekaan indra perasa kita untuk menerima kenikmatan-kenikmatan selanjutnya. (Lho? Padahal dessert ya?) Boleh dong segelas lagi.
Secara umum, pilihan Mediterranean cuisine di Decanter menyediakan ruang eksplorasi yang luas. Begitu juga dalam membuat pairing dengan wine. Tinggal sejauh mana para punggawa urusan dapur dan wine mau menyusuri perjalanan. Tantangan selanjutnya, tentu pada saat operasi, ketika sudah berinteraksi dengan pelanggan dengan segala karaktersitiknya. Bagaimanapun, langkah pertama sudah diayunkan…
Mendadak Sastra (5) – SELESAI November 10, 2008
Posted by dadi krismatono in Uncategorized.1 comment so far
Workshop “Writing for Young Readers” jadi acara pertama kami hari ini. Pembicaranya Jean Bennet dari NZ. Terus terang, waktu menerima program saya membayangkan workshop ini akan membahas seputar fenomena seperti Harry Potter, chick lit, atau early adolescence novel yang witty dan bersemangat. Ternyata maksudnya lain. Bennet adalah penulis buku edukasi anak-anak. Banyak bukunya yang diterbitkan oleh National Geographic, khususnya dalam bentuk buku ilmiah atau sejarah yang diberi tokoh dan kisah fiktif untuk menghidupkan dan membangkitan minat baca. Sebenarnya ini workshop yang cukup bagus, tapi bukan yang saya cari.
Selesai workshop di Taman Indrakila, saya bergeser ke Indus, karena ada diskusi menghadirkan Pak Bondan Winarno. Bersama Lucy Malouf dari Australia, Pak Bondan dan peserta membahas tentang “food and story”. Soal food and story, menarik sekali membahas betapa bahasa punya keterbatasan untuk mengekspresikan citarasa yang dihadirkan makanan. Apalagi kalau lintas bahasa. Bagaimana kita menerjemahkan al dente, flaky dan earthy? Selain itu ada pertanyaan yang menggelitik, apakah para pecinta makanan pernah berpikir tentang orang-orang yang kelaparan di dunia ini?
Sebelum workshop saya bertemu Emelia yang membawa titipan fruit wine dari buah naga buatan Mbak Catalia, JSer Bali yang memang fokus dalam produksi makanan organik dan vegetarian. Adanya larik rasa gula merah dalam minuman itu. Namun, dari segi cita rasa, masih perlu banyak langkah sehingga apa yang diinginkan keluar, bukan hanya membiarkan fermentasi bekerja. Good experiment, anyway.
Lalu makan siang di Casa Luna. Pacar saya yang sedang memulihkan kakinya yang terkilir sudah ada duluan. Tadi dia pijat refleksi. Saya mencoba “Balinese paella” yang ternyata nasi kuning (ya, that nasi kuning hehehe… ) dengan potongan aneka seafood yang dimasak dengan bumbu asam segar khas paella. Ada dedaunan, kalau tidak salah dill, yang memperkaya aroma. Nasi yang lebih tanak membuat perut kampung saya ini lebih bisa menerimanya, tidak perlu pakai reserve seperti kalau mau makan paella beneran.
Sorenya kami kembali ke Casa Luna untuk mengikuti wine tasting. Judulnya seru: In Praise of Wine and Woman. Pembawa acaranya Yohan Handoyo, figur yang sangat tepat. Soal wine tentu Yohan jagonya. Soal woman? Aduh… mendingan nggak komentar deh daripada dijitak! Wine yang dihadirkan cukup beragam: Australia, Italia, Chile, Amerika bahkan Hungaria. Saya mencicipi “Italian Chardonnay” yang lumayan cakep. Sayang acaranya tidak bisa dibilang pairing, baik dari segi makanan maupun performance. Jadi, ya, jalan sendiri-sendiri. Winenya, makanannya dan puisinya. Sayang banget. Memang ada beberapa terobosan yang cukup unik seperti tempe goreng dengan sambal dan guacamole atau ayam yang di-gill kemudian dibumbui sambal matah. Bahkan Yohan sampai meminta lampu dimatikan dan peserta meminum Tabali Pinot Noir dari Chile (maaf, vintage-nya lupa) dengan mata terpejam sambil mendengarkan puisi untuk memaksimalkan suasana.
Selesai dari Casa Luna kami menuju ke Jl. Goutama, berharap Street Carnival masih ada. Sisa-sisa keriaan sih masih terasa di udara tapi pertunjukannya tinggal joged bumbung di jalan. Menyenangkan sekali menonton tari Bali di tempat “aslinya”, bukan di gedung pertunjukan atau hotel tapi di desa dengan warga yang turut menari. Memang gerakan dan interaksi dari penari perempuan dan para lelaki dari penonton yang turun ke lantai dansa bernuansa erotis. Namun, konteks tempat tari tersebut hidup membuatnya bersahaja, jenaka, dan gayut dengan lingkungannya; tidak perlu ditera dengan ukuran UU Pornografi yang dogmatis dan paranoid itu.
Hari Terakhir
Dengan menyesal kami tidak ikut penutupan di Museum Antonio Blanco malam nanti. Dengan mobil sewaan kami menyempatkan diri turun gunung sebelum pulang. Tujuan pertama: Mak Beng di Sanur, untuk late lunch. Warung ini hanya punya satu jenis menu = ikan goreng + sop ikan + nasi putih + sambal, dan bertahan sejak tahun 1941. Sayang sekali sop ikan kuning kental khasnya habis. Plan B-nya, mereka menyiapkan sayur sop sayuran biasa, dengan wortel, buncis dan seledri. Kami coba saja. Sambelnya masih konsisten, seperti terakhir tahun lalu saya ke sana.
Selesai makan kami menyempatkan lihat-lihat di factory outlet baju-baju surfing, seperti Rip Curl dll. Ada beberapa tempat dan harganya lumayan value for money. Kalau mau mbongkar-mbongkar bak di bagian sale, lumayan tuh dapat kaos atau celana pendek keren dengan harga bersahabat.
Lewat Kuta, wah lagi ada Kuta Festival. Ramai dan sedikit macet. Sambil menikmati keramaian kami berjalan terus menuju Seminyak dan mendarat di Ku De Ta. Karena ingin menyisakan ruang di perut untuk makan malam di Warung Italia di Jl. Kunti, saya memesan cemilan dari buah zaitun untuk menemani mojito dan jeng jeng jeng… datanglah sepiring besar buah zaitun dengan kue garing panjang-panjang seperti cheese stick. Nah lo. Buahnya kecil-kecil dan buanyak banget. Sampai matahari tenggelam dan langit gelap, dan bibir rada tebal terkena vinegar, itu zaitun belum habis tuh…
Ku De Ta sudah selesai renovasi dan makin hip. Ada lantai atas yang memberi view yang lebih luas. Di bagian depan ada toko yang menjual merchandise dan CD. Harganya premium.
Bergerak dari Ku De Ta ke Warung Italia. Jangan-jangan supir kami membatin, ini tamu kok kerjanya makan melulu? Warung Italia juga sekarang sudah lebih luas. Melebar ke samping. Ada tungku pizza yang cukup atraktif. Spot utamanya tetap di display makanan a la warung dimana pengunjung tinggal memilih apa yang diinginkan, dipanaskan sebentar dan sampailah di meja. Kami mencoba crespelle (Italian crepes) yang enak. Isinya mungkin keju gorgonzola karena rasanya yang manis legit. Selain itu kami mencoba kaki octopus dengan cipratan sedikit pesto, lasagna dan ravioli bayam. Selesai makan kami pun menuju bandara dan pulang ke Jakarta.
Jika tahun depan ikut lagi…
Mudah-mudahan ada keluangan waktu, saya bisa ikut lagi tahun depan. Saya akan:
- Menunggu informasi acara sampai semua tersampaikan dengan baik. Risikonya mungkin harus spend waktu lebih, kehabisan kursi di workshop atau beli ticket pesawat dalam waktu yang lebih pendek.
- Menimbang-nimbang lagi partisipasi sebagai Friends of Festival. Benefitnya biasa aja tuh..
- Pikir-pikir lagi jika mau ikut event (seperti upacara pembukaan). Workshop UWRF bagus-bagus, tapi event-event-nya kurang terkelola dengan baik.
- Menginap di hotel yang ada AC-nya. Walaupun valley breeze Ubud sungguh membuai, cuacanya kok panas dan pengap ya?
Salut buat tim kerja dan relawan Ubud Writers and Readers Festival 2008. Mudah-mudahan jumpa lagi tahun depan.
SELESAI
Mendadak Sastra (4) November 6, 2008
Posted by dadi krismatono in Uncategorized.1 comment so far
Hari ini akan diisi dengan workshop sehari penuh. Judulnya provokatif: “Exploring Your Personal Odyssey” yang dibawakan oleh Paul Sochaczewski (yes, I was struggling with the pronunciation too). Tempatnya di Ananda Cottage. Lagi-lagi soal detail. Karena minimnya penanda, jadilah kami melakukan odyssey ke bagian belakang Ananda melewati sawah, jembatan gantung, sungai. Ketika kami sampai, Paul mengucapkan syukur. Ternyata bukan kami saja yang kesasar.
Paul mulai dengan membacakan satu personal essay yang menarik. Tentang suatu hari PMS seorang perempuan urban di London. Witty dan humanis. Dalam workshop, Paul banyak menggunakan tulisan-tulisan yang sudah ada sebagai contoh. Paul menekankan aspek scenes dalam personal essay karena pembaca butuh merasa, atau memvisualkan suatu lokasi tempat cerita terjadi. Dialog juga penting, terutama karena dalam dialoglah karakter masing-masing tokoh dapat terbangun. Bagaimana tokoh (“aku”, dalam hal ini) bereaksi terhadap “yang lain” (the other). Selain itu, detail, deskripsi dan struktur juga menjadi aspek yang dielaborasi oleh kelas.
Masing-masing peserta diminta menceritakan odyssey dan idea apa yang ingin ditulis. Pada awalnya saya kurang memahami pertanyaan ini sehingga saya tidak menjawab dengan baik. Peristiwa dalam hidup kita adalah sumber cerita, baik yang dramatis maupun yang kesannya remeh namun menyimpan sesuatu yang dalam di baliknya. Kematian, penyakit yang diderita oleh orang dekat, pengalaman mengadopsi anak, tersesat di hutan tanpa peralatan dan makanan, melihat ayah yang sekarat namun tetap terborgol karena sang ayah adalah narapidana, pengalaman hari pertama mengajar seorang guru atau bagaimana seorang Italia mencari pizza yang enak di Bali adalah cerita yang dibawa oleh para peserta.
Kemudian Paul memperkenalkan metode “Zen speed writing”. Intinya kita diminta membiarkan music masuk ke pikiran kita dan “membimbing” kita menulis. Paul mengucapkan satu kalimat pemancing lalu menyetel musik. Klasik, oriental, mellow. Saya mengalami betapa jenis musik yang digunakan mempengaruhi hasil tulisan. Saya suka sekali musik spa bercorak India yang disetel. Yang lucu, bahkan ada saat dimana seolah-olah kita bisa menulis tanpa henti. Begitu saja mengalir degngan intens. Seperti avalanche. Paul dan kelas juga mengelaborasi betapa tulisan yang baik seperti memiliki musik di dalamnya. Ada elegance, progresi, phasing dan variasi panjang pendeknya kalimat.
Workshop diselingi makan siang. Kami berjaln ke halaman HSBC lounge di sebelah Indus. Ada kantin dadakan di sana. Saya mencoba vegetarian burger dengan isi terung dan keju feta. Mmm… sebenarnya sih bisa lebih enak, apalagi kalau segar. Kayaknya udah kelamaan didisplay, jadi masuk angin.
Kembali ke workshop, Paul meminta kelas untuk menulis suatu cerita dengan tiga opening yang berbeda. Opening menggunakan sesuatu yang terjadi, menggunakan dialog dan menggunakan direct statement. Saya sedang mencoba mengumpulkan coretan-coretan saya selama workshop dalam tulisan terpisah. Mudah-mudahan. Di akhir, Paul meminta peserta untuk memilih satu dari tiga opening itu dan menyelesaikannya menjadi sebuah cerita. Masing-masing peserta membacakan di penutup acara.
Selesai workshop kami mengunjungi acara peluncuran buku puisi di Gaya Fusion, Sayan. Ternyata jaraknya lumayan jauh. Saya sempet kebat-kebit juga kok tidak sampai-sampai. Gaya Fusion adalah sebuah gallery dengan tambahan restoran, villa dan spa. Bangunannya bergaya minimalis namun berhasil berdialog dengan lingkungan sekitar yang hijau. Lukisan yang dipamerkan kebanyakan bergaya modern-minimalis. Terus terang tidak semua saya mengerti. Saya akan menyempatkan ngopi sore di sini kalau ada kesempatan ke Ubud lagi. Villanya cantik dan bikin betah.
Buku yang diluncurkan adalah antologi puisi dari Anya Rompas dan Mikael Johani. Kebetulan pemimpin dari penerbit bukut ini, Waraney Rawung, pernah menjadi teman sekantor dan saya menyukai beberapa puisi Ney. Saya belum membaca buku Anya dan Mikael, hanya melihat penampilan mereka di acara itu. Secara umum, puisi-puisi mereka merefleksikan citarasa urban penulisnya. Tentang kota, sinar lampu. Puisi-puisi tersebut juga iconic, artinya menggunakan ikon-ikon sosial atau gaya hidup yang sudah ada. Jadi persepsi yang melekat pada ikon itu akan mempengaruhi pembaca atau sebaliknya, penulisnya ingin menggunakan atau bermain-main dengan pesepsi yang sudah melekat pada ikon tersebut dalam “delivery” puisinya. Ada Starbucks, atau Hermes. Saya masih mencari bagaimana mengapresiasi sebuah puisi yang judulnya sama (atau mengambil?) dari judul sebuah buku.
Perjalanan dari Gaya Fusion menuju Bebek Bengil juga jauh. Suasanya AKAP (antar-kota-antar-propinsi) hehehe… Rumah-rumah mulai jarang, jalanan lengang, sawah membentang, langit berbintang dan aku menerawang. Di Bebek Bali kami menonton perlombaan baca puisi. Menarik melihat begitu banyak ragam pembacaan puisi. Ada yang seperti rap. Ada yang mengalun melodius. Ada yang bergaya striptease (ngelesot di atas meja segala..). Kami ngobrol dengan ibu-ibu Australia yang semeja dengan kami. Salah satu di antaranya sedang menulis disertasi psikologi: Mengapa perempuan Australia begitu mencintai Bali.
BERSAMBUNG
Mendadak Sastra (3) November 4, 2008
Posted by dadi krismatono in Uncategorized.add a comment
Catatan dari Ubud Writers and Readers Festival 2008
Hari ketiga, workshopnya pagi. Selesai sarapan telur dadar yang rasanya agak aneh karena dicampur bawang putih dan sawi putih berangkatlah kami. O ya, kebetulan sudah dua hari ini workshop kami bertempat di Taman Indrakila, Jl. Sanggingan. Kayaknya, kalau tidak dipakai sebagi kelas, ruang terbuka yang menghadap ke lembah ini dijadikan coffee shop. Desir anginnya nikmat sekali.
Hari ini kami akan belajar “Dramatic Ideas” dari Tee O’Neill. Dia adalah penulis lakon drama di New York University. Orangnya sangat menyenangkan. Semuanya ringan dan mengalir. Seperti fasilitator sebelumnya, pada awal sesi Tee bertanya buku apa yang paling memberi inspirasi dan bahkan kita baca lagi untuk ke sekian kali. Kali ini saya memilih puisi, khususnya soneta, dari Pablo Neruda. (Bukan, bukan Rhoma Irama). Pablo Neruda adalah pujangga Chile yang pernah tinggal di Batavia tahun 1930-an. Puisinya penuh berisi peryaan hidup. Hal-hal yang tampak sepele dan remeh-temeh dirayakan dengan penuh keagungan. Siapa sih yang mau bikin puji-pujian dalam bentuk ode kepada ikan asin, tomat atau wine? Selain pujangga, Neruda adalah politisi sosialis dan kolaborator Presiden Allende. Ketika Pinochet melakukan kudeta, Neruda terpaksa bersembunyi dan melarikan diri hingga ke Argentina. Neruda meninggal di Chile tahun 1973 dan walaupun rejim Pinochet melarang pemakaman Neruda menjadi keramaian publik, ribuan warga Chile turun ke jalan untuk menyatakan belasungkawa dan menyatakan protes untuk pertama kalinya terhadap rejim otoriter. Neruda dianugerahi Hadiah Nobel bidang sastra tahun 1971.
Setelah itu Tee bertanya tentang nama kita dan kira-kira apa arti atau inspirasi di baliknya. Mmm… Nenek saya pernah bercerita bahwa kakek sayalah yang memberi nama. Beliau seorang penulis dan produser siaran radio untuk RRI sejak masa pendirian, kemerdekaan hingga akhir hayatnya. Katanya nama saya berasal dari tiga kata: dadi, keris dan maton. Dadi = jadi, keris = senjata tradisional di Jawa dan beberapa daerah nusantara, dan maton adalah adalah ekspresi kualitas sebuah keris. Maton kira-kira artinya wajar, proporsional; tidak terlalu grandioso tapi juga bukan remeh.
Setelah itu kami mulai masuk ke materi dramatic ideas. Tee memadukan berbagai teknik teater dan meditasi untuk memicu ide dan mengalirnya tulisan. Ada gerakan tangan yang dipercaya mengaktifkan otak kanan maupun otak kiri, gerakan yang diambil dari yoga untuk mengalirkan darah ke otak hingga teknik meditasi dan menggunakan kenangan kita untuk memunculkan ide dramatis untuk menulis.
Tee meminta peserta memilih satu peristiwa terindah dan satu peristiwa terburuk yang mempengaruhi hidup kita. Lalu kami menuliskannya. Yang menarik, Tee kemudian meminta kami untuk menulis seperti apa hidup kita sendainya peristiwa-peristiwa itu tidak terjadi. Nampaknya sederhana tapi saya merasakan penjelajahan batin yang luar biasa. Bagiamana ya seandainya peristiwa itu tidak terjadi? Would I be a better person?
Tee menggunakan ketakutan (fear) sebagi sumber ide. Kelas sepakat untuk membagi dua kategori: public fear dan personal fear. Public fear mulai dari kemiskinan, terorisme, wabah penyakit dll, semntara personal fear yang paling sering disebut adalah menjalani hidup yang tak bermakna (living a meaningless life). Ya, tentu. Lalu kami diminta untuk membuat tulisan dari ide-ide tersebut, lebih baik lagi jika tulisan itu merupakan pertautan dari dua ketakutan tadi. Saya membuat coretan tentang seorang pialang Wall Street yang tengah terpekur sambil menonton YouTube berisi orasi penuh kemarahan seorang anggota Al Qaeda.
Cara lain yang digunakan Tee adalah dengan menggunakan foto. Kami diminta berkeliling dan memilih salah satu foto dan membuat cerita tokoh yang ada di foto itu. Saya memilih foto seorang lelaki tua dengan jas dan dasi yang kelihatan mahal. Wajahnya tampak letih. Saya membuat sketsa tentang seorang boss mafia yang marah karena anak perempuannya dibunuh seminggu sebelum pesta pernikahan sang anak. Dalam bagian ini Tee mengenalkan teknik “dislocator” dimana ada kata-kata atau statement yang digunakan ketika kita mentok atau jika dengan sengaja kata itu digunakan, dia menjadi titik belok cerita ke arah yang tak terduga. Tee berhasil membuat workshop yang dalam dan berat ini mengalir lancar, terutama karena ia tidak pernah memaksakan gagasannya.
Selesai workshop kami pun menyusun jadwal: ke Pasar Ubud, makan siang dan kembali ke hotel untuk bersiap-siap karena nanti sore diajak Pak Bondan Winarno jalan-jalan sore dan makan malam.
Walau bagian depannya sarat penjual kerjainan, lukisan atau cinderamata lainnya saya mengira masih ada bagian dari Pasar Ubud yang merupakan “pasar becek” tempat warga sekitar berbelanja kebutuhan dapur. Tapi ternyata Pasar Ubud sudah sepenuhnya menjadi pasar barang kerjainan, persis seperti Pasar Sukowati. Mungkin pasar yang saya ada di bagian lain dari Ubud tapi karena panas yang mendera saya hentikan keinginan untuk mblusuk-mblusuk pasar siang itu.
Makan siang di Biah-biah yang cantik di Jl. Goutama. Ciri khas warung ini adalah keberaniannya mencampur bahan-bahan dalam hidangan dan penyajian dalam ukuran kecil dan cantik. Saya mencoba lawar yang dicampur dengan kocokan telur, pepes tuna yang cakep, plecing kangkung dan ayam yang dimasak pedas. Masing-masing hidangan diletakkan dalam wadah yang dibuat dari daun pisang. Empat macam dengan ukuran yang pas untuk dua orang.
Jam empat sore kami berkumpul di depan Warung Ibu Oka. Sudah ada Pak Bondan dan Bu Yvonne, Yohan Handoyo dan Lidia Tanod. Tujuan: sunsest di Pantai Padang-Padang dan dinner di Jimbaran. Lengkap. Ide dan susunan cara dari Pak Bondan. Kami tinggal ikut (Terima kasih ya, Pak).
Pantai Padang-Padang terletak di daerah Pecatu. Dari GWK itu teruuss aja (maaf tidak menolong ya keterangannya). Bahkan pak supir yang membawa kita sempat kelewatan sedikit. Pantai ini lebih tepat disebut ceruk yang sangat indah. Amazing! Untuk masuk ke kawasan pantainya, kita harus melewati tangga yang terletak di bawah dua bungkah batu karang yang besar. Seperti melewati lorong gua yang sempit dan ..byar!.. berujung pada pemandangan spektakuler di ujung sana. Pantai yang landai, pasir yang bersih, air yang jernih dan karang yang memperkuat dramatisasi pemandangan. Di salah satu bukit karang yang menemboki pantai ini ada villa mewah yang rada-rada out of place dari suasana alam sekitarnya. Kebetulan ada seorang pemusik yang memainkan alat seperti wajan melengkapi suasana. Katanya tempat ini sering dibuat rave party, tapi saya lebih suka suasana sore yang tenang dan laid-back seperti ini.
Lidia sempat membeli kue tradisional “lak-lak” dari penjual di tempat parkir. Bentuknya seperi kue kelepon yg dicabik-cabik tapi gula cair merahnya dituang seperti dressing, ditambah taburan parutan kelapa. Ada aroma gosong yang mirip kue carabikang di Pekalongan.
Makan malam di “Manega”, Jimbaran. Bertemu dengan Grace, Benny dan teman-teman lainnya. Pak BW memilihkan udang galah yang ternyata adalah udang sungai. Wah.. rasanya manis dan teksturnya lebih ciamik dari rock lobster yang banyak ditawarkan. Pas dengan bumbu dan gosongan gaya Jimbaran.
Puas makan kami pun pulang ke Ubud. Sepanjang jalan mendengarkan cerita-cerita Pak Bondan yang jenaka dan memperkaya batin.
BERSAMBUNG







