jump to navigation

Teknokrat Penggebrak, Pengawal Ekonomi Orde Baru Juli 26, 2013

Posted by Dadi Krismatono in Buku.
Tags: , , ,
1 comment so far

JBSumarlinCOVER

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Judul:  J.B. Sumarlin: Cabe Rawit yang Lahir di Sawah

Penulis: Bondan Winarno

Penerbit: Penerbit Buku Kompas

Terbit: Januari, 2013 (ISBN: 978-979-709-681-6)

Halaman: 346 (termasuk Indeks) + xiii

 

Johannes Baptista (J.B.) Sumarlin adalah salah satu pilar penyangga Orde Baru. Berawal dari karyawan yang kuliah sore, Sumarlin menapaki karir akademis di Universitas Indonesia hingga ke jenjang tertingginya sebagai guru besar. Bersama sejumlah dosen UI yang kuliah di California atas biaya Ford Foundation pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an, ia ditabalkan sebagai “mafia Berkeley”. Cukup berani menyenggol isu sensitif “Trio Kristen” di seputar Pak Harto, sayang buku ini tak mengelaborasi kontestasi politik teknokrat vs. teknolog pada era 1990-an.   

Buku ini dibuka dengan paparan setting yang cermat namun tetap enak dibaca. Sumarlin lahir dengan nama Katoebin, singkatan akad-akad metu ning sabin yang artinya hari Ahad lahir di sawah. Katoebin bayi tak sabar mbrojol ketika ibunya masih bekerja di sawah. Karena sakit-sakitan, kakeknya yang kejawen mengubah namanya menjadi Sumarlin. Mengapa Sumarlin? Karena kakak lelakinya bernama Soemarlan.

Persitwa Sumarlin memeluk iman Katolik digambarkan dengan jernih. Selama sembilan tahun Sumarlin tinggal bersama pamannya yang Katolik. Dalam budaya Jawa, ikut pada kerabat yang lebih mapan secara ekonomi disebut ngenger. Namun keadaan itu tidak membuatnya tertarik pada agama tersebut. Baru ketika di Jogjakarta, ketika Sumarlin ikut bergerilya bersama Tentara Pelajar dan mengalami beberapa kali “penyelamatan”, barulah ia merenungi jalan hidup yang membawanya pada kemantapan untuk dipermandikan dan menerima nama baptis Johannes Baptista.

Buku ini ditulis oleh Bondan Winarno, wartawan kawakan yang kini, dalam bahasanya sendiri, tersesat di jalan kuliner. Kedekatan Bondan dengan Sumarlin diawali pada persiapan partisipasi Indonesia di Expo 1986 di Vancouver, BC, Canada. Lewat buku ini pula kita bisa tahu bahwa perjalanan perahu tradisional Phinisi Nusantara yang mengharu-biru bangsa waktu itu, adalah sebuah public relations stunt yang dengan ciamik dirancang oleh keduanya.

Gaya jurnalisme dan pilihan kata Bondan yang efektif menghindarkan buku ini menjadi buku biografi “motivasi” dan “inspirasi” yang kini membanjiri pasar. Bahkan buku ini berhasil mengajak pembacanya melihat kembali kebijakan Orde Baru—seperti devaluasi, dibubarkannya IGGI hingga deregulasi sektor perbankan—serta jalin-kelindan masalah di balik kebijakan itu.

 

Teknokrat vs. Teknolog?

Hidup Sumarlin memang diabdikan untuk Indonesia. Dalam konteks yang lebih sempit, untuk berjalannya kebijakan Orde Baru. Sejak meneteskan air mata ketika diminta Presiden Soeharto menjadi menteri pendayagunaan aparatur negara pada Maret 1973, namanya identik dengan “gebrakan” kebijakan yang berani mengguncang status quo. Sumarlin bahkan berani mengusik Ibnu Soetowo yang waktu itu dianggap setengah dewa karena kedekatannya dengan Pak Harto.

Walau cukup berani menyentil isu sensitif, seperti sinyalemen “Trio Kristen” di sekeliling Pak Harto, namun buku ini tidak membahas pergesekan dan kontestasi politik teknokrat vs teknolog yang mewarnai politik 1990-an. Hanya ada satu pernyataan, yaitu ketika Sumarlin tidak diangkat sebagai menteri koordinator ekonomi, keuangan dan industri (menko ekuin) setelah menjabat sebagai menteri keuangan saat penyusunan Kabinet Pembangunan V pada Maret 1993. Keterputusan ini tidak lazim karena paling tidak telah tiga kali berturut-turut, menteri keuangan selalu dipromosi menjadi menko ekuin, yaitu Widjojo Nitisastro, Ali Wadrhana dan Radius Prawiro. Sumarlin menyatakan bahwa Pak Harto sudah berubah dan berbagai tekanan politis dari kubu tertentu ikut mempengaruhi perubahan sikap dan cara berpikir Pak Harto.

Jika saja Sumarlin, atau Bondan, mau dan berani mengelaborasi perang politik teknokrat vs. teknolog pada waktu itu, pembaca akan mendapat pengayaan perspektif dalam melihat sepenggal sejarah Indonesia. Sebagai murid Widjojo, Sumarlin perlu menjawab tantangan yang diajukan kepada “Widjojonomics” oleh para pendukung “Habibenomics”. Bukan untuk menjadikan buku ini sebagai ajang vendetta, namun catatan berimbang akan bermanfaat bagi generasi berikutnya untuk mengkaji pilihan-pilihan paradigma dan kebijakan ekonomi yang pernah diambil bangsa ini.

* * *

Pembahasan beberapa kasus bisnis, seperti Bank Summa, Golden Key Group yang memopulerkan Edy Tansil, hingga Bank Bali, sangat membantu pembaca dalam memahami perjalanan kebijakan Orde Baru. Ada satu ketidakakuratan yang menggangu mengenai Bank Bali. Dalam buku ini disebutkan bahwa bersama sembilan bank rekapitalisasi lainnya, Bank Bali digabung menjadi Bank Danamon (h. 312). Yang benar, Bank Bali bersama empat bank lainnya melakukan merger dan kemudian berubah nama menjadi Bank Permata.

Dengan jumlah halaman yang relatif ringkas untuk sebuah biografi, buku ini cukup komprehensif menggambarkan perjalanan seorang Sumarlin.

Penutup buku ini terasa agak berbunga-bunga namun menjadi wajar karena buku yang semula ditulis tanpa tenggat ini akhirnya dijadikan hadiah ulang tahun Sumarlin ke-80. Selain sebagai biografi yang jernih, buku ini juga dapat digunakan untuk menilik kembali konteks dari berbagai pilihan kebijakan Orde Baru. Diskusi di kelas sejarah ekonomi Indonesia, misalnya, dapat menjadi lebih bernas dengan merujuk buku ini.

Tipis-tipis 1.157 Halaman Juni 3, 2013

Posted by Dadi Krismatono in Buku.
Tags: , , , , ,
add a comment

1q84cover

Saya bukan penggemar berat Haruki Murkami. Saya baru membaca satu novelnya sebelumnya, yaitu Norwegian Wood. Itu pun terjemahan Indonesia dari  Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).

Yang berkesan dari saya adalah efek dramatis yang tipis-tipis. Tidak menyentak, tak bikin terhenyak. Semua tipis-tipis saja. Ya, tetap saja sekali dua kali ada rasa merinding memjalari tulang belakang. Khas Murakami. Dalam beberapa bagian, tak terhindarkan saya mendapat kesan yang sama antara Norwegian Wood dan Shanghai Baby karya Wei Hui.

Kebetulan novel 1Q84 ini cukup tebal. Dalam beberapa versi dicetak terpisah dalam tiga buku yang dijadikan satu dalam kotak plastik. Cukup ciamik. Namun, karena saya khawatir saya “menyerah” membaca, saya putuskan untuk membeli yang edisi satu buku, 1.157 halaman.

Dari segi jumlah halaman, ini rekor ketebalan buku yang pernah saya baca. Sebelumnya saya cukup bangga menamatkan autobiografi Bill Clinton “My Life” setebal 1.008 halaman.

Untuk apa membahas jumlah halaman? Haha.. Terus terang saya kurang tahu. Mungkin untuk sedikit berbangga diri. Di tengah kesibukan dan terbuangnya waktu di jalan-jalan ibukota, saya masih bisa mencuri kesempatan untuk membaca.

Saya ingat nikmatnya membaca “Para Priyayi” karangan Umar Kayam berkali-kali sambil menunggu pengumuman UMPTN tahun 1992. Ya. Begitu saja. Karena waktu itu tidak ada hal lain yang dikerjakan. Saya juga ingat waktu jaman mahasiswa, terbius masuk ke alam “Arus Balik” karya Pramoedya Ananta Toer, sampai tidak keluar kamar kos dan hanya jeda sejenak ketika lapar menghampiri.

Kembali ke novel 1Q84. Novel ini merupakan parodi terhadap novel George Orwell berjudul “1984″. Dalam novel yang ditulis pada 1949 itu, Orwell meramalkan distopia situasi dunia tahun 1984. Berbeda dengan utopia yang menggambarkan situasi yang diimpikan, distopia mengambarkan situasi mengerikan di masa depan.

Murakami melakukannya terbalik. Novel berlatar tahun 1984 ini ditulisnya tahun 2009-2010. Saya sempat merasa janggal, menemukan kembali pentingnya telepon umum, dan menelepon ke kantor diterima oleh operator lalu mendapat jawaban orang yang dicari tidak ada. Sesuatu yang mungkin sudah mulai dilupakan oleh orang sekarang yang terikat oleh telepon genggam kemana-mana.

Murakami menggambarkan 1Q84 sebagai dunia parallel dari 1984. Sebuah dunia yang dimasuki oleh tokoh-tokohnya. Pembabakannya menarik. Sampai buku kedua, setiap bab merupakan cara pandang dunia salah satu dari dua tokoh utama buku ini. Baru pada buku ketiga, ia memasukkan tokoh lain yang menjadi judul bab. Pada buku ketiga ini pula, terasa kedua belah pihak sudah sama-sama lelah—baik penulis maupun pembaca. Salah satunya, dengan masuknya tokoh ketiga. Murakami tak mampu untuk mempertahankan bab hanya dengan salah satu dari dua tokoh utama yang tadi disebut.

Detail tokoh yang sangat teliti merupakan daya tarik tersendiri. Walaupun, itu tadi, di buku ketiga, detail tokoh jadi terasa berlarat-larat ketika dramaturgi tak juga naik. Masih tipis-tipis saja. Ada satu tokoh yang sampai akhir kita tak tahu namanya. Hanya disebut “janda kaya”, tapi kita bisa merasa begitu dekat dengannya.

Alur drama yang tipis-tipi itu pula yang membuat saya diperlakukan tidak “fair” dengan ending yang dipilih Murakami. Ada kesan tidak menghargai pembaca yang sudah susah payah meniti cerita dari halaman satu sampai ke halaman seribu sekian itu. Tapi itulah interaksi antara penulis dengan pembacanya. Kita tidak bisa protes karena kita sudah memilih membuka halaman pertama dan melanjutkannya dengan halaman-halaman berikutnya. Penulis juga tidak bisa protes ketika pembaca memaki atau sekedar membatin terhadap karya tulisnya.

Bagaimanapun, saya masih ingin membaca karya Murakami yang lain.

Judul: 1Q84

Penulis: Haruki Murakami

Halaman: 1.157 hal

Penerjemah ke bahasa Inggris: Jay Rubin & Philip Gabriel

Penerbit (edisi bahasa Inggris): Vintage, New York, 2012

Cikal Bakal Profesi PR Mei 8, 2013

Posted by Dadi Krismatono in Buku, PR.
Tags: , ,
add a comment

Bernays-CristalJudul: Crystallizing Public Opinion

Penulis Edward Bernays (1923)

Mungkin banyak praktisi PR yang belum tahu, siapa sebenarnya Bapak PR dunia? Jawabnya: penulis buku ini. Edward Bernays adalah orang yang berjasa memberi nama dan merumuskan profesi dan pekerjaan “public relations” di awal-awal abad ke-20.

Dalam buku ini, Bernays mengambil tak kurang dari 40% ruang untuk menjelaskan apa dan bagaimana profesi baru bernama “public relations counsel” itu bekerja. Bernays mengajak publik beranjak dari profesi press agent, publicity man atau bahkan propagandist.

Menurut Bernays, tugas utama seorang PR counsel mirip penerjemah dalam sebuah pertemuan bilateral. PR counsel menginterpretasikan klien kepada publik, yang bisa ia lakukan karena ia mampu mengiterpretasikan publik kepada klien.  Yang paling penting diberikan kepada klien adalah saran (advice) untuk meningkatkan penampilan kliennya di hadapan publik. Tidak hanya tentang apa yang harus dikatakan kliennya, PR counsel juga menyarnkan medium apa yang dapat digunakan bagi klien untuk menyampaikan pemikirannya.

Konsep dasar ini belakangan muncul lagi dalam perkembangan industri PR. Kebutuhan akan “engagement” dan dialog yang jujur dengan stakeholder kembali mengemuka, setelah sekian dekade digulung oleh dominasi strategi pencitraan, spinning dan astroturfing.

Buku ini sudah berusia 90 tahun. Waktu itu belum ada social media, konglomerasi media atau teknologi seperti yang kita saksikan sekarang. Beberapa penjelasan Bernays akan terasa jadul dan obsolete. Namaun, beberapa disiplin, terutama dalam memahami publik melalui kajian psikologi sosial dan sosiologi yang menjadi kekuatan Bernays, adalah mata uang yang tak mengenal musim.

220px-Edward_BernaysBernays memiliki posisi love and hate yang unik. Dia adalah kemenakan Sigmund Freud. Banyak orang curiga Bernays mengaplikasi psikoanalisis dalam strategi PR. Dalam buku ini, Bernays juga membahas mentalitas “gerombolan ternak” (herd mentality) yang dipinjamnya dari kajian psikologi kerumunan (crowd psychology) dari Gustave Le Bon dan Wilfred Trotter. Mungkin karena terinspirasi oleh ternak inilah kita mengenal istilah “menggiring opini publik”.

Salah satu kritik terkini terhadap Bernays disampaikan Jonas Sach dalam buku Winning the Story Wars (2012). Sach bahkan mengilustrasikan Bernays sebagai penyihir yang memainkan “dark arts of marketing” yang bertumpu pada manipulasi kesadaran. Salah satu terobosan Bernays yang kerap dibahas antara benci dan cinta adalah kampanye Torch of Freedom yang mepromosikan rokok pada perempuan. Bernays menunggangi semangat women’s lib dan menjadikan rokok sebagai simbol emansipasi dan kesetaraan dengan laki-laki. Puncaknya, Bernays meyewa sejumlah perempuan untuk menyalakan “obor kebebasan” dalam parade Easter Sunday tahun 1929, yang sukses menjadi headline media dan berhasil menyebarkan kebiasaan merokok di kalangan perempuan Amerika.

Buku ini perlu dibaca oleh mahasiswa dan praktisi PR untuk menyelami kembali “semangat jaman” ketika profesi ini terbentuk. PR bukan lagi dimaknai pesta-pesta atau main pelintir di media. PR harus kembali menjadi penerjemah dialog  yang terbuka antara organisasi atau individu dengan khalayaknya.

Membaca Dunia Obama Maret 11, 2013

Posted by Dadi Krismatono in Buku.
Tags: , , , ,
add a comment

(Ini adalah resensi saya yang dimuat di Media Indonesia, Minggu, 10 Maret 2013).

MediaObamaMIDRES3

Figur Presiden AS ini seperti tak habis untuk dikupas. Dia memang agak berbeda dari para pendahulunya dalam menangani berbagai permasalahan dunia di tengah-tengah kekhawatiran kemerosotan Amerika.

Dunia berubah cepat. Ada yang memprediksi kepemimpinan global Amerika Serikat (AS), jika tidak dikelola dengan baik, akan berpindah tangan. Jika ramalan itu benar, posisi AS baik secara politik maupun ekonomi akan terancam.

Ditengah-tengah dinamisasi dunia yang serbacapat itu, rakyat AS telah menentukan pilihan kepemimpinan negara kepada Barack Hussein Obama untuk melanjutkan periode jabatan kedua, setelah melewati kampanye yang sengit dan perebutan suara yang ketat.

Pemilihan presiden AS yang baru lalu merupakan ujian besar bagi narasi besar bernama ‘Impian Amerika’. Benarkan posisi Obama sebagai orang nomor satu di AS saat ini sudah ditekadkan sejak lama?

Inilah sebuah buku yang mencoba membedah sisi kepemimpinan Obama. Meski terbit pada awal 2012, urgensi buku ini masih sangat terasa mengingat AS saat ini memang sedang menghadapi masa-masa sulit, sekaligus sebagai ujian bagi komitmen Obama mewujudkan American dream tadi.

Waktu buku ini dicetak pertama kali, tak sedikit suara menuduh sebagai kampanye terselubung, paling tidak ekspresi dukungan David Maraniss—penulis—kepada Obama.

Sebelumnya Maraniss menulis biografi Bill Clinton yang mengundang banyak pujian. Kali ini, dua datang dengan sebuah biografi generasional yang ambisius, merentang jauh ke masa sebelum Obama lahir dengan tekad menjelaskan dunia macam apa yang menciptakan Obama seperti dirinya yang sekarang.

‘Impian Amerika’ adalah narasi yang selalu hidup dalam imajinasi sosiologis  Amerika sebagai ‘bangsa’. Pada 2008, Obama berhasil mentransformasi dirinya menjadi contoh hidup impian Amerika. Lewat Obama, Amerika sebagai tanah harapan, tempat keberhasilan dapat dicapai oleh siapa saja yang bekerja keras, mewujud nyata.

Pada Obama, keyakinan bahwa “semua orang dicpitakan sama” seperti tercantum dalam Deklarasi Kemerdekaan menjadi bernyawa. Sebab, dialah presiden pertama AS yang berkulit hitam.

Dalam konteks sosio-politik itulah buku ini hadir. Penulisnyayang juga redaktur The Washington Post dan anggota Society of American Historians mencoba menelisik sisi-sisi Obama secara objektif dibalut semangat ‘impian Amerika’ itu.

Dalam buku ini Maraniss mencoba berjarak dengan fenomena Obama hari ini dan memilih untuk menjelaskan faktor-faktor ruang dan waktu yang menciptakan Obama, jauh sebelum presiden AS keturunan salas satu suku di Kenya, Afrika, itu lahir.

Maraniss melukis di kanvas besar suatu galaksi kaotis, betapa hidup ialah jalin-kelindan sejumlah insiden, kesempatan dan kegigihan tekad. Maraniss berusaha keras menemukan dan mengurai, dalam beberapa kesempatan membuktikan serta menjustifikasi, keterhubungan orang, peristiwa dan situasi dengan perjalanan hidup dan cara Obama menyikapi dunianya.

Cerita dan Justifikasi

Buku ini menyajikan keluasan riset yang mengagumkan. Maraniss mencari pertautan peristiwa sejak 1920-an, baik dari sisi Amerika maupun sisi Afrika pendahulu Obama.

Pada bagian awal, bab mengenai Amerika dan Afrika silih berganti menjelaskan berbagai situasi lokal dan dunia yang—menurut penulisnya—dapat menjadi penjelas dari peristiwa atau pemikiran yang muncul berikutnya. Tidak dapat dipungkiri pada beberapa bagian Maraniss berusaha keras menggali unsur naratif dan membangun drama dari kehidupan keseharian Obama.

Pilihan Maraniss untuk berpanjang-panjang menceritakan kisah cinta muram antara Obama dan Genevieve Cook yang berjalan seiring dengan kegelisahan pencarian jati diri Obama menyeret alur buku ini menjadi limbung.

Berbeda dengan bagian pasca-Perang Dunia II yang dituturkan Maraniss dengan cekatan. Buku ini berakhir ketika Obama akan berangkat ke Harvard tanpa penjelasan mengapa Maraniss mengakhirinya sampai di situ.

Pada episode kehidupan di New York, Maraniss berhasil menggali fakta baru. Dalam suatu obrolan dengan temannya, Obama pernah mencetuskan pertanyaan, “Apakah aku bisa menjadi presiden AS?”

Mir Mahboob Mahmood dari Pakistan ingat betul peristiwa tersebut. Kala itu Mahmood menjawab, “Ketika Amerika siap menerima presiden berkulit hitam, kau pasti bisa.”

Episode Indonesia

Bagi pembaca Indonesia, penggal kehidupan Obama di Indonesia selalu menggelitik. Maraniss dibantu oleh jurnalis dan biografer Fenty Effendy dalam melakukan riset berhasil menggali beberapa nukilan cerita baru. Misalnya, tentang kisah Obama ketika bersekolah di SD Fransiskus Asisi, Tebet, yang selama ini seolah tenggelam dibanding cerita tentang Obama bersekolah di SD Menteng.

Penggalian tentang kiprah Ann Dunham selama di Indonesia memperkaya buku ini. Pergulatannya dengan status sebagai ekspat dan ‘bule’ digambarkan secara menggelitik justru berhasil menggambarkan situasi Indonesia waktu itu.

Maraniss membuka salah satu bab tentang Indonesia dengan nukilan puisi Amir Hamzah. Inspirasi ini didapatnya ketika mendatangi rumah Obama dan menemukan ada Taman Amir Hamzah yang sebelumnya adalah tanah lapang tempat Obama bermain.

Buku Barack Obama: The Story bisa menjadi bahan diskusi tentang kehidupan privat dan publik. Kapankah hidup privat seseorang, sekalipun itu seorang presiden, dapat ditulis sebagai sejarah publik? Dalam buku ini Maraniss juga  memverifikasi memoar Dreams from My Father yang mengantar kita pada pertanyaan berikutnya, apakah memoar bisa diverifikasi?

Memoar adalah cara seseorang mengingat hidupnya sendiri. Berbeda dengan otobiografi yang berakar pada fakta sejarah, memoar memberi bingkai subyektif dengan cara membatasi dan menentukan apa yang dimasukkan dalam narasi.

Terlepas dari ketepatan metodologisnya, langkah Maraniss memperbincangkan memoar Obama menegaskan bahwa sejarah bukan milik seseorang. Sejarah ada dan hidup karena kita membicarakannya. Sehingga, penulisan sejarah dapat mencapai tujuannya, yaitu agar kita memahami diri lebih baik lagi.

Judul : Barack Obama: The Story

Penulis : David Maraniss

Penerbit : Simon & Schuster (New York), 2012

Halaman : 641 (termasuk indeks) + xxiii

BarackObamaCover

 

Baby OPEK Trip Februari 11, 2013

Posted by Dadi Krismatono in Kuliner, Perjalanan.
Tags: , , , , , , , , ,
add a comment

Orang Pekalongan kerap menyebut dirinya OPEK (Orang Pekalongan). Mantan menteri koperasi dan tokoh LSM Adi Sasono adalah salah satu tokoh yang memopulerkan istilah ini. Nah, untuk mengantarkan bayi kami ke salah satu tanah asalnya, dan untuk mengintrodusir budaya OPEK, berangkatlah kami bertiga ke Pekalongan pada November lalu.

Karena Neru (waktu itu) baru berusia 9 bulan, kami membuat rute yang agak “melambung” untuk menghemat waktu. Jakarta – Semarang (via pesawat terbang) – Pekalongan (via darat/rental mobil), demikian juga sebaliknya. Alhamdulillah, pada 8 November 2012, baby Neru punya boarding pass-nya yang pertama.

Membaca dari berbagai sumber, salah satunya tulisan awal kolom Jalansutra Pak Bondan Winarno di KCM berjudul “Bayi Terbang”, kami mempersenjatai diri untuk memastikan penerbangan yang nyaman untuk Neru. Ear plug sudah terpasang, susu ASI di botol sudah siap. Eh, benar rupanya pendapat yang bilang bahwa Bandara Soekarno Hatta sudah waktunya dikembangkan. Karena terlalu lama mengantri runaway untuk lepas landas, susu sudah habis dan Neru kegerahan, jadilah seklumit drama Neru rewel. Untung tidak lama. Ketika pesawat sudah mencapai ketinggian tertentu dan pendingin udara dinyalakan normal, sang bayi tertidur pulas.

Sampai di Semarang kami dijemput oleh Toyota Rent A Car. Pelayanannya efektif. Reservasi lewat telepon yang jelas dan transparan. Ada petugas yang membawa kertas bertuliskan nama saya, kami menghampiri, bayar di counter mereka, dan sebuah mobil sesuai pesanan dalam kondisi mulus dan bersih tersedia.

Jalur darat Semarang – Pekalongan ternyata memberi blessing in disguise. Sejak awal, Nara—istri saya—sudah mengancam agar kami mampir ke Ayam Goreng Bu Bengat di daerah Gringsing, Batang. Kata Nara, ayam goreng inilah landmark kenangan masa kecilnya. Setiap acara plesiran keluarga, ayam goreng ini adalah itinerary tak terlewatkan.

Ayam Goreng Bu Bengat ada di jalan raya Gringsing (diucapkan Nggringsing oleh orang Jawa) di sebelah kiri jalan jika dari Semarang. Sudah ada sejak 1952. Ayam kampung yang digoreng dengan kayu bakar. Bumbu ungkepnya sederhana,  meresap baik dan diklaim tak menggunakan penyedap. Saya kira, panas “api tua” dari kayu bakarlah yang membuat kualitas gorengannya cantik dan singset.

Yang unik adalah sayur asemnya yang menggunakan daun seledri sehingga rasanya berbelok tidak seperti sayur asem biasanya. Nara menghitung-hitung, ternyata ia terakhir ke sini 18 tahun yang lalu dan menurutnya rasanya tidak berubah. Yang berubah bangunannya. Dulu rumah papan dengan latar belakang rumpun babmbu. Sekarang sudah jadi rumah permanen yang cukup untuk kira-kira 100 orang. Yang juga berubah, “saiki ono baliho sing keno nggo tarweh.”

Hehe… itulah OPEK. Penuh guyonan. Arti bahasa Indonesianya: sekarang ada baliho yang bisa dipakai tarawih berjamaah. Maksudnya, balihonya gede cetar membahana!

Menjelang sore kami sampai di Krapyak, Pekalongan. Arus lalu lintas sempat dialihkan di beberapa ruas sisa-sia perayaan ulang Ma’had Islam, lembaga pendidikan Islam yang sedang memperingati ulang tahunnya yang ke-70. Ma’had adalah lembaga pendidikan yang lebih tua dari negara Republik Indonesia. Dibentuk pada 8 November 1942 oleh Abdullah bin Hamid Al-Hinduan yang banyak membawa pembaruan dalam pendidikan Islam. Hingga kini, Ma’had Islam tetap menjadi salah satu center of excellence pendidikan di Pekalongan.

Malam pertama di Pekalongan kami lewatkan dengan menyantap gule kambing kacang ijo “Mak Yeh” di Krapyak. Unik, karena kuah gulenya tidak menggunakan santan. Gule balungan (potongan tulang), sumsum dan kacang ijo. Semula saya khawatir akan “eneg.” Gule, kok, pakai kacang ijo? Ternyata malah di situ rahasianya.

Gule Sumsum Kacang Ijo khas Krapyak, Pekalongan

Gule Sumsum Kacang Ijo khas Krapyak, Pekalongan

“Body” kuah gule Mak Yeh (nick name dari Mas Sholeh) didapat dari kacang ijo dan serundeng. Kekhawatiran “eneg” saya muncul karena selama ini saya hanya tahu kacang ijo dimakan sebagai burjo yang manis. Padahal, manisnya burjo disebabkan oleh santan dan gula jawa. Sejatinya, kacang ijo tidak manis, lebih ke arah gurih dengan nuansa “nutty” samar-samar. Hmm… boleh dong tambah sepiring lagi…

Krapyak adalah bagian pesisir Pekalongan. Jalan utamanya bernama Jl. Jlamprang yang juga nama satu motif batik khas Pekalongan yang dipengaruhi oleh pola geometris India.

Untuk makan siang kami menyambangi RM Puas di Jl. Surabaya. Rumah makan ini adalah pemata kuliner kampung Arab kota ini. Saya memesan nasi tomat dan sate kambing. Berbeda dengan nasi kebuli yang cenderung kering, nasi tomat masih menyimpan kepulenan beras. Dalam kuliner Arab-Indonesia, acar nanas memegang peranan penting. Acar nanas bukan sekedar menjadi kondimen, tapi determinan kelengkapan cita rasa.

Nasi Tomat, lebih pulen dari Nasi kebuli. Jangan lupa acar nanas.

Nasi Tomat, lebih pulen dari Nasi kebuli. Jangan lupa acar nanas.

 

 

 

 

 

 

Di depan RM Puas dengan suasana arsitektural Kampung Arab

Di depan RM Puas dengan suasana arsitektural Kampung Arab

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sambil mengunjungi kerabat, saya mampir di es dawet ketan di Podo, Kedungwuni. Kedungwuni adalah kecamatan di Pekalongan yang terkenal dengan batik peranakan Cina. Melihat suasananya yang hangat, rasanya warung dawet ini tidak kalah hitsnya dengan, misalnya, Portico di Jakarta. Inilah tempat “to see and to be seen.” Ada pegawai pulang kerja, keluarga, ABG, menikmati suasana sore sambil menyeruput dawet segar.

Ternyata di Pekalongan juga ada gudeg yang dijual pagi untuk sarapan. Yang saya datangi ada di daerah Pecinan. Saya menyebutnya gudeg “galau,” karena tidak tegas menentukan jati diri apakah dia gudeg atau nasi dengan sayur jipang. Memang begitu adanya. Gudeg Pekalongan cenderung gurih, tidak manis dan ambyur karena kuah sayur. Selain nangka, ada sayur jipang (labu siam) yang menemani.

Gudeg "galau" yang ambyur a la Pekalongan.

Gudeg “galau” yang ambyur a la Pekalongan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ikon kuliner Pekalongan adalah megono, cacahan nangka dengan parutan kelapa dan kecombrang. Megono ini jadi kondimen wajib. Dulu, waktu pertama saya mendengar nama “nasi megono” atau “sego megono,” saya mengira sama dengan nasi rames, nasi liwet atau sego gugeg. Ternyata, yang dimaksud adalah nasi dengan taburan megono, lalu ditambah dengan lauk-pauk lainnya.

Salah satu rumah makan legendaris di Pekalongan adalah Nasi Uwet H. Zarkasi di Jl. Sulawesi yang sudah berdiri sejak 1959. Kurang jelas apa yang dimaksud “uwet.” Ada yang menerjemahkan “uwet” sama dengan “diikat,” menjelaskan jerohan kambing yang diikat usus disemur yang menjadi andalan warung ini. Tapi pagi itu, ya pagi, saya mencoba otot dan limpa goreng. Kuah yang merembes di kepyuran megono bisa bikin merem-melek. Dibanding beberapa warung lain, di Zarkasi ini kecombrang pada megononya terasa lebih kuat.

Rejeki tak terduga juga saya dapatkan ketika berkunjung ke kerabat. Pulangnya kami melewati daerah Warung Asem yang sudah masuk Kabupaten Batang. Di tengah persawahan yang lengang, tiba-tiba ada rumah berwarna jambon yang ternyata adalah  RM Hj. Umi. Terus terang, awalnya saya underestimate terhadap tempat ini. Menunya hanya belut, ayam dan lele goreng, dengan lalapan dan sambal. Ternyata, inilah simple food at its best! Apakah suasana dan sepoi angin persawahan juga mempengaruhi?

Lumayan juga yang dilihat baby Neru dalam perjalanan mudik kali ini. Mudah-mudahan nanti dia jadi penggemar makan-makan dan jalan-jalan seperti orang tuanya.

Penjual gudeg pagi di Pekalongan.

Penjual gudeg pagi di Pekalongan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Foto oleh Trias Yunara.

 

 

2012 in review Februari 6, 2013

Posted by Dadi Krismatono in Blogroll, Uncategorized.
add a comment

This is a very useful conclusion provided by WordPress. Thank you, Wp. Wish you a great 2013. — DK.

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

600 people reached the top of Mt. Everest in 2012. This blog got about 3.600 views in 2012. If every person who reached the top of Mt. Everest viewed this blog, it would have taken 6 years to get that many views.

Click here to see the complete report.

Books of January 2013 Januari 31, 2013

Posted by Dadi Krismatono in Buku.
Tags: , , , , , ,
add a comment

Mulai tahun ini saya akan mendaftar buku yang selesai saya baca pada tiap bulannya. Untuk dokumentasi. Selain itu, belum tentu semua saya sempat membuat resensinya.

1. Bondan Winarno, JB Sumarlin: Cabe Rawit yang Lahir di Sawah, (Jakarta: Kompas, 2012).

2. Fenty Effendy, Karni Ilyas: Lahir untuk Berita, (Jakarta: Kompas, 2012).

3. David Brooks, The Social Animal: A Story of How Success Happens, (London: Short Books, 2012).

JBSumarlinCOVER   karni ilyas 2 CoverSocialAnimal

Crowne Plaza Semarang: It’s Not a Five Star Experience Desember 1, 2012

Posted by Dadi Krismatono in Perjalanan.
Tags: , , ,
add a comment

crowne-plaza-semarang_191120110858143518After making our reservation conveniently through Agoda on November 10 2012, we called the Crowne Plaza Semarang for non-smoking room and baby crib.

We arrived at the spacious and glossy lobby on November 11. We have the non-smoking floor which is excellent since we traveled with baby, but got no confirmation whether we got the baby crib or not. After some confusion, the receptionist said that we got the baby crib.

When we arrived, we found no baby crib. We have to call again and again for the baby crib. Seems it is the hotel policy that every guests’ request needs three-time repetition before getting any response.

The room is clean and spacious. The bathroom is clean. We’re happy about that.

The food was far below our expectation. We ordered noodle soup from room service and tried the buffet breakfast. All was lame.

The three-time repetition policy was applied again when we asked for the bill at check out, asking for trolley to pick up our luggage, and–even better–when we ask for taxi to take us to airport.

I don’t understand why a glossy business-looks hotel like this doesn’t have a private paid transport to airport. Guests only had choice of taxi from the adjacent mall or hotel’s free shuttle on their own schedule.

So, in general, it was not a five star experience, not a value for money, and we have no reason to come back.

“When the Headline is YOU!” November 26, 2012

Posted by Dadi Krismatono in Buku, PR.
Tags: , , , , ,
2 comments

Saya ingin berbagi tentang buku “When the Headline is YOU: An Insider’s Guide to Handling Media” by Jeff Ansell (@jeffansell) yang sangat menarik bagi praktisi PR & juru bicara. Resensi ini dirangkum dari Twit saya sebelumnya yang telah di-storify oleh IndonesiaPRPeople (@INAprpeople).

Penulisnya, Jeff Ansell adalah jurnalis kawakan yang menjadi konsultan PR, profil yang juga bisa ditemui di industri PR Indonesia. Kasus high profile yg ditangani Ansell adalah Erin Brokovich, dimana Jeff mendampingi perusahaan yang ditentang oleh Erin.

Dalam buku ini, Ansell  membahas teknik “media handling” istilah PR yang mungkin dibenci kalangan media. (Kayak cargo aja, di-handling..)   Judul “insider’s guide” seolah mau bilang, ini lho cara media bekerja dan berpikir. Ansell menjelaskan dengan tajam dalam konteks media di Amerika sehingga spokesperson dapat memahami soal angle, deadline hingga agenda setting media yang mempengaruhi suatu berita disajikan kepada pembacanya.

Sebagai panduan praktikal, kekuatan buku ini terdapat pada adanya ada satu skenario yang terus diperdalam. Mulai dari seorang spokesperson yang marah-marah karena jurnalis mencerabut pernyataan dia dari konteksnya, hingga akhirnya sang spokesperson itu menjadi makin lihai “meng-handle” media.

Buku ini  juga menyediakan beberapa messaging toolkit berbentuk lembar latihan yang bermanfaat.  Bahkan mengingatkan utk bernapas ketika bicara.

Buku ini patut direkomendasikan untuk praktisi PR & juru bicara. Selamat membaca.

Judul: When the Headline is YOU: An Insider’s Guide to Handling Media

Penulis: Jeff Ansell (bersama  Jeffrey Leeson)

Penerbit: Wiley, 2010

Reservasi Taksi Blue Bird yang Kacau Agustus 10, 2012

Posted by Dadi Krismatono in Uncategorized.
Tags: , , ,
add a comment

Gambar

Beberapa kali saya menghadapi pelayanan buruk dalam reservasi taksi Blue Bird, baik melalui telepon maupun aplikasi mobile. Sudah sampai tahap merugikan dan membahayakan.

Pada 19 Juni 2012 pukul 18.35 saya memesan taksi dengan menggunakan aplikasi mobile untuk menjemput saya di bilangan Pancoran Mas, Depok, dengan tujuan Rumah Sakit Mitra Keluarga Depok di Jl. Margonda.

Sampai lebih dari satu jam taksi tidak juga sampai ke rumah. Beberapa kali saya cek via telepon, menurut call center taksi (XD 4391) sudah menuju rumah saya. Akhirnya sekitar  jam 20.00 saya membatalkan pemesanan itu melalui telepon dengan akibat kehilangan perjanjian dengan dokter spesialis bedah vaskuler untuk perawatan anak bayi saya yang berumur lima bulan.

Keahlian dokter spesialis ini sangat spesifik dan butuh waktu lama untuk mendapatkan jadwal pertemuan dengan beliau. Kesempatan berharga itu hilang karena kecerobohan Blue Bird.

Kasus lain. Pada 16 Juli 2012 sekitar pukul 22.00, istri saya memesan taksi untuk menjemput keesokan harinya pada pukul 07.00. Karena pernah punya pengalaman buruk, sejak pukul 06.00 saya dan istri beberapa kali menelepon untuk mengecek taksi pesanan.  Ternyata pesanan itu belum tertangani.

Pada pukul 07.00, istri saya menelepon untuk konfirmasi pesanan. Karena tak mendapat jawaban, saya berangkat dengan alat transportas lain. Taksi Blue Bird datang pukul 07.40 tanpa telepon konfirmasi sebelumnya. Karena tidak jadi dipakai, pengemudi yang datang meminta biaya pembatalan Rp 10.000!

Kekacauan reservasi Blue Bird merugikan konsumen.

* Ini adalah surat pembaca saya yang dimuat di harian Kompas hari ini. Sebelumnya, keluhan ini juga sudah dimuat oleh Koran Tempo, Republika, dan harian lainnya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.